
Mereka sampai di apartemen dengan selamat. "Sampai jumpa besok pagi, Hans." Kata Niken. Hans menarik lengan Niken lalu mencium bibirnya.
"Uhmmm, Hans, besok lagi." Kata Niken kemudian membuka pintu apartemennya.
Jantung Niken bergetar tak beraturan. Ia merasakan nafsunya saat ini sedang sangat tinggi. Ia tak mampu mengontrol dirinya sendiri. Sehingga keinginan bersama Hans sangat tinggi. Suara bel pintu berbunyi. Niken membuka pintu, dan Hans menarik tubuhnya lalu ******* bibir Niken penuh gairah. Niken pun balas ******* bibir Hans. Tiba-tiba suara ponsel Niken berdering.
"Hans. Mamamu menelpon." Tukas Niken.
"Hah? Mau apa mama menelponmu malam-malam begini?" Niken mengangkat bahu.
"Hallo Niken?" Suara Dina diujung telepon sana.
"Iya tante." Sahut Niken.
"Kalian sudah sampai?" Tanya Dina.
"Sudah tante."
"Syukurlah. Apa Hans sedang bersamamu?"
"Hans?" Seru Niken. Hans memberi isyarat agar Niken tidak meberitahukan mamanya.
"Uhmmm tidak tante. Kenapa ya?"
"Tante menelpon dia. Tapi tidak dia angkat." Ujar Dina.
"Uhmmm mungkin Hans sudah tidur tante." Niken terpaksa harus berbohong. Tidak lama kemudian, telepon terputus. Hans menarik wajah Niken lagi, dan ******* bibir Niken dengan penuh gairah.
Hans membuka kemejanya. Tubuhnya sispack dan tegap. Niken mengerjapkan matanya, kemudian Hans menggendong Niken sambil ******* bibirnya dengan lembut.
"Untuk malam ini, hanya malam ini." Bisik Hans. Niken mengangguk setuju. Lalu mencium dahi Niken dengan mesra. Turun ke pipi, turun ke bibir, turun ke leher, Hans menyentuh bagian yang membuat seluruh darah Niken mengalir hangat. Niken memejamkan kedua matanya. Hans kembali ******* bibir Niken dengan penuh gairah.
...***...
Bau masakan yang begitu menyengat tercium oleh hidung Hans. Hans pun terbangun dengan bertelanjang dada. Ia menggaruk kepalanya.
"Selamat pagi sayang..." Seru Niken.
"Pagi..." Balas Hans sambil menuangkan air mineral ke gelas, lalu meneguknya.
"Wahhh kamu masak apa?" Tanya Hans menghampiri Niken.
"Tadaaaa..." Niken menunjukkan makanan kesukaan Hans.
"Wahhh sandwich. Untukku?" Hans menunjuk diri. Niken pun mengangguk. "Apa kau sudah mandi?" Tanya Hans sambil mengunyah makanannya.
"Sudah dong." Jawab Niken pendek.
"Wahhh kau curang." Ketus Hans. Niken memeluk Hans dari belakang.
"Curang kenapa?"
"Kau tidak membangunkanku untuk mandi bersama." Balas Hans. Niken mencubit pinggang Hans.
__ADS_1
"Kau ingat, hari ini tanggal berapa?" Tanya Niken. Hans menggelengkan kepala. Hari ini Niken ulangtahun yang ke 28. Niken berharap Hans akan ingat dan memberikan kejutan manis untuknya. Tapi sayangnya, Hans tidak mengingat hari kelahirannya.
"Tanggal berapa memangnya?" Tanya Hans sambil menghabiskan sandwich-nya.
Niken mendesah pelan. "Kau sungguh tidak mengingatnya?"
"Apa hari ini hari valentine...?" Pikir Hans.
"Hari valentine bulan Februari. Dan ini bulan Oktober." Balas Niken dengan melototi. Hans mengangguk lalu meneguk air mineral. "Hemmm baiklah kalau kau tak ingat. Cepat mandi." Lanjut Niken. Hans dan Niken bersiap untuk berangkat mengajar.
Niken mengajar 10sks hari ini. Begitu pun dengan Hans yang memiliki mengajar 10sks. Sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk mengobrol. Saat tugas mahasiswanya harus di paraf, Hans menanyakan tanggal. "Tanggal berapa hari ini?" Tanya Hans kepada salah satu mahasiswanya.
"17 Oktober pak." Jawab mahasiswa tersebut. Hans membuka catatannya. Ulang tahun Niken. Hans menempelkan pulpen ke bibirnya. Setelah selesai memparaf semua tugas mahasiswanya. Hans merapikan semua buku-bukunya.
"Sebenarnya kita masih punya waktu 30 menit lagi, bukan?" Kata Hans.
"Iya pak." Jawab semua mahasiswanya.
"Tapi hari ini, aku ingin kalian membantuku untuk satu hal." Semua mahasiswanya kebingungan.
"Sebentar. Bella...?" Hans melihat Bella melewati kelasnya.
"Yah ada apa?" Tanya Bella.
"Niken ada dikelas mana?" Balas Hans.
"Uhmmm hari ini." Bella mencoba mengingatnya. "Oh, dikelas C ruangan serbaguna." Jawab Bella.
"Okey thank you." Kemudian Hans kembali ke kelas.
"Bantu apa pak?" Mereka bertanya.
Niken masih dikelas, sambil membaca tugas mahasiswanya. Tiba-tiba ia mendengar sebuah lagu westlife yang berjudul Nothings Gonna Change My Love For You dinyanyikan dengan acapela dan sangat keras sekali. Semua mahasiswanya berdiri melihat banyak orang bernyanyi diluar.
