
Acara wisuda dikampus akan dilangsungkan beberapa hari lagi. Semua dosen dan mahasiswa yang terlibat sangat sibuk dengan tugas masing-masing. Begitu juga dengan Hans sebagai ketua acara dan Niken sebagai pengatur prosesi acara wisuda. Setelah pernikahan mereka berlangsung seminggu yang lalu. Niken dan Hans belum sempat membagi waktu untuk bulan madu mereka berdua. Karena jadwal acara di kampus sangat padat dan mepet.
"Niken...?" Seru Bella saat Niken tengah duduk menyusun acara di laptopnya.
"Ada apa Bel?" Balas Niken. Matanya masih tertuju ke laptop sementara Bella duduk disampingnya.
"Itu katanya tim paduan suara akan menyumbangkan satu lagu lagi untuk nanti. Gimana? Masih bisa nggak?" Ujar Bella.
"Nggak bisa Bel. Ini udah aku susun acaranya. Nanti susah lagi ngatur waktunya." Balas Niken.
"Serius nggak bisa? Tapi tadi Hans bilang bisa katanya. Dia malah masukin lagi pentas drama dari Tim Pecinta Alam." Tukas Bella. Niken mengernyitkan dahinya, ia menoleh sebentar.
"Hah? Serius? Hans bilang gitu?" Tanya Niken. Bella mengangguk yakin. "Ihhh gimana sih? Kebiasaan banget deh." Terlihat ekspresi Niken yang sangat lelah pun berubah menjadi kesal.
"Hans...?" Seru Niken sambil berjalan menghampiri Hans yang sedang mengatur ruangan.
"Iya sayang... Ada apa?" Tanya Hans.
"Kamu gimana sih, ini udah mau aku print lho. Acaranya besok. Bentar lagi gladi, koq bisa main masuk-masukin acara lagi." Ujar Niken.
"Acara apa?" Hans berkacak pinggang. Rambutnya acak-acakan, kemejanya juga sudah kusut. Ia terlihat sangat kacau. Niken yang melihat penampilan suaminya mendesah pelan.
"Itu drama dari pecinta alam." Balasnya. Sambil merapikan rambut Hans dengan lembut.
"Siapa yang bilang aku masukin acara drama dari pecinta alam?" Tanya Hans. Ia juga tampak sangat lelah dengan acara kampus tersebut.
"Bella. Bentar ya, aku ambil kaos buat kamu. Sini, kemejanya buka aja." Niken membuka kemeja Hans. Ia berlalu mengambil t-shirt untuk suaminya.
"Ehhh, siapa bilang aku ngasih izin? Aku cuma bilang, coba tanya dulu ke kamu. Siapa tahu masih bisa." Balas Hans sambil mengikuti langkah Niken.
"Tapi Bella bilangnya nggak gitu." Kata Niken. Setelah mereka berada diruangan, Niken memberikan t-shirt kepada Hans. Setelah memakainya, Hans akan bergegas kembali ke aula. Namun Niken menahannya. "Sayang...?" Seru Niken. Lalu memeluk Hans sebentar.
"Ada apa?" Tanya Hans.
"Emmm, setelah acara wisuda selesai. Kita honey moon yuk?" Ajak Niken. Hans tersenyum malu. Ia membalas memeluk istrinya.
"Pasti. Kita pasti honeymoon sayang. Sabar ya..." Balas Hans. Niken mengangguk setuju.
Namun setelah acara wisuda selesai. Keduanya malah lebih sibuk dari biasanya. Jadwal mengajar Niken sangat padat. Begitu pun dengan Hans yang sudah mengatur jadwal seminar dibeberapa kota. Niken harus lebih banyak bersabar untuk mendapatkan hari yang tepat untuk mereka bulan madu.
"Niken...?" Seru Bella.
"Hai Bella." Balas Niken.
"Masih ada jam ngajar?" Tanya Bella. Niken mengangguk.
"Iya, nanti setelah makan siang." Jawabnya.
"Masih santai saja. Udah packing belum?" Kata Bella.
"Packing?" Niken mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Jangan pura-pura bego deh. Semua orang juga udah tahu." Imbuhnya. Niken masih mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
"Apaan sih? Aku nggak ngerti."
"Aduh Niken jangan sok polos begitu. Surat penerimaan cuti kalian udah keluar tuh." Kata Bella.
"Cuti? Siapa yang mau cuti?"
"Kau dengan Hans. Siapa lagi? Kalian mau honeymoon, kan?"
"Hah?" Niken terkejut mendengar kalimat Bella. Ia bergegas ke ruangan untuk bertemu dengan suaminya.
"Hans...?"
"Hey sayang? Sudah selesai mengajarnya?" Tanya Hans.
"Kau? Mengapa tidak menanyakan aku dulu, kalau kau mengajukan cuti bulan madu untuk kita?" Tutur Niken.
"Surprise dong." Jawab Hans.
"Ini bukan surprise. Aku sudah buat jadwal untuk ulangan tengah semester, Hans. Sekarang bagaimana dengan mahasiswaku." Imbuh Niken kesal.
