One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Lima puluh tujuh


__ADS_3

"Niken menjelek-jelekan aku, Hans. Dia bilang aku suka melayani om-om. Lalu dia juga bilang, kalau aku sama Kezia tuh pelacur." Tutur Tia sambil bermanja di bahu Hans. Dina menyipitkan kedua matanya, lalu menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tak percaya dengan ucapan Tia. Sungguh ia menyaksikan sendiri bagaimana Tia mengkambing hitamkan Niken. Dina menggelengkan kepala.


"Ya udah sekarang kamu pulang gih." Kata Hans.


"Kamu percaya sama aku kan?" Ucap Tia. Hans menghembuskan nafasnya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan Tia. Kalau pun pernah, itu dulu. Akhirnya ia mengangguk.


"Hans, dia itu..." Dina ingin membela Niken, tapi Hans juga mengerti apa yang akan mamanya katakan. Hans mengedipkan matanya kepada Dina.


Begitu Tia pulang, Niken dan Hans bercerita panjang lebar mengenai Tia.


***


Tia terlahir dari keluarga menengah ke bawah, kedua orangtuanya jarang memperhatikan semua kebutuhannya semenjak ia sekolah. Ayahnya seorang tukang bangunan sementara ibunya seorang pembantu. Ia anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak laki-lakinya sering sekali mabuk dan berjudi, sementara kakak perempuannya memilih menjadi tkw ke Taiwan. Ia jarang sekali diperhatikan, ia bergaul dengan orang-orang yang kurang baik. Menganiaya teman sekelas, merokok, bahkan ia sudah mengenal dunia **** semenjak masih sekolah SMA. Ia bisa kuliah karena ia berkenalan dengan seorang lelaki berusia 50 tahunan. Menjadi simpanan nya selama 4 tahun. Bahkan saat berpacaran dengan Hans pun, Tia masih berhubungan dengan lelaki tua tersebut. Awalnya Hans mengira lelaki tua itu adalah ayahnya Tia. Karena sikapnya sangat berbeda, perhatian yang ditunjukan bukan seperti ayah dan anak, namun terlihat lebih dari itu. Tia tidak bisa lepas dari pergaulan yang salah itu karena selain ia butuh uang, hal itu sudah menjadi sebuah kebutuhan untuknya. Sebenarnya Tia adalah korban dari pergaulan yang salah. Namun jika sudah terjerat seperti itu, akan sulit untuk keluar dari dunia hitam itu.


"Sayang, maaf ya, hari ini aku nggak bisa nonton sama kamu. Aku ada acara dengan ayahku." Tia mengirimi pesan pada Hans. Malam itu Hans kecewa. Tapi tiba-tiba ia teringat sikap ayah Tia yang tidak segan-segan mencium pipi Tia dihadapan banyak orang. Hans curiga kalau lelaki itu bukan ayahnya Tia. Akhirnya Hans mencari tahu alamat rumah Tia. Waktu itu Tia pernah menunjuk satu rumah mewah milik orangtuanya. Hans yang belum pernah ke rumah Tia pun akhirnya memberanikan diri untuk mengunjunginya.


Namun setibanya di sana, si pemilik rumah tidak mengenal Tia. Hans sengaja minta izin masuk, barangkali ia salah. Setelah ia melihat semua foto-foto si pemilik rumah. Hans pamit pulang. Lalu pemilik rumah tersebut, menunjuk arah yang dimaksud oleh Hans. Dilingkungan itu yang namanya Tia hanya satu. Hans melangkahkan kakinya, dan ia menemukan sebuah rumah kecil tanpa halaman dan dihiasi dengan sarang laba-laba. Hans memberanikan diri memberi salam dan yang keluar seorang bapak tua.


"Cari siapa ya?"


"Tia-nya ada?" Tanya Hans.


"Ohh Tia belum pulang. Dia kerja. Pulangnya nanti subuh." Jawab si bapak tua itu.


"Bapak ini...?"


"Saya bapaknya Tia." Jawab bapaknya Tia. Hans menelan ludah. Sudah dua kali Tia berbohong.


"Kalau boleh saya tahu kerjanya dimana ya pak?"