"Itu pak Hans. Iya itu pak Hans." Seru seorang mahasiswi. Niken berdiri, lalu melihat ke jendela.
"Sedang apa dia disana?" Batin Niken. Hans menggapaikan tangannya ketika Niken melihatnya dari jendela. Niken membuka jendela.
Beberapa orang bernyanyi, beberapa lagi membuat formasi lalu membawa kertas. Hans menggapaikan tangannya lagi. Mengisyaratkan kepada Niken untuk keluar.
"Bu, kayaknya pak Hans menyuruh ibu kesana deh." Ujar seorang mahasiswi. Niken merapikan bukunya.
"Hari ini kelas cukup sampai disini. Nanti kita lanjutkan lain hari." Tutur Niken kemudian ia berlari menuju pertunjukan itu. Setibanya disana, beberapa mahasiswa membuat lingkaran dan membalikan kertas mereka.
You Will Marry Me And Be My Wife, begitu isinya. Niken terharu, air matanya menetes pelan-pelan. Lalu semua mahasiswanya menyanyikan lagu Happy Birthday.
"Happy Birthday, Sayang." Tukas Hans masuk ke dalam lingkaran mahasiswanya.
"Hans...?" Seru Niken.
"Maaf, aku tidak bisa memberikan apa-apa padamu." Ujar Hans sambil menggenggam tangan Niken.
"Aku malu." Bisik Niken ke telinga Hans.
__ADS_1
"Malu kenapa? Ini hadiah dariku." Balas Hans. "Aku ingin kau menjawab lamaranku dihadapan mereka." Lanjutnya.
"Kau sudah tahu jawabannya bukan?" Kata Niken, Hans merangkul pundaknya.
"Oh ayolah mereka juga ingin tahu jawabanmu."
"Terima bu." Seru Dini mahasiswanya.
"Terima terima terima." Seru mereka kompak. Niken tertawa karena malu.
"Yes I will." Jawab Niken. Semua mahasiswa bersorak gembira. Begitu pun dengan Bella dan dosen lainnya yang menyaksikan lamaran Hans.
Hans sangat bahagia mendengar jawaban Niken, ia pun mengajak Niken makan malam bersama.
"Tapi pakaianku seperti ini." Tukas Niken.
"Kau tetap cantik pake baju apapun juga. Ini istimewa untukmu." Balas Hans. Niken pun tersenyum. Hans memberikan hadiah ulangtahun yang sangat istimewa berupa sebuah cincin berlian. Dan makan malam yang sangat romantis. Kemudian Hans mengajak Niken nonton bioskop. Setelah itu Hans mengajak Niken menikmati pantai di malam hari.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Hans ketika melihat sendunya mata Niken.
"Entahlah. Tapi aku merasa hatiku bahagia sekali. Aku tidak pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Aku tidak berpikir aku akan menikah. Tapi, kau hadir, memberikan apa yang tidak aku percaya." Jawab Niken.
Hans menghembuskan nafasnya. Lalu mengikat rambut Niken.
"Aku mencintaimu, dulu, kini, dan nanti. Maka tidak ada yang mampu mencintaimu melebihi diriku. Aku akan memberikan apapun untukmu, termasuk nyawaku sendiri." Ujar Hans. Niken menempelkan telunjuknya ke bibir Hans.
"Tidak. Kau tidak boleh mengatakan seperti itu. Aku tidak ingin kehilanganmu." Balas Niken. Hans menggenggam tangannya. Menempelkan dahinya ke dahi Niken. "Kau segalanya untukku." Tukasnya, lalu ia ******* bibir Niken dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Hans. Aku sangat mencintaimu." Kata Niken, Hans kembali ******* bibir Niken. Tiba-tiba ponsel Hans berdering, tanda telepon dari mamanya.
"Hallo mah." Seru Hans.
"Kau dimana Hans?" Tanya Dina dari ujung telepon sana.
"Uhmmm aku sedang diluar. Ada apa? Mama diapartemenku?" Jawab Hans.
"Tidak. Mama kan sudah bilang, jangan keluar malam-malam. Mama suka khawatir. Apa kau bersama Niken?" Ujar Dina.
"Iya, aku bersamanya." Hans merasakan ada yang aneh dengan mamanya. Karena akhir-akhir ini, Dina sering sekali menelpon. Menanyakan kabar, menanyakan Niken, dan menanyakan apakah ia sudah pulang atau belum.
"Ohhh begitu. Ya sudah cepat pulang ya. Jangan pulang terlalu malam." Tukas Dina.
"Uhmmm iya, Hans pulang sekarang." Jawabnya. Kemudian telepon terputus.
"Mama mengganggu saja." Gerutu Hans namun Niken tertawa.
"Ini sudah malam, Hans. Sebaiknya kita pulang." Jawab Niken.
"Kita lanjutkan nanti ya." Ujar Hans. Niken mengangguk. Lagu Westlife diputar, sambil menyetir Hans dan Niken bernyanyi bersama. Niken menyadari ada yang aneh. Sebuah mobil mengikutinya dari belakang.
"Hans, apakah mobil itu mengikuti kita?" Tanya Niken. Hans melihat ke kaca spionnya.
"Mau apa dia?" Hans menggas mobilnya dengan kecepatan maksimum. Saat Hans berbelok, sebuah mobil yang lain menabrak mobilnya dengan sangat keras. Sehingga mobil Hans berputar dan terguling berkali-kali. Dalam kecelakaan itu, Hans dan Niken tak sadarkan diri.
__ADS_1
***