One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Dua puluh empat


__ADS_3

Acara tahunan loka karya kampus akan dilaksanakan beberapa hari lagi.  Acara akan dilaksanakan di puncak Bogor selama 2 malam. Seluruh dosen wajib mengikuti. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan etos kerja dan semangat produktivitas kerja seluruh dosen dan karyawan. Banyak lagi manfaat yang dapat diperoleh oleh seluruh dosen dan karyawan termasuk mempererat tali silaturahmi. Kali ini Niken sangat antusias sekali mengikuti loka karya. Karena baru kali ini ia tidak dilibatkan dalam kepanitian. Salah satu impian Niken yang ingin sekali mengikuti beberapa perlombaan.


"Bu Niken...?" Rina menyeru. Langkah Niken terhenti saat melihat mahasiswa bimbingannya.


"Ohhh hai Rina. What's wrong?" Balas Niken.


"Ibu ada waktu?" Ucap Rina.


"Ya, ada apa?"


"Begini bu. Saya kan udah menyelesaikan bab 3 saya. Nah, kemarin bab 3 saya sudah di acc sama pak Hans. Jadi saya mau bimbingan bab 3 sama ibu." Jelas Rina sambil menyerahkan proposal skripsinya.


"Coba saya lihat dulu." Niken membuka lembaran proposal bab 3 milik Rina. Agak lama. Ia meneliti satu persatu kata yang ditulis oleh mahasiswi bimbingannya.


"Nah, ini hipotesanya kamu perbaiki kalimatnya. Seperti ini." Niken menuliskan beberapa hal yang harus Rina revisi. Niken mendengar suara Hans di arah yang berlainan namun tak jauh dari posisinya saat ini. Ia menoleh, punggung Hans terlihat dari belakang. Niken segera menandatangani dan acc bab 3 proposal skripsi milik Rina.


"Ini. Emmm ini. Nanti kita ketemu di seminar proposal ya, Rina." Ujar Niken terburu-buru. Rina mengangguk. Betapa bahagianya mereka jika kedua dosen pembimbingnya itu kompak tanpa ada pertengkaran lagi.


"Bu, kita juga mau bimbingan, biar bisa seminar proposal." Kata yang lainnya.


"Nanti ya jam 1. Saya mau makan siang dulu." Balas Niken. Mahasiswa bimbingannya mengangguk penuh semangat.


"Hans...?" Seru Niken "Hans...?"


Hans menoleh ke belakang, "Ohh hai sayangku..." Katanya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kau mau ikut loka karya ke Bogor?" Tanya Niken.


"Of course. Kenapa? Aku tahu kau akan merindukanku jika aku tidak ikut. Dan aku tidak akan membiarkanmu kecewa." Balas Hans, sambil merangkul pundak Niken.


"Turunkan tanganmu!" Perintah Niken.


"Why? Kau tidak suka? kau kan tahu, aku tidak suka penolakan." Kata Hans.


"Apaan sih." Balas Niken sembari tersenyum.


"Aku tidak peduli." Hans masih merangkul pundak Niken.


"Stop it Hans." Ucap Niken.


"Niken, Hans?" Seru Amir. Mereka berdua menoleh secara bersamaan.


"Niken, kau tahu kemana Bella?" Tanya Amir.


"Bella?" Kata Niken. "Aku tidak tahu. Mungkin diruangannya." Lanjutnya.


"Aku tahu mengapa kau menanyai Bella." Kata Hans dengan mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa?" Tanya Niken melirik Hans.


"Karena..."


"Hans, ssst..." Sergah Amir.


"Emmm coba saja ke ruangannya." Balas Niken.


"Amir..." Ledek Hans.


"Hans jangan buka kartu lu. Awas aja ya." Ancam Amir.


"Ettss tenang aja. Aman koq." Balas Hans.


"Emangnya ada apa sih?" Niken menyipitkan matanya penasaran.


"Enggak, nggak apa-apa. Ehh kalian ikut loka karya ke Puncak kan?" Tanya Amir mengalihkan pertanyaan Hans.

__ADS_1


"Tentu saja, kita akan ikut. Kita ini sepasang pemuja cinta." Tukas Hans.


"Hans, don't touch me. Turunkan tanganmu." Kata Niken.


"Gue curiga. Jangan-jangan elu Hans yang..." Selidik Amir.


"Apa?" Kata Niken.


"Yes, you right. She is be my wife." Balas Hans. Niken mengernyitkan dahinya lalu menggelengkan kepalanya.


"What are you said?" Kata Niken.


"Hans, Niken, gue duluan ya." Ujar Amir. Niken menganggukkan kepalanya. Hans kembali merangkul pundak Niken.


"Turunkan tanganmu." Kata Niken.


"No way." Balas Hans. Niken menurunkan tangan Hans dari pundaknya. Tapi lagi-lagi Hans merangkulnya. Ia tidak akan berhenti sampai bosan.


"Hans, are you kidding me?"


"No, aku sedang berusaha membuatmu jatuh cinta kepadaku. Seperti yang aku janjikan waktu itu." Balas Hans. Niken menelan ludah. Menatap Hans dengan perasaan aneh yang menyelimuti dirinya.


