
Hari itu mentari bersinar hangat, Nadine sibuk menghias kamar pengantin dengan beberapa orang yang ia kenal. Sementara Ria menemani ibu-ibu pengajian. Pukul 1.00 siang itu, Ria sudah merencanakan untuk mengadakan pengajian sebelum dilanjutkan dengan siraman (adat jawa sebelum menikah). Naira, Naina, Elsa dan Via baru saja sampai dirumah orangtua Niken, setelah acara pengajian.
"Niken...?" Seru mereka. Niken menggapaikan tangannya, sembari tersenyum cerah.
Suara gamelan mulai berbunyi, acara berikutnya siraman. Niken sudah siap untuk disiram dengan air yang sudah dicampur bunga tujuh rupa. Semua keluarga termasuk ke-4 sahabatnya ikut menyiram rambut Niken. Setelah acara selesai. Niken mandi dan duduk santai bersama sahabat-sahabatnya.
"Jadi, bagaimana ceritanya kau yakin kalau Hans adalah pasangan hidupmu?" Tanya Naira sambil membawa nampan yang berisi makanan.
"Dan setelah keluar dari apartemenku apa yang kau lakukan dengan Hans disatu hotel yang sama?" Elsa menambahkan. Via dan Naina menatap menyelidik.
"Ihhh kalian kenapa sih ingin tahu saja." Ketus Niken.
"Niken... Tell your story to us." Ujar Via.
"Uhmmm, well. Saat aku ke Seoul, aku bertemu dengan Hans. Tidak disengaja, dia tetangga baruku, lalu dia juga Professor baru di kampus tempat aku bekerja. Awalnya biasa aza, tapi seperti yang kalian tahu. Hans yang dulu dan Hans yang sekarang masih sama. Selalu mengejarku dan tak pernah berhenti membuatku kesal. Awalnya aku tidak berpikir aku mencintai dia. Tapi setelah therapi-ku selesai, aku merasakan apa yang pernah kalian rasakan saat sekolah dulu. Naksir, kangen, cemburu, kadang bad mood, dan semua itu terjadi begitu saja. Miss Tanu membantuku keluar dari perasaan takutku. Sehingga, entah bagaimana aku merasa bahwa hanya Hans satu-satunya yang bisa meyakinkanku tentang cinta itu. Karena hanya dia, yang sejak dulu selalu mengejarku. Dan mungkin dia satu-satunya takdir untukku." Jelas Niken.
"Uhmmm, the beautiful story Niken. Finally, kau menemukan belahan jiwamu sendiri." Balas Naira.
"Berkat kalian juga." Kata Niken.
"Sahabat untuk selamanya." Tukas Naina.
"Ohya, aku juga mau bilang, makasih ya, udah banyak bantu Arfand waktu itu." Ujar Via.
"Iya Via."
"Kita udah banyak melewati rintangan. Masa lalu yang sangat berat untuk kita. Via yang membuat kita sangat khawatir, nggak nyangka, Via bisa melewatinya dengan caranya sendiri. Naina yang entah bagaimana kisah percintaannya selalu rumit. Danar lagi Danar lagi yang selalu dia bahas setiap waktu, padahal sudah jelas Danar itu bukan orang yang baik untuk dia. Elsa, yang kita pikir semua perjalanannya mulus seperti jalan tol. Pacar punya, keluarga harmonis, dan yang kita pikir dia duluan yang bakalan lanjut S2 keluar negeri. Tapi, Elsa harus kerja, banting tulang, dan mengenyampingkan studi S2-nya, harus putus sama pacarnya dan menikah dengan lelaki yang tidak dia cintai. Pergi ke Australia untuk waktu yang lama. Tapi akhirnya dia menemukan semua jawaban misterinya. Niken yang seorang philofobia, hubungannya dengan Hans harus jatuh bangun karena berbagai peristiwa. Tapi akhirnya Niken menemukan kembali jalan tujuannya." Jelas Naira.