"Sayang." Hans meraih tangan Niken. "Aku hanya ingin kau dan aku menikmati masa-masa indah kita sebagai pengantin baru yang tertunda. Aku tahu, kamu sudah ingin bulan madu kan?" Balas Hans. Niken mengangguk.
"Emmm... tapi gimana dengan kampus?" Tanya Niken.
"Kita kan udah mengajukan cuti, sayang. Gimana? Kau setuju?" Balas Hans. Lalu Niken mengangguk. Hans mengecup keningnya lalu memeluknya.
"Ehhh ini di kampus, bukan dirumah Hans." Niken melepaskan pelukan suaminya.
Malam itu, Niken dan Hans berangkat menuju Seoul. Tempat pertama kali mereka bertemu kembali dari sekian tahun lamanya. Kali ini Niken dan Hans menuju Nami Island untuk menikmati bulan madu mereka.
"Hans ya...?" Seru seorang perempuan dari kursi sebelah pesawat. Hans dan Niken menoleh.
"Iya. Uhmmm siapa ya?" Tanya Hans.
"Masa lupa sih? Mantan kamu waktu SMA." Jawabnya. Hans menoleh kearah Niken, sambil memikirkan hal lain. "Bianca." Lanjut perempuan berambut pendek itu.
"Ohhh iya, Bianca." Tukas Hans.
"Itu siapa?" Tanya perempuan yang bernama Bianca itu.
"Istriku." Jawab Hans sambil menggenggam tangan Niken.
"Kau sudah menikah?" Bianca bertanya dengan nada terkejut.
"Sudah."
"Kapan? Kenapa tidak bilang?"
"Dua bulan yang lalu." Jawab Hans.
__ADS_1
"Lalu sekarang kau mau kemana?" Tanya Bianca.
"Kami mau bulan madu." Balas Hans.
"Kemana?" Niken memasang mata cemburu melihat perempuan itu sok akrab dengan suaminya.
"Kurasa kau tidak berhak tahu urusan kami." Jawab Niken. Bianca tersenyum tipis ke arah Niken. "Salam kenal dari istrinya Hans, Niken." Lanjut Niken.
"Ohhh iya." Balas Bianca.
"Kau sendiri mau kemana? Tidak bersama suamimu?" Tanya Niken dengan melototi Hans.
"Aku mau ke Nami Island. Tidak. Aku seorang janda." Jawab Bianca. Niken menghembuskan nafas, ada firasat buruk. Batin Niken.
"Ohh berlibur ya." Tebak Niken.
"Hhehe iya." Tukas Bianca. Niken merebut ponsel Hans. Lalu membatalkan hotel ke Nami Island.
"Kenapa dibatalkan?" Tanya Hans.
"Aku punya firasat buruk." Jawab Niken. Lalu ia memilih Jeju Island untuk berbulan madu.
"Bianca." Seru Niken. Bianca menoleh. "Boleh aku tahu, kemana saja kau akan pergi saat di Korea nanti?" Tanya Niken.
"Kenapa?"
"Uhmmm, siapa tahu kita bisa makan malam bersama." Imbuh Niken. Bianca tersenyum manis saat Niken mengatakan demikian.
"Setelah ke Nami Island selama 5 hari, aku akan ke Myeongdong 4 hari, setelah itu aku akan ke pusat kota Seoul selama 5 hari. Aku tidak lama koq. Hanya 2 minggu saja." Jelas Bianca.
"Waw perfect." Ketus Niken.
"Dan kau Hans akan kemana saja?" Bianca melempar tanya. "Aku senang jika kita bisa bernostalgia bersama." Lanjutnya.
"Kau tidak perlu tahu. Aku rasa kau dan suamiku tidak akan pernah bertemu kembali setelah keluar dari pesawat ini. Karena aku, akan memastikan bulan madu kami tidak akan ada yang mengganggu satu orang pun. Termasuk nostalgia kamu dan Hans. Tidak akan pernah terjadi." Jawab Niken. Bianca menyipitkan matanya dengan kesal. Hans tersenyum mendengar kalimat istrinya.
"Ada apa?" Hans menggelengkan kepala.
"Kau tahu, sayang?" Hans mendekatkan wajahnya. "Mengapa aku jatuh cinta kepadamu?" Lanjutnya.
"Wae...?" Tanya Niken dengan menggunakan bahasa Korea.
"Dangsin-ui jiltuga maeu maelyeogjeog-igi ttaemun-e." Jawab Hans yang artinya, karena kecemburuanmu sangat mempesona. Niken tersenyum malu.
"Geojimal." Balas Niken yang artinya bohong.
"Sungguh. Aku tidak bohong." Tukas Hans sambil menggelitik pinggang Niken.
"Ssst..." Keduanya saling menempelkan telunjuk ke bibirnya.
...***...
__ADS_1
Niken dan Hans sampai di hotel Jeju Island. Mereka menikmati suasana pantai bersama. Menikmati indahnya pulau jeju yang romantis. Serta bulan madu yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Tidak ada yang mengganggu, hanya mereka berdua.
...Selesai...