One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Delapan puluh lima


__ADS_3

Niken mulai menyukai Hans, saat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Menonton bioskop, pergi ke perpustakaan, jalan-jalan ke toko buku, jalan-jalan ke ancol dan dufan, ke taman mini, dan sekedar menikmati senja di central park, Jakarta.


"Ice cream untuk putri Niken." Kata Hans. Niken mengambil ice cream yang disodorkan oleh Hans.


"Thanks."


"Your welcome, princess."


"Untukmu." Niken memberikan sebuah kotak kecil untuk Hans.


"Apa ini?" Tanya Hans.


"Uhmmm, resep omelet." Jawab Niken. Hans membukanya dan benar saja, Niken menuliskan resep omelet untuk Hans.


"Ada-ada saja." Ketus Hans.


"Coba saja. Aku sering buatkan omelet untuk teman-temanku. Mereka bilang, omelet buatanku enak. Dan dengan senang hati aku memberikan resep omelet ini untukmu. Nanti, aku ingin mencicipi omelet buatanmu." Tutur Niken.


"Hhahaha. Baiklah, baiklah." Hans sangat bahagia jika bersama Niken. Banyak hal baru yang Niken tunjukan kepadanya, sehingga Hans semakin tertarik untuk mengenal Niken lebih jauh. Hans tahu kalau Niken tidak percaya pada cinta.


"Kamu serius nggak percaya pada cinta?" Tanya Hans saat mereka berjalan dibibir pantai


"Kenapa sih nanya itu terus?" Balas Niken.


"Ya enggak, aku penasaran aza gitu, apa selama beberapa minggu terakhir ini kamu nggak suka sama aku?" Ujar Hans.


"Aku suka. Tapi bukan berarti cinta kan." Balas Niken.


"Nah ini masalahnya. Aku ini kan tampan, cerdas, kaya dan sempurna. Tidak ada seorang perempuan yang tidak tertarik kepadaku." Imbuh Hans sambil mengangkat bahu.


"Hemmmh, narsis." Ketus Niken.


"Lho iya. Hampir semua perempuan tertarik dengan ketampananku." Katanya.


"Terus."


"Cuma kamu yang tidak tertarik padaku."


"Aku tertarik. Tapi untuk menjalin hubungan denganmu, aku mikir 2 kali." Tukas Niken.


"Kenapa?"


"Hans, kau pernah mendengar, arti sesungguhnya cinta?" Tanya Niken.


"Memberi dan menerima." Jawab Hans.


"Not bad, tapi kau tidak akan menemukan makna cinta saat kau sedang jatuh cinta, atau saat kau sedang patah hati. Cinta itu apa? Bagaimana? Seperti apa? Kapan dia datang? Dan apa maknanya? Aku enggak tahu. Aku nggak percaya cinta pada pandangan pertama. Atau cinta sejati. Atau.... Apa ya?" Niken berpikir sejenak. "Ya semacam itulah. Aku menganggap cinta itu sebuah ilusi. Uhmmm, semuanya terlihat bohong. Termasuk rayuan kamu." Lanjut Niken.


Hans menyilangkan kedua tangannya ke dada. "Tunggu." Sergah Hans. Niken menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


"Jadi selama ini, kamu anggap aku pembohong gitu?" Kata Hans.


"Uhmmm yang tahu bohong atau enggaknya itu kamu sendiri. Aku nggak bilang semua kata-katamu itu bohong. Tapi sesekali, saat kau merayuku, aku tahu itu bohong." Jelas Niken.


"Kalau begitu, seperti apa tipe calon suamimu dimasa depan?" Tanya Hans.


"Koq nanyanya kayak gitu."


"Iya dong. Setiap perempuan pasti punya tipe lelaki idaman, bukan. Dan aku ingin tahu." Tukas Hans.


"Seperti almarhum kakekku. Beliau menjadikan nenekku sebagai bidadari didunia dan diakhirat. Semua diawali dengan ketulusan. Begitulah kata kakekku." Jelas Niken. Hans memandang Niken dengan takjub. Tidak ada perempuan yang sama seperti Niken. Dia satu untuk lelaki yang menjadi jodohnya nanti. Dan Hans mulai mencintainya dengan tulus. Selama beberapa bulan terakhir ini, Hans mulai merasakan bagaimana cinta mulai bermekaran dihatinya, begitu pun dengan hati Niken yang lambat laun memberikan percikan yang indah. Namun kebahagiaan itu hanya sementara, dan hubungan yang seharusnya menjadi awal yang indah, berakhir dalam sebuah kesalahpahaman.

__ADS_1


Layar langit berganti kembali, Niken melihat dirinya terbaring di rumah sakit. Dan melihat Hans duduk disampingnya, menggenggam tangannya dan mencium punggung tangannya.


