One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tujuh puluh tujuh


__ADS_3

Niken merebahkan dirinya di atas kasur. Ia sudah tiba di apartemen pukul 2.00 pagi tadi. Niken meraih ponselnya, mengusap layar dan mencari panggilan masuk, lalu ia melakukan panggilan keluar kepada Hans, menempelkan ponselnya ke telinga kanannya. Notifikasi mengatakan bahwa nomor Hans sedang tidak bisa diganggu. Niken berulang kali memanggil panggilan keluar, namun hasilnya sama saja. Akhirnya Niken mengirim pesan kepada Hans. Masih tidak ada jawaban. Kesal. Kenapa sih akhir-akhir ini dia berbeda? Pikir Niken. Apa jangan-jangan yang dikhawatirkan Niken terjadi? Niken menggigit sebelah bibirnya. Bola matanya berputar ke kiri. Seakan memikirkan apa yang akan terjadi?Niken berencana memberikan kejutan untuk Hans. Ia pun membenamkan diri dalam mimpi yang indah.


Keesokan harinya, dengan penug gembira Niken memasak makanan kesukaan Hans. Ia sudah membayangkan hal romantis dengan kekasihnya itu. Ia sangat merindukan momen mesra dengan Hans.


Niken memencet tombol angka password di apartemen Hans. Senyum cerah ceria sudah terulas dibibirnya, namun begitu ia membuka pintu. Kejutan yang sesungguhnya sontak membuat jantung Niken berhenti berdetak. Ia melihat kekasihnya memeluk mesra wanita lain. Langkahnya terhenti seketika, matanya hampir tidak berkedip saking terkejutnya. Niken tak sengaja menjatuhkan rantang bawaannya. Hans menoleh begitu pun dengan perempuan itu. Hans langsung melepaskan pelukannya.


"Niken...!" Seru Hans. Niken menatap mereka, kemudian ia mengambil rantang yang tadi jatuh. Ia mencoba melangkahkan kakinya sambil menahan tangis. Untung saja makanan tidak tumpah.


"A-a-aku membuatkan sarapan." Balas Niken. Hans menghampirinya dengan perasaan kacau. Hans tahu, Niken pasti marah. Hans tampak sangat gugup dan salah tingkah.


"Kapan kau pulang? Mengapa kau tidak memberitahuku?" Ujar Hans.


"Tadi." Jawab Niken pendek sambil menghidangkan makanan ke atas meja.


"Ohhh. Emmm. Kenapa tidak beritahu aku kalau kau mau pulang? Aku kan bisa jemput kamu. Kamu juga nggak bilang kalau mau kesini." Tutur Hans.


Niken menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kanan.


"Aku udah kasih tahu kamu lho dari dua minggu yang lalu." Balas Niken berusaha menenangkan dirinya.


"Masa sih? Oh ya sebentar. Erika, ponselku mana?" Kata Hans. Niken mengernyitkan dahinya. Ia melirik perempuan yang bernama Erika itu. Memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Perempuan itu memberikan ponsel kepada Hans lalu menunduk sambil memegang kedua tangannya. Niken menghembuskan nafasnya. Sejak kapan Hans berani menitipkan ponselnya kepada perempuan lain? Bukankah semenjak bersama Niken dia tidak pernah menitipkan apalagi menyita ponsel kekasihnya itu. Niken curiga.


"Nggak ada. Aku bahkan nggak pernah menerima telepon dan sms dari kamu." Balas Hans.


"Serius?" Tukas Niken sembari melotot ke arah Hans. Hans mengangguk dengan yakin. Memberikan ponselnya kepada Niken.


"Tadi pagi aku menelponmu 20 kali lho. Mengirim pesan sebanyak 20 kali. Kau tidak ingat?" Balas Niken.


"Sayang, kalau aku tahu kamu menelpon dan sms, aku pasti angkat, aku pasti balas. Tapi ini nggak ada." Kilah Hans. Niken melirik ke arah perempuan bernama Erika itu.


"Oh ya aku lupa dia Erika, temanku." Kata Hans seolah menjawab pertanyaan Niken. Dadanya sangat sesak sekali. Ada yang aneh dengan perempuan ini? Batin Niken. Ia merasa Hans sudah pandai berbohong. Sudah jelas, tadi mereka berpelukan dengan mesra. Niken menahan kesedihannya di dada. Untuk yang kesekian kalinya ia harus terluka.


