One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tiga puluh lima


__ADS_3

Malam itu Niken tidur dengan nyenyak. Peri malam menyapu kesedihannya, serta menghapus segala resah dan gelisahnya. Sehingga para peri menghadiahkan mimpi yang sangat indah. Mimpi yang akan menjadi kenyataan dikehidupannya kelak. Membahagiakan jiwanya tanpa sebuah ketakutan. Menaburkan bahagia dalam hatinya yang sepi. Kini, rembulan akan selalu menyinari cerita cintanya. Mentari akan menjadi saksi atas kesetiaanya. Setiap angin yang menelisik ke dalam dadanya, adalah cinta yang membalut dalam dukanya.


Tit tit tit tit tit tit tit tit tit.... Suara alarm berbunyi. Niken menggeliat malas. Lalu mengerjapkan matanya perlahan-lahan. Niken terbangun dan menguap. Lehernya terasa pegal sekali, ia berjalan menuju kamar mandi. Mencari sikat giginya berwarna pink, tapi ia tidak menemukannya. Niken mengucek matanya. Menatap dirinya didalam cermin. "Ini dimana?" Niken bertanya pada dirinya sendiri. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ini bukan posisi kamar mandinya. Kemudian ia membuka pintu kamar mandi melihat sekeliling, ini juga bukan kamarnya. Ia melihat foto Hans terpajang besar sekali.


"Ya Tuhan. Apa yang terjadi denganku tadi malam?" Niken mengerjapkan mata tak percaya. Kenapa ia bisa tidur di apartemen Hans? "Ini gila. Aku pasti sudah gila." Umpatnya, Niken mencari sikat gigi baru, ia yakin kalau Hans juga punya stok sikat gigi. Akhirnya Niken menemukan sikat gigi dilaci pinggir westafel.


"Aku tidak melakukan apa-apa kan sama Hans? Cuman ciuman doang. Apa semalam dia juga merasakan tubuhku? Ahhh tidak-tidak. Aduhhh bego banget sih Niken. Sudah jelas-jelas kita tidak melakukan apa-apa. Tapi mengapa aku tidak ingat? Apa Hans juga tidur satu ranjang denganku? Bagaimana ini? Aku pasti malu sekali bertemu dengan Hans." Gumamnya sambil menyikat gigi.


"Niken...?" Seru Hans. Niken terkejut, ia segera menyelesaikan menyikat giginya, berkumur-kumur, lalu mencuci wajahnya dengan cepat.


"Haiii...." Seru Niken kikuk setelah menutup pintu kamar mandi. Hans tiba-tiba tertawa. "Kenapa kau menertawakanku?" Hans mendekat, lalu me-lap bibir Niken yang masih tersisa pasta gigi.


"Uhmmm, aku malu sekali." Gumam Niken lalu membersihkannya lagi.


"Sudah sudah. Sudah bersih koq." Balas Hans sambil menarik lengan Niken.


"Eee, Hans. Boleh aku bertanya."


"Apa?"


"Apa yang kita lakukan semalam?" Niken sedikit malu mengatakannya. Hans merapikan rambut Niken yang masih acak-acakan.


"Kau tidak ingat?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah kalau tidak ingat. Kau pasti akan terkejut." Lanjut Hans. Jantung Niken hampir copot dibuatnya.


"Ma-ma-maksudmu apa?"


"Terimakasih ya, kau sangat menggairahkan." Tukas Hans dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Tunggu. Menggairahkan apa maksudmu? Kita...? Tidak mungkin." Niken melamun tak percaya. Benarkah itu bukan mimpi? Aku dan Hans memang melakukan hubungan itu? Pikir Niken. Niken hampir menghancurkan kepalanya.


"Hey kau kenapa? Kau tidak boleh begini." Kata Hans.


"Bodoh. Bodoh bodoh bodoh."


"Niken, Niken dengarkan aku." Hans menahan wajah Niken. "Dengarkan aku. Kita, tidak melakukan apapun. Aku hanya bercanda." Lanjut Hans.


"Sungguh? Kau tidak bohong?" Hans menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kita tidak melakukan apa-apa. Kau tidur disana dan aku tidur di sofa." Jawab Hans. Niken merasa lega. Ia mengelus dadanya.


"Ahhh syukurlah, hanya mimpi." Ujar Niken.


"Mimpi? Kau mimpi apa?" Hans menyelipkan rambut Niken ke belakang telinganya.


"Uhmmm bukan mimpi apa-apa." Balas Niken sambil senyum-senyum.


"Huuu dasar otak mesum." Hans mengetuk dahi Niken dengan pelan. Niken hanya tersenyum. "Ayo kita sarapan. Aku buatkan omelet kesukaanmu." Lanjut Hans.


