
Suara ayam jantan terdengar nyaring sekali. Sang fajar melukis keindahannya di kanfas langit yang biru. Angin kota bogor begitu sejuk, airnya jernih dan dingin. Membuat para dosen sangat malas untuk beraktivitas. Padahal hari ini ada permainan unik yang sudah disiapkan panitia loka karya. Para panitia sudah berteriak, meminta semua dosen turun dan ikut serta dalam permainan ini. Sudah menjadi tradisi kampus untuk mempererat tali silaturahmi dan membentuk kekeluargaan yang erat.
"Ibu Niken...?" Seru Ilham panitia loka karya. Niken mengerjapkan matanya. Ia merapatkan jaketnya dan masih enggan membuka matanya.
"Bapak Hans...?" Hans juga terbangun dari rasa kantuknya. "Wahhh kalau begitu, bu Niken kita pasangkan dengan pak Hans saja ya." Katanya. Bella menyenggol lengan Niken.
"Apaan sih." Tukas Niken.
"Itu... Siap-siap." Ujar Bella. Tiba-tiba seseorang meraih tangannya. Dan mengajaknya berlari ke taman.
Niken sedikit linglung, lalu kepalanya dijitak seseorang.
"Awwww..." Niken mengusap kepalanya. "Kau..?" Niken menunjuk Hans. Hans tertawa kekeh. Niken cemberut lalu membalas menjitak kepala Hans.
"Ibu Niken, Bapak Hans, segera siap-siap." Kata Ilham, ketika ia melihat Niken dan Hans sedang bercanda.
"Emang permainan apaan sih?" Tukas Niken.
"Bermain ciuman." Ketus Hans meledek Niken. Niken mencubit perut Hans. Permainan pertama menari balon pasangan. Niken dan Hans harus berhadapan untuk menyeimbangkan balon agar tidak terbang dan meletus. Permainan dimulai, selang beberapa menit, balon milik Niken dan Hans meletus.
"Kau bodoh sekali." Ketus Hans kepada Niken.
"Enak sekali kau bicara. Siapa yang bodoh? Aku?" Balas Niken.
"Ya kau. Memangnya kenapa?" Hans sambil berkacak pinggang.
"Aku tidak bodoh." Balas Niken.
"Baik. Kita buktikan dipermainan berikutnya."
"Okay. Kita tidak boleh kalah. Ayoooo semangattttt." Teriak Niken menyoraki dirinya sendiri. Hans merangkul pundaknya.
Permainan kedua lomba bakiak berpasangan. Kali ini Niken dan Hans lebih bersemangat.
"Kaki kanan dulu lalu kiri, okay!" Perintah Hans, Niken mengangguk setuju. Permainan kali ini mereka menang. Niken sangat bahagia sekali, karena baru kali ini ia mengikuti perlombaan secara pasangan.
"Lihat mereka." Tunjuk Bella kepada Jia dan Ira, rekan sejawatnya.
"Mungkin kau benar. Bahwa sebenarnya Niken dengan professor baru itu memiliki hubungan khusus." Ujar Ira.
__ADS_1
"Aku juga setuju. Lihat bagaimana cara professor Hans menatap Niken. Seperti singa yang akan menyantap makanan. Roarrr." Tambah Jia.
"Uhmmm, aku rasa Niken juga punya perasaan yang sama kepada Hans. Dia hanya belum mengakuinya." Tukas Bella.
"Perlombaan selanjutnya adalah memasangkan pakaian kepada pasangan. Waktunya hanya 1 menit. Kalian siap?" Ujar Ilham.
"Siap...." Semua peserta berteriak penuh semangat. Niken bersiap memasangkan baju kepada Hans. Ketika waktu dimulai, Niken langsung bergegas. Dan selesai di detik ke 35. Dengan spontan Niken memeluk Hans dihadapan semua orang.
"Pemenangnya adalah Bu Niken dan pak Hans." Ilham mengumumkan. Disambung lagi dengan permainan menggendong pasangan sambil menggiring bola, Hans yang memenangkannya lagi. Terakhir permainan menyusun puzzle. "Kita harus kompak ya." Kata Niken. Hans mengangguk setuju. Di permainan terakhir mereka menang lagi. Akhirnya mereka unggul dari peserta yang lainnya.
"Pemenangnya adalah, pasangan bu Niken dan pak Hans." Kata Ilham mengumumkan. Tentu saja Niken dan Hans sangat senang.
"Kau lihat. Aku tidak bodoh." Tukas Niken. Hans tersenyum lalu mengacak-acak rambut Niken.
Loka karya tahun ini ditutup dengan sambutan dari pak Kiki, yang kemudian memberikan penghargaan terhadap Hans sebagai professor muda yang bertalenta. Hans sangat berterimakasih kepada semua rekan kerja yang membantunya selama ini.