"Kau sudah menikah?" Suaranya tercekat, seakan ada jawaban yang tidak ingin ia dengar. Kepada Erika ia bertanya. Erika menggelengkan kepala. "Sudah berapa lama kau tinggal disini?"


"Satu bulan lebih." Jawab Erika.

__ADS_1


"Ummm dia datang sejak kau pergi." Hans menambahkan. Niken menoleh ke arah Hans.


"Kenapa ponselmu ada pada perempuan ini?" Tanya Niken yang sudah berkaca-kaca.


"Niken, kau mencurigai aku selingkuh?" Tukas Hans. Sebulir air mata jatuh tak terasa.


"Kau bilang tadi apa? Selama aku pergi, kau tidak menerima panggilan telepon dan sms dariku? Begitu? Kau tidak sedang berbohong?" Niken menuturkan pertanyaan kepada Hans.


Sementara Hans menghela nafas, ia siap dimaki dan menjelaskan semuanya kepada kekasihnya itu. "Untuk apa aku berbohong? Aku sama sekali tidak menerima telepon dan sms dari kamu. Harusnya yang marah itu aku. Bukan kamu. Tapi fine, aku nggak apa-apa. Aku tahu kamu sibuk." Jelas Hans.


"Aku tanya sekali lagi, kenapa kau menitipkan ponselmu kepada dia?" Tanya Niken.


"Erika, Niken."


"Siapapun dia. Aku nggak peduli." Bentak Niken.


"Aku nggak bawa hp. Jadi aku pinjam hp Hans untuk menghubungi keluargaku." Jelas Erika. Niken menoleh.


"Kau mencintainya?" Niken mencondongkan kepalanya tepat 10 inci dari wajah Erika.


"Niken? Kau apa-apaan sih." Tukas Hans.


"Emmmm..."


"NIKEN!" Bentak Hans.


"Tidak perlu berteriak." Kata Niken. "Aku paham Hans. Aku sangat paham, seperti apa perempuan yang jatuh cinta kepadamu. Kalau kau mau membelanya silahkan. Aku pamit." Lanjutnya.


"Niken..." Hans menahan langkahnya.


"Aku lelah." Niken melepaskan tangan Hans, ia berlalu menuju apartemennya. Menangis sejadi-jadinya, Niken menyeka air matanya lalu menelpon Haya, memastikan apakah Hans memiliki hubungan dengan Erika atau tidak.


"Ohhh kak Erika. Dia teman masa kecil kak Hans, kak. Setahuku dia pernah menyukai kak Hans tapi itu dulu. Aku juga tahu kalau kak Erika menginap di apartemen kak Hans. Mereka memang sangat akrab. Kak Erika kabur dari rumahnya karena tidak mau dijodohkan oleh pilihan orangtuanya. Jadi, kak Hans menolongnya." Begitu jelas Haya.


"Ohhh begitu. Terimakasih ya Haya."

__ADS_1


Suara bel pintu berbunyi, Niken bergegas membukanya.


"Niken...?" Seru Hans. Niken menghembuskan nafas panjang, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara itu Hans memandanginya.


"Selama aku pergi, aku selalu bertanya, mengapa kau tidak pernah menghubungiku untuk menanyakan kabarku. Tidak pernah memberikan dukungan, mengucapkan selamat pagi, siang, malam atau hal-hal kecil lainnya yang sering kau lakukan padaku selama beberapa bulan terakhir ini. Aku resah, perasaanku selalu mengatakan bahwa kau sedang tidak baik-baik saja. Tapi aku mencoba untuk bersikap dewasa. Aku pikir, itu hanya perasaanku saja. Aku percaya, Hans yang aku cintai itu adalah pria yang setia. Sama seperti yang Audi katakan padaku. Selama kita berhubungan, aku tidak pernah menyita barang-barangmu termasuk ponselmu. Aku pikir kau sudah berbeda. Kau memang bukan lelaki playboy dimasa lalu. Tapi sekarang, aku meragukanmu. Apakah kau masih Hans yang sama? Ataukah Hans yang berbeda? Keduanya salah. Justru, aku tidak mengenalimu dengan baik. Maafkan aku karena terlalu berharap kau akan meminangku. Dan terimakasih banyak karena kau telah menjadi pelindungku. Dan telah mencintaiku." Jelas Niken, mencoba menahan air matanya.


