One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enam puluh satu


__ADS_3

"Ini berita yang sangat baik, Niken. Aku merasa lega bahwa akhirnya kau mampu menemukan kebahagiaanmu sendiri." Ujar Tanu dengan ekspresi bahagia. Artinya ia telah berhasil membuat Niken percaya terhadap dirinya sendiri. Pada intinya, terapi dari segala gangguan kepribadian lainnya baik yang impulsif maupun yang fobia adalah tentang kembali lagi pada citra dirinya. Self image dan in be your self. Jika seseorang dapat menyelami dirinya sendiri dan berusaha untuk menyembuhkan serta menyelamatkan dirinya maka tingkat keberhasilan dari terapi mencapai 80℅. Begitu pun sebaliknya.


Niken memandang Hans. Ini semua berkat Hans. Dialah yang selalu ada disetiap aku runtuh dan terjatuh. Batin Niken. Ekspresi bahagia itu pun terpancar dari sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Pandangan Niken terhadap Hans sangat kuat dan bersinar. Begitu pun dengan Hans.


"Ini semua karena Hans." Bola matanya berputar ke arah Hans.


"Uhmmm aku sangat terharu." Mata Tanu berkaca-kaca, berempati dengan kondisi Niken saat ini.


"Terimakasih karena Tuhan telah menciptakanmu untukku." Ujar Hans sambil menggenggam tangan Niken. Pasangan yang telah Tuhan takdirkan untuk bersama, akan selalu dipertemukan kembali, bagaimana pun caranya. Batin Tanu, ketika memperhatikan dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.


"But, Niken. Kau harus ingat, tidak semua kesedihan akan berakhir dengan kesedihan pula. Begitu sebaliknya. Kehidupan akan selalu berputar seperti roda. Bahagia atau sedih, itu bagaimana kita menjalaninya. Saat kau merasa kesepian, ingatlah, itu hanya sementara. Tuhan tidak menciptakan akhir yang menyedihkan untuk semua manusia. Pada akhirnya akan memiliki cerita yang indah dengan kebahagiaannya sendiri. Termasuk kehidupanmu." Ujar Tanu dengan bijak. Bagi Niken, Tanu tak sekedar psikolog pribadinya namun juga sebagai sahabat dan kakak.


"Aku akan selalu mengingatnya. Terimakasih selalu menjadi sahabat terbaikku, Tanu. Kau tidak hanya psikolog pribadiku tapi juga sahabat." Balas Niken. Tanu memeluk Niken sebagai tanda persahabatan yang baru. Kemudian Hans dan Niken pamit untuk pulang.


"Hans, bagaimana kalau kita kerumah orangtuamu?" Usul Niken.


"Untuk apa?" Tanya Hans.


"Kita harus merayakan bersama orangtuamu." Jawab Niken.


"Ahk tidak perlu." Tukas Hans. "Kita rayakan berdua saja."


"Ohh ayolah. Aku sudah janji dengan mamamu kalau aku akan membuatkannya pasta." Ujar Niken.


"Kalau begitu baiklah." Hans setuju.


Dina mendapat pesan ancaman dari Tia. Hidup Hans ada ditanganku. Jika kau tidak memisahkan Niken dengan Hans. Akan kupastikan Hans menderita.


Dina khawatir dengan hubungan anaknya, Bagaimana kalau itu terjadi? Apa yang akan Tia lakukan? Kalau dulu saja dia mampu memisahkan Niken dengan Hans, apa sekarang hubungan mereka juga dalam bahaya? Dina dalam sebuah dilema. Tentu saja ia tidak akan setuju jika Hans berhubungan dengan Tia. Sudah sangat jelas bahwa Tia bukanlah perempuan yang baik. Dina mencoba melapor ke polisi. Tapi sebuah pesan masuk dari Tia.

__ADS_1


'Jika kau melaporkanku kepada polisi. Tidak hanya Hans yang akan menderita. Keluargamu juga akan menderita.' Begitu ancamnya. Maka semakin takutlah Dina. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia selalu bermimpi aneh. Dan memimpikan Hans tiada. Dina tidak bisa bicara kepada siapapun termasuk suaminya sendiri.


"Mah...?" Seru Hans. "Mama..."


Dina menghapus air matanya. Lalu membuka pintu kamarnya. "Hans, kaukah itu?"


"Iya mah. Hans pulang bersama Niken." Tukas Hans.


"Hai Tante...." Seru Niken menggapaikan tangan.


"Kalian...?" Dina menghampiri mereka.