"Pulang lha, nak. Khasian nak Hans." Ujar Reno.


"Ayah tidak apa-apa?" Tanya Niken. Reno menggelengkan kepala.


"Bukan saatnya kau ada disini. Kebahagiaan sedang menantimu, nak." Jawab Reno.


"Jika ada satu bintang yang paling bersinar terang dimusim panas ini, maka akan aku petik untukmu. Aku simpan dihatimu. Untuk kau peluk cintaku selamanya. Aku mencintaimu, dulu, kini dan nanti." Suara lirih itu terdengar jelas ditelinga Niken. Jiwanya seakan tertarik ke sebuah cahaya yang sangat terang. Niken menutup mata rapat-rapat. Saat cahaya silau itu memudar, Niken membuka matanya perlahan-lahan. Ia menggerakan tangannya.


"Niken...? Kau sudah bangun. Tante, Niken sudah bangun." Hans berseru bahagia.


***


Niken masih dalam keadaan koma. 10 jam setelah dokter mengatakan bahwa Niken koma, Tanu datang ke rumah sakit. "Bagaimana keadaan Niken?" Tanya Tanu.


"Dia koma, Tanu." Jawab Hans lemah.


Tanu menceritakan kepada keluarga Hans dan Niken, bahwa sebelum kecelakaan terjadi, Niken sempat menelpon dia.


"Miss Tanu..." Ucap Niken. "Tolong aku. Aku mohon bantu aku. Hans sedang dalam bahaya."


"Ada apa Niken? Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Tanu, terkejut ketika mendengar suara Niken yang bergetar.


"Kezia. Kau tahu dia bukan? Kezia pasienmu. Dia mengancamku. Dia merencanakan sesuatu. Aku mohon, jika terjadi sesuatu padaku. Aku mohon bantuanmu." Ujar Niken.


"Apa yang bisa aku bantu Niken?" Tanya Tanu.


"Aku akan mengirimkan sebuah video padamu. Aku pikir ini satu-satunya cara untuk mengungkap kejahatan Kezia selama ini. Tolong bantu aku." Niken memiliki rencana untuk mengungkap kejahatan Kezia. Dimulai dari video porno yang akan ia unggah ke media. Lalu mengungkap bahwa dia seorang pekerja **** komersil, penderita HIV AIDS, dan sengaja menularkannya kepada beberapa kaum lelaki. Hans ingat bahwa Bella juga sempat merekam pengancaman Kezia terhadap Niken. Itu akan memudahkan Kezia terjerat dalam jeruji besi. Laporan Hans dan Tanu diterima lengkap oleh pihak kepolisian. Tidak lama setelah pengajuan tersebut, Kezia berhasil dibekuk polisi disalah satu hotel bintang 7 di Jakarta Selatan. Keputusan hakim telah resmi menghukum Kezia selama 10 tahun. Kezia dan Tia berada dalam satu tahanan yang sama. Kini tidak ada lagi yang mampu menghalangi kebahagiaan Hans dan Niken. Namun sampai sekarang, Niken belum bangun dari komanya.


"Pagi..." Seru Hans.


"Kau sudah datang, Hans?" Balas Nadine.


"Iya kak. Biar Hans yang jagain Niken. Kalian bisa istirahat dulu." Tukas Hans. Nadine mengangguk.


"Kalau tidak salah, 170910 kak." Jawab Hans. Nadine mengernyitkan dahinya.


"Tanggal apa itu?" Tanya Nadine.


Hans menggelengkan kepala, pura-pura tidak tahu.


"Uhmmm waktu itu Niken pernah mengatakannya kepadaku." Jawab Hans.


"Baiklah." Nadine, Dimas dan Ria pulang ke apartemen Niken. Membersihkan diri dan makan terlebih dahulu, terkadang tidur sejenak. Dan Hans dengan senang hati menunggu kekasihnya dirumah sakit.


"Kau ingat, bahwa kita pernah berjanji untuk menikah? Uhmmm, ini foto kita waktu kita masih kecil. Aku adalah Raj. Pengantin kecilmu. Bangunlah, setelah itu kita akan menikah." Tutur Hans bercerita.


Terkadang Hans juga bercerita kisah putri cinderella dan snow white, atau bercerita panjang lebar tentang pertemuan mereka. Tapi hari itu Hans berujar, "Jika ada satu bintang yang paling bersinar teranga dimusim panas ini, maka akan aku petik untukmu. Aku simpan dihatimu. Untuk kau peluk cintaku selamanya. Aku mencintaimu, dulu, kini dan nanti."


10 menit kemudian, Hans merasakan tangan Niken bergerak. Pelan-pelan mata Niken terbuka. Hans pun memanggil Ria dan Nadine serta dokter untuk memeriksa keadaan Niken.