"Niken. Biar aku jelaskan. Erika adalah teman masa kecilku. Dia lari dari rumahnya karena dia tidak ingin dijodohkan oleh orangtuanya. Aku hanya menolongnya. Masalah ponselku. Dia tidak membawa ponselnya, dan aku meminjamkan ponselku. Apa aku salah? Selama satu bulan itu, kau tidak pernah menghubungiku. Apa kau pikir aku tidak mengkhawatirkanmu? Erika hanya memberikan ponselku ketika aku membutuhkannya. Itu saja. Kau tidak pernah menghubungiku sekadar menyapa atau mengucapkan selamat malam. Jika kau menganggap aku Hans yang dulu, aku anggap kau salah menilaiku. Dan jika kau menganggap aku berubah, tidak, aku tidak berubah. Justru kau yang berubah." Balas Hans. Air mata Niken mengalir pelan dipipinya.


"Huh?" Niken tertawa mendengarnya, "Kau itu bodoh atau pura-pura bodoh. Kau tidak lihat perempuan lacur itu?" Tukas Niken. Hans emosi mendengar kata pelacur terlontar dari mulut kekasihnya.


"Niken dia itu temanku." Nada Hans meninggi.


"I know, aku tahu kau tidak bodoh. Diposisi ini hanya aku yang bodoh. Aku melihat percikan cinta dimata perempuan pelacur itu. Aku juga melihat kau tertarik kepadanya. Kau memeluknya. Bahkan mungkin aku tidak tahu apa yang sudah kalian perbuat selama aku tidak ada. Selama aku tidak mengganggumu. Bisa saja kau dan dia lebih dari sekadar berpelukan." Plakkk. Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pipi Niken dengan keras. Niken terpaku. Sekujur tubuhnya terasa sangat dingin mengenaskan. Ia menatap kekasihnya dengan berurai air mata.


"Jangan merendahkan aku atas kecemburuanmu yang tidak jelas itu." Tunjuk Hans tepat diwajah Niken. Emosi Hans naik pitam. Ia tak menyadari bahwa tamparan dan kalimatnya itu melukai hati Niken.


Niken mengambil ponselnya, lalu menunjukkannya kepada Hans. Puluhan pesan yang ia kirim dan puluhan panggilan tak terjawab untuknya dalam waktu satu bulan itu.


"Dia mencintaimu!" Bentak Niken. "Ini buktinya. Jika kau tidak mendapatkan pesan dan panggilanku, maka Erika telah menghapusnya. Dan itu bukti kalau dia mencintaimu." Lanjut Niken, matanya merah, dengan air mata yang terus saja mengalir ke pipinya.


Hans terdiam, ini kali pertama Niken membentaknya, pun menangis karena dirinya. "Niken....?" Hans menyeru. Ia tersadar bahwa apa yang sudah ia lakukan telah melukai hati Niken.


"Aku mulai ragu Hans. Saat aku tidak ada, kau mengizinkan perempuan lain masuk ke apartemenmu. Aku tidak tahu, apa aku harus percaya padamu atau tidak. Satu bulan itu bukan waktu yang sebentar. Aku tidak bisa, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Imbuh Niken sambil menggelengkan kepalanya. Air matanya tumpah begitu saja. "Pergilah." Hans terdiam, tangannya hendak menenangkan Niken, namun ia tak kuasa. Niken mengusirnya, dan Hans berlalu meninggalkannya.


"Aku bilang pergi." Bentak Niken.


"Kau..."


"Apa? Kau tidak dengar? Hubungan kita selesai. Aku tidak mau lagi melanjutkan hubungan ini." Balas Niken dengan nada yang tinggi. Seketika seluruh energi Hans melemah. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Apa tidak bisa kita bicara dulu?" Tukas Hans. Niken menggelengkan kepalanya.


"Kepercayaanku sudah hancur. Aku tidak ingin terluka lagi karenamu." Ucap Niken.


"Niken aku sangat mencintaimu." Aku Hans.

__ADS_1


"Tidak Hans. Aku mohon, tinggalkan aku sendiri." Hans menelan ludah. Mengakhiri hubungan yang sangat berarti ini, terlalu berat untuk Hans.


***


__ADS_2