"Niken kan udah janji, mau buatkan tante pasta. Kebetulan hari ini Niken bawa semua bahan-bahannya." Ujar Niken. Dina mengangguk setuju.


"Ohya, salon yang waktu itu kita kesana, itu milikmu, Niken?" Tanya Dina. Sambil membantu Niken menyiapkan bahan-bahan membuat pasta.


"Waktu itu kau memanggil pelayanmu dengan sebutan nama. Tante penasaran, lalu bertanya pada pelayanmu itu. Dia jawab, salon itu milikmu." Jawab Dina.


"Ehmmm, iya tante, Niken jadi malu." Balas Niken.


"Nggak usah malu, Niken. Itu bagus." Puji Dina. "Diusia muda memang harus punya bisnis sendiri. Tante kagum lho. Memang cocok kalau seorang pebisnis dengan pebisnis juga. Dosen dengan dosen juga." Ujar Dina.


"Maksud tante?" Tanya Niken.


"Tahu nggak? Kalau sejak kecil Hans itu suka sekali bantu tante jualan. Jualan gorengan, kue basah, sayuran, ikan, nanti dia keliling dari rumah ke rumah. Terus sejak SMA, bakat Hans udah kelihatan jadi pebisnis. Ketika ulang tahun yang ke-17, Hans minta ke papanya pengin dimodalin buat distro. Akhirnya dia yang mengelola sendiri. Sekarang distronya udah banyak dimana-mana. Dia kuliah dengan biaya sendiri, beda dengan Haya yang bisanya minta uang mulu." Imbuh Dina menceritakan Hans semasa kecil.


"Tapi Haya juga hebat tante. Tante tahu, Haya punya bakat apa?" Tanya Niken. Dina menggelengkan kepala.


"Haya tuh sukanya berpergian, Niken. Dia nggak bisa diem. Penginnya jalan-jalan terus. Kuliah di fakultas Hukum. Asal kuliah." Jawab Dina.

__ADS_1


"Haya itu pandai bicara tante." Ujar Niken.


"Nah itu. Dia memang pandai menyela dan berbicara ngawur." Balas Dina. Niken menggelengkan kepala.


"Karena bakatnya itulah tante. Haya punya tujuan menjadi seorang jaksa." Jawab Niken. Dina menoleh. Dan Niken tersenyum sambil mengangguk. Niken menghidangkan pasta dipiring.


"Silahkan dicoba tante."


"Ugghh sepertinya enak." Tukas Dina. Dan benar saja. Masakan Niken sangat enak. Dina memandang Niken, lalu entah kenapa Dina memeluk Niken.


"Kalau suatu hari nanti, tante membuat hatimu terluka. Tolong maafkan tante ya, Niken." Bisik Dina ke telinga Niken. Niken pun mengangguk. Tante sebetulnya sangat setuju dengan hubungan kalian. Tante juga menyukaimu, Niken. Tapi entah bagaimana, tante khawatir dengan kalian. Tante tidak tahu apa yang akan Tia lakukan untuk kalian. Tante tahu, semua ini akan terasa sulit. Jika harus berpisah dulu sebentar. Maka biarkan berpisahlah dulu. Nanti, tante yakin kalian akan bersama kembali. Batin Dina.


Haya dan Harun datang bersamaan. Mereka menyantap pasta buatan Niken. Setelah makan malam selesai, Niken nge-make up-in Dina dan Haya. Dan mereka bertiga membuat video serta foto bersama dengan fashion yang modern.


"Niken, menginap saja disini ya." Kata Dina.


"Niken mau sih tante. Tapi lain kali aza deh. Besok ada jadwal ngajar, tante." Balas Niken.


"Yaaa... Ya udah lain kali ya."


"Mah, pah, Hans pulang ya." Hans pamit kepada mama dan papanya. Dina dan Harun mengangguk.


"Hati-hati ya sayang." Dina memiliki perasaan yang buruk. Awalnya Dina ingin mencegah anaknya untuk pulang ke apartemennya. Karena takut terjadi sesuatu. Tapi Dina juga harus percaya bahwa Hans dan Niken akan baik-baik saja.


"Kau bahagia?" Tanya Hans sambil menyetir mobilnya. Niken mengangguk.


"Hans, kita nggak usah lewat jalur yang biasa ya. Aku mau beli sesuatu dulu ke pasar." Ujar Niken. Hans mengangguk setuju. Niken beli beberapa sayuran dan buah-buahan untuk persediaannya.


***

__ADS_1


__ADS_2