"Ini sebuah keajaiban. Keadaan Niken membaik. Tapi kita perlu melihat beberapa hari lagi. Kita harus ct scan dulu, dan melihat kondisi fisik Niken selanjutnya. Jika tidak ada masalah, maka Niken bisa pulang." Ujar dokter. Keluarga Niken dan Hans pun akhirnya lega ketika mendengar penjelasan dokter.


"Apa yang kau mimpikan saat koma selama 21 hari?" Tanya Hans.


"Aku mimpi yang indah." Jawab Niken.


"Apa?" Hans sangat penasaran lalu mendekatkan wajahnya.


"Kau tidak perlu tahu." Balas Niken.


"Apa aku ada didalam mimpimu?"

__ADS_1


Niken menggelengkan kepala.


"Didalam mimpiku banyak sekali impian yang harus aku capai." Ujarnya.


Hans menyuapi Niken makan, sambil menggoda kekasihnya itu.


"Kezia sudah ditangkap dan dipenjara." Ujar Hans. Niken mengusap bibirnya.


"Kapan?" Tanya Niken.


"Saat kamu koma." Jawab Hans. Niken terdiam. "Tidak perlu khawatir. Semuanya sudah selesai." Lanjut Hans.


"Aku ingin segera menikah." Imbuh Niken. Hans terkejut mendengarnya, namun ia sangat bahagia.


"Mau kapan? Besok? Ayo." Balas Hans.


"Hans... Aku serius." Niken memukul lengan kekasihnya.


"Aku juga serius." Niken merebut piring dan sendok, lalu disimpan disampingnya.


"Kau tidak mau makan? Okey baiklah. Terserah kau saja." Ketus Hans. Niken menunjuk Hans. "Apa?"


"Kemarilah." Pinta Niken. Hans mendekat, tiba-tiba Niken memeluknya.


"Ehhh ada apa ini? Kau belum sehat, tidak boleh peluk-peluk orang." Tukas Hans bercanda.


"Aku tidak peduli. Aku mencintaimu, sangat sangat dan sangat mencintaimu." Aku Niken. Hans tersenyum bahagia, lalu membelai rambut Niken dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu." Balas Hans. Niken mendongak.


"Kiss me please..." Pinta Niken. Hans mengusap dahi Niken.


"Jangan dulu."


"Aaaahhhh..." Rengek Niken. Kemudian Hans memeluknya kembali. Suara pintu dibuka seseorang.


"Ciyeee ciyeeee pelukan." Seru Haya tiba-tiba. Niken masih memeluk kekasihnya. Ria dan Dina kemudian masuk mengikuti Haya.


"Ehhh ehh ehhhh... Pemandangan apa ini?" Tanya Ria.


"Biasa tante, lagi manja." Jawab Hans.


"Tenang Niken, Hans nggak bakalan diculik orang lain." Balas Dina.


"Dia milikku. Hanya aku seorang." Tukas Niken masih sambil memeluk Hans.


"Kayaknya tanggal pernikahannya harus segera dipercepat deh, Mah." Kata Haya.


"Minggu depan. Aku mau minggu depan untuk akad nikah." Niken berujar. Ria dan Dina saling berpandangan.


"Kamu serius, Ken?" Tanya Ria. Niken mengangguk yakin.


"Kamu mimpi apa sih selama koma? Aneh banget tahu." Hans melepaskan pelukan Niken, lalu memotong apel kecil-kecil.


"Aku mimpi hamil. Dan aku ingin cepet punya anak, kayak Naira, Naina, Elsa dan Via." Jawab Niken.


Ria dan Dina tertawa, termasuk Hans sendiri.


"Ohya kak. Waktu aku beresin lemari kakak, aku nemuin gaun sobek gitu. Punya siapa ya? Aneh gitu." Kata Haya sambil menggaruk kepalanya. Bagaikan disambar petir, Niken menelan ludah. Begitu pun dengan Hans yang melirik Niken.


"Ohhh itu. Tadinya Niken mau ngasih gaun itu ke kamu. Tapi malah sobek, maaf ya. Nanti aku kasih gaun yang lain deh." Ujar Niken. Mata Haya berbinar.


"Serius kak?" Tanya Haya tak percaya. Niken menganggukkan kepala.

__ADS_1


Ini seperti mimpi. Mimpi dimusim panas. Aku tak percaya, tapi ini kisah hidupku yang nyata. Mungkin Tuhan memberikan cerita ini, agar aku mampu memahami apa artinya hidup. Dia datang dan pergi, seolah memberikan aku petunjuk untuk menjadi pribadi yang baik. Terimakasih Hans, kau telah memberiku cinta yang tak pernah aku dapat dari siapapun. Semenjak itu. Saat wajahmu menyinari dunia kecilku.


**"


__ADS_2