"Dan Naira yang gagal menikah, gagal berhubungan dengan cinta pertamanya, dan mengalami amnesia retrograde lalu melupakan seseorang yang paling berharga untuknya. Tapi akhirnya, dia menemukan kembali cintanya. Belahan jiwanya." Tambah Niken.
Mereka berlima saling berpelukan. Semua kisah kasih, mereka curahkan bersama. Niken sangat bahagia memiliki sahabat seperti mereka. Merekalah 5 matahari yang saling memeluk erat dunia.
...***...
"Kak Hans... Kak Niken...." Seru Haya sambil mengetuk pintu sebuah rumah. "Ihhh mana sih. Koq nggak dibuka pintunya." Haya mengotak atik ponselnya untuk memanggil kakaknya.
"Haya..." Sebuah suara menyerunya, lalu pintu dibuka oleh Niken.
"Lama banget sih kak." Ketus Haya.
"Iya maaf Haya, kakak tadi lagi didapur. Yuk masuk." Kata Niken. Haya masuk ke rumah pengantin baru.
"Kakak masak apa?" Tanya Haya.
"Lagi masak opor ayam. Haya mau?" Jawab Niken.
__ADS_1
"Wahhh. Kelihatannya enak. Mau kak. Kebetulan Haya belum makan." Imbuh Haya.
"Kalau Haya mau makan duluan, makan aza ya. Kakak mau bangunin kakakmu dulu." Niken berlalu meninggalkan Haya di dapur. Niken masuk ke dalam kamar, membangunkan suaminya.
"Sayang, bangun dong. Udah siang nih. Aku udah buatin sarapan untuk suamiku tercinta." Bisik Niken membangunkan Hans.
"Uhmmm, masih ngantuk." Balas Hans.
"Ayo dong sayang. Bangun..."
"Kalau aku bangun, nanti aku minta itu lagi ya." Tukas Hans, matanya masih tertutup rapat.
"Itu lagi apa?" Tanya Niken pura-pura tidak tahu. Hans membuka mata, lalu menarik lengan Niken hingga ia terjatuh dibawah tubuhnya.
"Aku mau lagi. Aku tidak tahan." Ujar Hans.
"Hans, adikmu ada disini." Kata Niken.
"Haya?" Niken menganggukkan kepala. "Ahk, dia selalu mengganggu kita." Lanjutnya. Hans beranjak bangun, lalu mengenakan t-shirtnya.
"Selamat pagi kakakku." Seru Haya menyapa.
"Haya, kau tidak punya tempat lain apa selain datang kemari meminta sarapan kepadaku." Gerutu Hans. Niken menepuk pundak Hans.
"Emang kenapa kak?" Tanya Haya sambil mengunyah makanannya.
"Aku nggak gangguin kakak tidur. Aku kesini karena kakak iparku yang menyuruh. Katanya daripada aku boros beli makanan dari luar. Lebih baik sarapan disini saja. Kebetulan deket sama kostan aku kan." Ujar Haya.
"Wahhh, kau ini. Setidaknya kau mengerti keadaan dong Haya. Ini hari minggu. Kau tidak bisa datang dan pergi seenaknya." Balas Hans.
"Memangnya kenapa kalau hari minggu?" Tanya Haya lugu. Hans menghembuskan nafas dengan panjang. Setelah selesai mengupas buah apel dan pir, Niken duduk disamping Hans.
"Ahk kau ini." Hans kecewa karena adiknya tidak mengerti maksudnya. "Kau tanya Adit kekasihmu itu deh." Lanjut Hans.
"Apa hubungannya dengan Adit?" Haya mengunyah makanannya. "Ahk, aku punya ide, bagaimana kalau aku pindah ke rumah ini. Biar aku tidak ngekost lagi. Kan sayang uang papa dan mama." Usul Haya sendiri. Niken menelan ludah begitu pun dengan Hans.