"Why you promise your self? Bagaimana kalau kita tidak berjodoh dan tidak ditakdirkan untuk bersama." Tukas Niken.


Hans menggelengkan kepalanya. Dengan yakin bahwa ia akan berusaha membuat Niken jatuh cinta kepadanya.


"Aku akan memaksanya kepada Tuhan. I believe, God will make us together." Balas Hans. Niken menghembuskan nafasnya.


"I have to go." Niken berlalu meninggalkan Hans.


***


Seluruh dosen dan karyawan sudah bersiap di dalam bus. Niken duduk satu kursi dengan Bella. Sementara Hans duduk satu kursi dengan Amir. Bersebelahan dengan kursi Niken.


"Niken look...?" Kata Bella sambil menunjukkan sesuatu. Niken tersenyum.


"Ohya? Keren banget kan kalau kita ke sana?" Tukas Bella.


"Ini salah satu tempat romantis di Qualia resort, Hamilton Island. Pengin banget ke sana." Imbuh Niken.


"Me too."


"Tempat honeymoon my dream."


"Sejak kapan?"


"Sejak aku sering baca salah satu blogger yang menjajaki semua destinasi honeymoon. Keren banget." Balas Niken. Bella mengatur posisinya dan tak disangka Bella menemukan sepasang mata yang memandangi ke satu arah. Yaitu satu wajah cantik di sampingnya, Niken.


Setibanya di puncak. Seluruh peserta loka karya termasuk Niken dan Hans turun dari bis. Dan sangat antusias dengan seluruh kegiatan. Lalu mereka merapikan barang-barang dikamar masing-masing.


"Niken...?" Seru Bella.


"Yak?" Balas Niken, yang sedang asyik membaca buku. Lalu menoleh sebentar kearah Bella.


"Lu pacaran ya sama Hans?" Kata Bella. Niken mengernyitkan dahinya, lalu menutup bukunya. Ia menghela nafas.


"Pacaran? Pacaran sama siapa?" Balas Niken.


"Tuh...?" Bella menunjuk Hans yang sejak tadi memperhatikan Niken dari kejauhan. Seakan tatapannya itu berbicara bahwa betapa ia sangat mencintai Niken.


"Ohhh dia." Kata Niken. "Dia memang selalu begitu." Bella mengernyitkan dahinya.


"Apa kau tidak menyukainya?" Ujar Bella.


"Aku naksir sama Hans. Hhaha itu tidak mungkin." Balas Niken dengan yakin.

__ADS_1


"Benarkah?" Selidik Bella.


"Kau tidak percaya padaku?" Bella menggelengkan kepala.


"Hans itu bukan tipeku." Tukas Niken.


"Sungguh?" Bella terus menyelidik.


Niken mengangguk yakin untuk membuat Bella percaya bahwa ia tidak menyukai Hans. "Iya, aku tidak menyukai Hans. Dia bukan tipeku." Balas Niken.


"Tapi aku rasa kau juga menyukainya." Bella menyunggingkan bibirnya. Niken menyipitkan matanya. "Ini bukan kali pertama Hans menatap kau seperti itu. Juga bukan kali pertama aku memergoki kalian sedang bermesraan." Lanjut Bella.


Niken menelan ludah. Lalu menghembuskan nafasnya.


"Bella kau salah paham." Kata Niken.


"Salah paham apa? Sudah jelas-jelas mata kalian itu saling memancarkan cinta." Ketus Bella.


Niken mengerjapkan kedua matanya. "No Bella. I don't love him."


"I can't believe it." Ucap Bella.


"You know me, Bella. It's true, okay."


"Jangan menyangkal Niken."


"No..."


"Yes."


"No."


"Yes." Kata Bella keukeuh. "want to be challenged? Lanjut Bella dengan tersenyum.


Niken mengernyitkan dahinya, "what challenge?"


"Look into Hans' eyes for as long as you can, agree?" Ucap Bella.


"What? Kau gila. Untuk apa sih? Nggak penting tahu nggak." Ujar Niken.


"Buat memastikan saja." Ketus Bella.


"Memastikan apa?"


"Memastikan kalau you love him." Ujar Bella.


"Ide gila. Konyol tahu nggak." Imbuh Niken.


"Kenapa? Kau tidak berani? Well, sudah kuduga, you love him." Simpul Bella.


"No, shut up Bella." Niken terus menyangkal perasaannya sendiri.


"So...?"


"Bel, believe me, he is a playboy and he's not my type." Jelas Niken.


"Show me now." Kata Bella.


Niken menahan nafasnya. Sangat sulit sekali menjelaskannya kepada Bella.


"Fine. I'm agree." Kata Niken akhirnya. "Setelah itu kau mau apa?" Lanjut Niken.


"Niken, kau mungkin bisa berbohong kepadaku. Tapi kau tidak bisa membohongi diri sendiri. Aku ingin lihat, bagaimana tatapanmu kepada Hans. Karena aku yakin kau juga mencintainya." Niken menghembuskan nafas.


"Baiklah. Aku akan mengajak Hans bertemu malam ini. Aku akan menciumnya dan memastikan bahwa tidak ada cinta didalam hatiku untuk dia " Jelas Niken kemudian pergi meninggalkan Bella.

__ADS_1


***


__ADS_2