__ADS_1


"Katanya sih di cafe Lotus." Jawab si bapak itu. Hans mengangguk. Cafe Lotus? Itu kan diskotik. Pikir Hans. Ia bergegas menuju diskotik Lotus. Sesampainya di sana, belum juga masuk, Hans sudah mendapati Tia dengan om yang diakunya sebagai ayahnya Tia. Mereka menuju hotel dan Hans mengikutinya dari kejauhan. Tia dan si om itu masuk ke dalam kamar hotel. Entah apa yang mereka lakukan di kamar. Hans sudah menduga bahwa Tia bukan perempuan baik-baik. Hans menunggu sampai mereka keluar. Pukul 2 pagi, si om itu keluar dari kamar hotel dan memberikan segepok uang untuk Tia. Hans masih memantau perbuatan Tia. Setelah si om itu pergi. 20 menit kemudian seorang lelaki yang kira-kira usianya 40 tahunan mengetuk pintu kamar hotel. Tia membuka pintu dan langsung mencium bibir lelaki itu. Kesimpulan Hans benar, bahwa pekerjaannya Tia sebagai pelacur. Semenjak hari itu, Hans pura-pura tidak tahu siapa Tia sebenarnya. Sikap Tia masih sama, manja dan suka minta uang kepada Hans. Dan Hans sudah memutuskan Tia berulang kali, tapi perempuan itu tidak pernah mau putus dengannya. Setelah Hans bertemu dengan Niken, Hans mengubah semua sudut pandangnya terhadap perempuan. Bahwa tidak semua perempuan sama. Tidak semua perempuan bisa dipermainkan. Hans menyadari banyak hal setelah ia bertemu dengan Niken. Perempuan cantik yang baik hati. Lembut, tulus dan bijak, ya itulah sosok Niken yang Hans kenal sejak dulu sampai sekarang. Hans tidak pernah menggoyahkan hatinya untuk mencintai yang lain.


"Ooohh jadi gitu." Dina mengangguk setelah Hans dan Niken menjelaskan.


"I see..." Lanjut Dina lagi.


"Tante, ini sudah malam. Aku pulang ya." Kata Niken pamit. Dina mengerjapkan kedua matanya. Seakan ia juga tertarik kepada Niken yang selalu dipuji oleh anak sulungnya itu.


"Nggak nginep aza?" Usul Dina. Niken menggelengkan kepala. Ia melirik Hans sebentar.


"Kapan-kapan deh tan. Besok pagi aku ke kampus dulu setelah itu kesini lagi." Balas Niken.


"Emmm, yahhh, tante masih kangen sama kamu Niken." Tukas Dina. Niken tersenyum lebar.


"Mah, Niken harus pulang." Ujar Hans.


"Tenang tante. Besok Niken ke sini lagi koq." Balas Niken. Dina mengangguk dengan senang hati.


"Hans, kamu antar Niken ya."


"Pasti dong, mah."


"Awas jangan genit-genit." Kata mamanya. Hans nyengir, Niken sun tangan Dina dan Harun. Ohhh jadi ini kebiasaan Niken. Pikir Dina dan Harun. Pantas saja anaknya berubah, karena dia mencintai perempuan ini. Begitu Dina menyimpulkan.


"Hati-hati ya sayang." Dina menggapai kan tangannya.


***


Hans kembali ke apartemennya. "Mama kamu nggak tahu kan kalau kita masih tinggal bersama?" Tanya Niken. Hans menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Hmmm, kayaknya aku mesti pulang ke apartemenku deh Hans."


"Kenapa?"


"Aku takut, mama kamu tiba-tiba datang kesini." Balasnya.


"Udah tenang aza. Nggak usah khawatir." Kata Hans.


"Tapi Hans..." Hans mengecup bibir Niken. "Kau..." Niken memukul lengan Hans dengan pelan.


"Ada yang bersinar didalam dirimu." Kata Hans, lalu mencium bibir Niken lagi.


"Apa?"


"Hatimu." Jawab Hans gombal.


"Ada apa dengan hatiku?" Selidik Niken.


"Baik dan tulus." Hans mencium lagi.


"Ohya?" Hans mengangguk.


"Tapi agak galak sih. Aku takut kalau kamu lagi marah." Imbuh Hans.


"Apa?" Niken melotot.


"Enggak sayang aku cuma bercanda." Balas Hans. Niken melingkarkan kedua tangannya ke pundak Hans. Lalu menikmati ciuman itu bersama Hans.


***

__ADS_1


__ADS_2