"Ahk tidak tidak tidak. Kau tidak boleh pindah ke rumah ini. Kalau gitu, biar aku yang bayarin uang kost-mu. Sekarang cepat pulang." Usir Hans.
"Ihhh kenapa harus buru-buru? Aku kan mau bikin kue bareng kak Niken." Balas Haya. Hans menepuk jidat.
"Ini ide siapa?" Tanya Hans.
"Aku." Tunjuk Haya pada dirinya sendiri. Jelas Hans tidak setuju dengan keputusan Haya. Hari ini Hans hanya ingin berduaan dengan istrinya. Menikmati masa-masa pengantin baru.
"Tidak bisa. Setelah makan, kau harus pulang." Ujar Hans.
__ADS_1
"Ehhh kenapa? Orang aku mau treatment bareng kak Niken koq." Balas Haya. Hans menyipitkan matanya ke arah Niken.
"Uhmmm ya udah, Haya habiskan makanannya. Nanti kakak bilang ke pelayan kakak di salon biar melayani kamu dengan baik. Haya sendiri aza ya? Nggak apa-apa? Atau kamu boleh ajak teman kamu." Jelas Niken. Haya mengangguk setuju.
"Serius kak?" Tanya Haya tak percaya. Niken mengangguk meyakinkan. "Wahhh terimakasih kakak ipar. Kak Niken lebih baik dari pada kakakku sendiri." Cibir Haya. Hans meledek adiknya dengan menirukan gaya Haya yang khas.
Setelah Haya pamit pergi, Hans menggendong Niken ke kamar. Alih-alih ingin menikmati masa berdua, Niken mendapatkan panggilan masuk dari ibunya. Akhirnya selama 2 jam, Hans cemberut dan menggerutu.
"Ngomongin apaan sih? Lama banget." Tukas Hans.
Niken tersenyum tipis, "uhmmm, ada deh. Rahasia." Balas Niken.
Hans mendekat lalu mengecup bibir Niken. "Sekarang, tidak ada lagi yang mengganggu kita." Kata Hans sambil mencium leher istrinya. Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi. Hans mulai mengeluh lagi.
"Siapa lagi sekarang?" Gerutu Hans dengan geram. Lalu ia membuka pintu, Dina dan Harun membawa sebuah cake spesial untuk Hans dan Niken.
"Surprise sayang mama." Imbuh Dina sambil mencium pipi anaknya.
"Mama." Seru Niken.
"Hai Niken. Gimana, betah sayang?" Tukas Dina, Niken mengangguk. "Nih, mama bawain cake buat kalian. Spesial untuk anak dan menantu mama. Biar bisa cepat kasih mama cucu." Lanjut Dina.
"Karena mama dan papa kesini kita nggak jadi bikin cucunya." Ujar Hans. Niken memukul lengan Hans dengan pelan. Sementara Dina dan Harun tertawa.
"Jangan didenger mah. Yuk masuk." Sambut Niken. Hans menghela nafas, ia semakin jengkel karena sudah hampir jam 7 malam kedua orangtuanya belum ada niat untuk pulang. Setelah makan malam selesai, Dina dan Harun pamit pulang.
"Yuk." Ajak Hans.
"Kemana?" Tanya Niken.
"Melanjutkan permainan kita." Jawabnya.
"Permainan apa?"
"Oh ayolah Niken. Kau tidak bisa membuatku kehausan begini." Katanya. Niken mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum lebar.
"Kalau haus, minum dong."
"Arrrgggghhh." Geram Hans. Lalu menarik lengan Niken ke kamarnya.
"Ehhh tunggu."
"Apalagi?"
"Aku belum pakai skincare. Tunggu ya." Katanya sambil berlalu membersihkan wajahnya.
__ADS_1
"Hadeeehhh, besok sudah hari senin sayang. Kita tidak bisa melakukannya sampai 10 ronde sekaligus malam ini. Haaahhhhh. Banyak sekali gangguannya." Gerutu Hans. Niken acuh tak acuh kepada suaminya itu.
...***...