One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Lima puluh lima


__ADS_3

"Tante pulang duluan ya Niken." Imbuh Dina sambil merangkul pundak Niken.


"Iya tante, hati-hati ya." Balas Niken.


"Lain kali kita sempatkan waktu untuk liburan bersama ya." Katanya. Niken melempar senyum.


"Niken, kita duluan ya." Harun menggenggam tangan istrinya. Niken dan Hans mengangguk.


"Hans, kamu antar Niken ya. Awas hati-hati nyetirnya." Ujar Dina.


"Iya mah." Balas Hans. Haya ikut dengan kedua orangtuanya. Tinggal tersisa Hans dan Niken.


"Kau mau langsung pulang? Atau mau kemana dulu?" Tanya Hans.


"Memangnya mau kemana?" Balas Niken. Hans mengangkat kedua bahunya.


"Barangkali mau nonton." Niken menggelengkan kepala.


"Ini sudah malam. Aku bisa nonton di rumah, sambil bersandar dibahumu." Imbuh Niken sambil menggandeng tangan kekasihnya. Hans pun tersenyum.


"Baiklah. Jadi sekarang kita pulang?" Niken mengangguk yakin. Hans mengemudikan mobilnya dengan hati-hati.


"Kau mau mendengar aku mendongeng." Kata Niken. Hans menoleh sebentar.


"Mendongeng?"


"Barangkali kau mau mendengar ceritaku saat aku pergi ke mall kemarin." Imbuh Niken.


"Boleh. Ceritakanlah." Pinta Hans.


"Kau tahu, aku bertemu Tia dan Kezia. Sepertinya mereka berteman dekat. Sebenarnya aku sudah melupakan kejadian dimasa lalu. Tentang kita yang dijebak oleh Tia. Aku tidak punya masalah apapun dengan Tia. Begitupun dengan Kezia. Tapi bertemu lagi dengan Kezia membuat aku sangat khawatir. Dia bisa melakukan apapun untuk menghancurkanku. Sama seperti 10 tahun yang lalu. Sebelum aku dekat denganmu." Niken menarik nafas sebentar.


"Lalu...?"


"Emmm, Kezia mengancamku begitupun dengan Tia. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Tapi aku punya kartu AS untuk menjatuhkan Kezia. Meskipun aku tidak pernah tega untuk membongkar semuanya. Saat itu aku tidak punya pilihan selain meng-ghosting Kezia. Kami bertengkar hebat. Dan semua orang menonton pertengkaran kami. Aku tidak tahu kalau saat itu tante Dina ada di sana. Akhirnya aku pulang dan yaaaa, begitulah ceritanya." Jelas Niken mengakhiri ceritanya. Mobil terparkir di parkiran apartemen.


***


Niken mengenakan baju tidurnya, ia sudah menggunakan skincare dan bersiap untuk tidur. Tapi, kemana Hans? Niken tidak menemukan Hans di kamar. Ia berjalan menuju ruang tengah. Terlihat Hans sedang menonton film action. Niken menghampirinya.


"Hey..." Seru Hans.


"Kau belum mengantuk?" Imbuh Niken.

__ADS_1


"Kenapa? Kau sudah mengantuk?" Balas Hans. Niken menggelengkan kepala, meski sebenarnya ia sudah sangat mengantuk.


"Uhmmm, aku mau menonton film." Jawab Niken. Ia mencari film barat di bawah lemari tv. Lalu menukarnya.


Di menit ke-15 tampak pemeran utama melakukan **** dengan lawan jenisnya. Niken menelan ludah, ia salah memilih film. Ia mencari remot untuk mematikan dvd.


"Kenapa? Kau cari apa?" Tanya Hans.


"Remot." Jawab Niken pendek.


"Kenapa sih? Kan film-nya seru."  Ujar Hans.


"Enggak." Film semakin panas dan banyak adegan ****. Niken semakin cemas karena tidak menemukan remot. Ia segera mematikan televisi dengan remote ponselnya.


"Niken." Seru Hans.


"Apa?"


"Lagi seru-serunya malah dimatikan." Kata Hans berkomentar.


"Ya udah kalau kamu mau nonton, nonton aza lagi. Aku mau tidur." Balas Niken kemudian berlalu meninggalkan Hans sendirian di ruang tengah. Hans tersenyum saat Niken gugup dihadapannya. Hans juga menyusul Niken ke kamar.


"Hey, kau mau apa kesini?" Tukas Niken. Hans berbaring disamping kekasihnya. Menyelipkan rambut Niken ke belakang telinganya.