"Saya juga mengucapkan terimakasih banyak kepada semua rekan-rekan. Dan terimakasih kepada ibu Niken yang sudah membantu banyak jika saya mengalami kesulitan." Tutur Hans sambil melirik Niken. Bella, Ira dan Jia saling menyikut dan tersenyum iri.
***
"Niken...?" Seru Hans mengejar Niken di koridor. Saat mereka kembali pulang ke rumah masing-masing.
"Ini untukmu." Kata Hans. Niken melihat trofi yang tadi pak Kiki berikan kepadanya.
"Itu kan penghargaanmu, Hans. Kenapa kau mau memberikan itu kepadaku?" Ujar Niken.
"Aku menghadiahkannya untukmu." Balasnya. Niken menggelengkan kepala.
"Simpan itu untukmu. Jika kau ingin memberiku hadiah, yang lain saja. Aku yakin orangtuamu akan bangga jika melihat trofi itu." Kata Niken. Hans merapatkan bibirnya. Kau memang perempuan yang baik. Gumamnya dalam hati.
"Aku akan memberimu hadiah istimewa." Katanya.
"Tidak usah. Aku... Masuk dulu ya."
"Emmm... Silahkan." Niken masuk ke apartemennya. Begitu juga dengan Hans.
Niken merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur. "Lelah sekali." Gumam Niken. Tiba-tiba ia teringat bayangan ciumannya dengan Hans. Niken menyentuh bibirnya. Niken sangat malu sekali. Tapi, ia juga tak bisa pungkiri bahwa ia sangat bahagia. "Apa sih Niken. Kau ini kenapa?" Ia menggerutu sendiri. Niken membersihkan diri, menikmati aroma terapi di bathub-nya dengan busa yang melimpah. Lalu ia masak untuk makan malamnya nanti. Saat ia hendak membersihkan piring dan peralatan dapur, tiba-tiba kran westafel-nya bocor. Membuat seluruh ruangan menjadi basah termasuk baju Niken sendiri. Niken bergegas mencari bantuan, ia memencet bel apartemen Hans.
"Hans...?"
__ADS_1
"Niken, ada apa?" Tanya Hans.
"Kau bisa membantuku?"
"Kenapa?"
"Kran westafel bocor. Aku tidak bisa menghentikan airnya." Jawab Niken.
"Sebentar, aku bawa alat perkakasnya dulu." Balas Hans, kemudian mengikuti langkah Niken dari belakang.
"Niken, tolong ambilkan tank." Niken mengangguk. Lalu memberikan tank kepada Hans. Dan air mengalir dimana-mana. Seluruh tubuh Hans jadi basah, Hans melepaskan bajunya yang basah kuyup. Ia segera membetulkan kran westafel dengan keahliannya sendiri. Agak lama memang, tapi semua itu membuahkan hasil yang baik.
"Bagaimana? Sudah selesai?" Tanya Niken. Hans mengangguk sambil memperlihatkan wajah dan rambutnya yang basah.
"Udah, udah koq. Tapi jangan dulu dipakai ya. Tunggu sekitar satu jam atau dua jam." Balas Hans.
"Ohh okey." Hans merapikan kembali alat perkakasnya.
"Hans tunggu." Kata Niken. "Kau basah." Hans menoleh, Niken membawa sebuah handuk. Ia menelan ludah saat mengeringkan tubuh bidangnya Hans. Ini kali pertama ia melihat Hans bertelanjang dada.
"Kau bisa menundukkan kepalamu?"
"Huh?"
"Rambutmu basah." Ucap Niken. Hans menundukkan kepalanya, menurut. "Emmm, sudah." Tukas Niken. Hans meraih tangan Niken, lalu mengecup bibir Niken dengan lembut. Niken menghembuskan nafasnya saat ia melepaskan ciumannya.
Mata mereka bertemu dalam satu titik. Hans mendekatkan bibirnya lagi. ********** dengan pelan dan lembut. Niken melingkarkan kedua tangannya ke leher Hans. Menikmati ciuman hangat itu. Seluruh tubuhnya terasa hangat, degup jantung berdetak lebih cepat.
Hans melepaskan ciumannya. "Apakah aku harus disini?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepalanya.
"You have to go. Kau harus segera mandi." Jawab Niken. Hans menghembuskan nafasnya.
"But I will stay here." Tukas Hans. Niken tersenyum, ia berjinjit lalu mengecup pipi kiri Hans.
"Terimakasih." Ucapnya.
"Baiklah, aku akan pulang dulu. Ganti pakaian and your welcome honey." Balas Hans.
***
__ADS_1