"Wahhh... Terimakasih."


"Dan setangkai mawar merah."


"Oo so sweet." Niken merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk Hans.


"Kau bahagia?" Tanya Hans. Niken mengangguk.


"Sangat sangat dan sangattttt bahagia." Jawabnya. Kemudian Niken menikmati sarapan buatan kekasihnya.


"Kau bisa masak omelet?"


"Sedikit. Aku lihat tutorial di youtube." Ujar Hans dengan tersenyum.


"Enak?"


Niken mengangguk, "enak." Mereka menikmati sarapan dengan santai. Hans merasa senang sekali saat melihat wajah Niken yang sangat ceria. Begitu pun dengan Niken. Ia tampak bahagia ketika ia dengan bebas membuka hatinya untuk seorang lelaki.


Tiba-tiba ponsel Niken berdering nyaring. Nadine? Batin Niken, ia kesal sekali ketika Nadine melakukan panggilan masuk ke ponselnya. Niken menutup panggilannya. Ia tahu, Nadine pasti akan minta uang untuk berobat ayahnya lagi. Memang tak habis-habis mereka menguras uangku. Begitu pikir Niken. Ia menghembuskan nafasnya.


"Kenapa?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepalanya.


"Nothing." Jawab Niken.


"Kenapa tidak dijawab teleponnya?" Tanya Hans.


"Males ahhh." Ketusnya.


"Niken, nggak boleh gitu dong. Siapa tahu itu penting." Ujar Hans. Ponselnya berdering lagi, Hans memberi isyarat kepada Niken untuk menjawab teleponnya. Niken menghembuskan nafasnya. Kemudian ia menjawab panggilan telepon dari kakaknya.

__ADS_1


"Niken...?" Lirih Nadine diujung telepon. Suaranya terdengar sangat berat dan bergetar. Niken menduga sesuatu telah terjadi kepada keluarganya.


"Ada apa?" Balas Niken.


"Kau bisa pulang hari ini?" Tanya Nadine.


"Kenapa?" Niken malah balik bertanya.


"Ayah kritis, Niken. Sekarang sedang ada di ICU, tadi ayah sempat menanyakanmu." Suaranya semakin berat.  Ada suara isak yang tertahan diujung telepon sana.


"Kritis bagaimana?" Balas Niken.


"Kau pulang ya, Niken. Aku mohon." Ujar Nadine. Niken menghembuskan nafasnya. Ada sebuah perasaan yang sangat menyakiti dirinya. Ada pula perasaan yang sangat tidak tenang. Niken mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ia baik-baik saja. Dan bahkan ia mampu menyelesaikan semua gejolak yang ada didalam hatinya.


"Niken... Hallo...?"


"Iya. Ak-aku... Aku akan pulang." Wajah Niken tampak sangat tegang. Bayang-bayang masa lalu kembali menggeluti pikirannya. Niken ingin sekali membunuh masa-masa tersulitnya. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal. Sekujur tubuhnya sangat dingin dan matanya berkaca-kaca, kepalanya juga sedikit pusing.


"Ada apa?" Hans mendekatkan dirinya.


"Hans..." Lirih Niken mendongak.


"Kenapa sayang?" Tanya Hans dengan lembut.


"Aku takut." Balas Niken. Hans menggeser kursinya, lalu memeluk Niken. "Bagaimana ini? Ayahku."


"Ada apa dengan ayahmu?"


"Dia kritis." Jawab Niken. Hans menggenggam tangan Niken dan mengusap wajahnya.


"Pulanglah. Aku yakin, dia pasti membutuhkanmu." Hans meyakinkan Niken untuk segera pulang menemui orangtuanya.


"Temani aku." Pinta Niken. Hans mengangguk. Setelah bersiap-siap,


Hans dan Niken bergegas pergi. Mobil melaju dengan cepat, 3 jam kemudian sampailah mereka dirumah sakit, tempat dimana ayahnya dirawat.


Ibu, Nadine, paman, dan kerabat lainnya telah berkumpul sambil menangisi Reno.


"Niken sudah datang." Kata Nadine sambil merangkul pundak Niken. Mata ibunya sudah sembab, Ria memeluk putri bungsunya. Kemudian berbisik ke telinga Niken.

__ADS_1


"Tolong maafkan ayahmu." Katanya. Niken memandang wajah ayahnya. Masih tersirat kejadian 22 tahun yang lalu. Wajah seram milik ayahnya pada pukul 01.00 dini hari. Dan bagaimana ayahnya membuat ia sangat ketakutan. Itulah alasan Niken mengapa ia sangat takut kepada ayahnya.


***


__ADS_2