"Kau sangat cantik." Puji Hans. Niken tersenyum manis. "Terimakasih banyak untuk hari ini." Lanjut Hans.


Hans menggelengkan kepala, "aku khawatir, mama dan papa tidak akan menerimamu. Tapi aku rasa, mereka menyukaimu."


"Aku juga. Awalnya aku khawatir. Tapi orangtuamu sangat baik, jadi aku bisa melewatinya bersamamu. Hans, kau tahu, betapa aku sangat mencintaimu." Tutur Niken. Hans tersenyum penuh bahagia. Pelan-pelan Hans ******* bibir Niken. Tanpa ragu ia meraba punggung kekasihnya.


***


Dina mengundang Niken untuk makan malam di rumahnya. Sementara di kampus Niken dan Hans masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Waktu menunjukan pukul 5 sore. Niken sudah merapikan mejanya sementara Hans masih sibuk mengetik dilaptopnya.


"Hans, ini sudah sore. Ayo." Kata Niken.


"Huh? Ummm..." Hans menggaruk kepalanya.


"Kenapa? Ada masalah?"


"Kau bisa pergi sendiri? Aku masih harus menyelesaikan surat kepindahanku. Mereka menungguku mengirim file." Jawab Hans.


"Yang dari Moscow?" Tebak Niken, Hans mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan naik taksi."


"Hati-hati ya." Niken mengangguk, lalu mengecup pipi kanan Hans.


"Bye sayang." Hans tersenyum, lalu meregangkan kedua tangannya sebentar.


Sesampainya Niken di rumah orang tua Hans"Selamat sore...?" Seru Niken. Tiba-tiba matanya menangkap satu sosok perempuan yang ia kenal, Tia.


"Ehh itu Niken." Ujar Dina.


"Tante undang Niken juga?" Imbuh Tia.


"Sore tante." Sapa Niken kepada Dina. "Aku datang duluan karena Hans menyuruhku. Dia masih banyak pekerjaan di kampus." Lanjut Niken.


"Iya nggak apa-apa. Ayo masuk." Balas Dina.


"Tante sedang masak. Kalian mau bantu tante?" Dina menawarkan bantuan kepada Tia dan Niken.


"Boleh tante." Jawab Tia dan Niken bersamaan. Dina memasak masakan tradisional. Seperti rendang, opor, lalaban, puding ubi untuk makanan penutup, dan es kelapa muda yang segar.


"Tia, coba bantu tante." Seru Dina.


"Iya tante." Tia segera mengaduk-aduk rendang. Dina melihat Niken yang sedang membuat bumbu opor. Kedua tangan Niken lebih lihai dibandingkan dengan Tia. Dina sengaja mengajak Niken dan Tia makan malam bersama. Ia ingin mengenal lebih dalam keduanya. Baik Niken ataupun Tia, Dina berhak menilai mereka berdua dari segala sudut. Seperti orang tua yang lain, mereka ingin calon menantunya memiliki bibit, bebet dan bobot yang baik untuk anaknya. Dina mengamati keduanya, Tia masih gagap untuk memasak, sementara Niken lebih mengerti soal masak memasak. Benar kata Haya, Niken jauh lebih pandai memasak. Ia tidak asing mengenal peralatan dapur. Aku ingin tahu seberapa besar kedua perempuan ini mencintai dan mengenal Hans.


"Tante, bisa cobain rasanya?" Tukas Niken meminta Dina mencicipi masakannya, barangkali ada yang kurang dalam takaran garam atau gula. Dina mencicipi sedikit kuah opor buatan Niken dan rasanya lebih enak dibandingkan buatannya sendiri. Santannya tidak terlalu encer dan kental, pas sekali, dan rasanya sangat gurih.


"Uhmmm, ini enak Niken." Puji Dina.


"Sungguh?" Dina mengangguk.


"Sekarang kita buat es kelapa yuk." Ajak Dina. Niken mengangguk setuju.


"Tante, rendangnya udah matang nih." Tukas Tia sambil merangkul lengan Dina.


"Ohh gitu. Kalau gitu kamu bantuin Niken ya." Kata Dina.


"Hhmmm, tante, kepala Tia pusing. Tia duduk dulu ya." Imbuh Tia. Niken menyunggingkan bibirnya.


"Pusing? Kalau gitu minum obat dulu."


"Ehhh nggak usah tante. Tia istirahat aza." Katanya.


"Niken bisa buat sendiri sayang? Itu kayaknya papanya Hans udah pulang." Imbuh Dina. Niken mengangguk.

__ADS_1


"Heh, buat yang enak ya." Ketus Tia. Sambil berlalu meninggalkan Niken.


***


__ADS_2