One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enam puluh


__ADS_3

Dina memandang heran. Seolah-olah curiga dengan hubungan Tia dan Niken. Ada apa sebenarnya? Jelas sekali Tia sangat membenci Niken. Apalagi Tia sudah menjelek-jelekan Niken dihadapan Hans. Dan Dina juga sudah melihat sendiri bagaimana Tia berbicara. Sebenarnya siapa Tia? Dan apa masalah mereka sebenarnya?


"Niken...?" Seru Dina sambil menggaruk pelan pelipisnya.


"Ya tante." Balas Niken pendek.


"Sebenarnya mengapa kau dan Tia bermusuhan?" Tanya Dina penasaran.


Niken tersenyum lebar, lalu menghembuskan nafasnya, "Aku tidak ingin membicarakan hal itu tante. Nanti juga tante akan tahu sendiri." Jawab Niken. Semakin Dina memperhatikan dan mengenal Niken. Semakin ia suka dengan kepribadiannya. Dia berpendidikan, pandai masak, pandai bergaul, dan berkepribadian yang tegas.


"Apa pekerjaan Tia?" Tanya Dina sangat penasaran dengan perselisihan antara Niken dan Tia tadi.


"Nanti juga tante tahu sendiri." Begitu Niken menjawab. Dina kesal dengan jawaban Niken. Meski Niken banyak mengancan Tia, tapi ia tidak membeberkan keburukan Tia dihadapan Dina. Niken dan Dina menikmati spa bersama.


Banyak sekali perbedaan antara Niken dan Tia. Niken tidak suka yang neko-neko, rambut hitam legam, kadang lurus kadang bergelombang, ia pandai mengurus diri. Saat memeluknya, Dina mencium aroma parfum yang soft dan elegan. Cara dia tersenyum juga menampilkan sikap yang anggun. Berbeda dengan Tia yang memiliki aroma menyengat, rambut bergelombang dan diwarnai. Sikapnya sedikit arogan dan periang. Gaya pakaiannya mencolok. Jauh berbalik dengan sikap Niken.


Keesokan harinya setelah selesai mengajar, Dina menyelidiki status Tia yang sebenarnya.


"Aku punya toko Roti tante. Nanti kapan-kapan tante bisa datang ke toko rotiku." Dina pergi ke sebuah toko roti yang diklaim adalah toko milik Tia.


"Selamat datang. Selamat menikmati hidangan kami." Seorang karyawan menyapa ramah. Dina membalas dengan senyuman.


"Uhmmm maaf, apa Tia ada?" Tanya Dina memberanikan diri.


"Tia? Tia mana ya bu?" Kata seorang pelayan toko kue tersebut.


"Pemilik toko kue ini."


"Ohhh maaf bu. Pemilik toko kue ini bukan Tia. Tapi Anna." Jelas pelayan itu. Dina menoleh kearah yang ditunjuk si pelayan. Dina mengernyitkan dahinya. Tia berbohong.

__ADS_1


"Mama?" Seru sebuah suara. Haya. Itu putri bungsunya. "Mama ngapain disini?" Tanya Haya.


"


Mama nyari Tia. Tapi kayaknya Tia udah bohongin mama deh, Haya." Jawab Dina.


"Bukannya kak Hans udah cerita tentang Tia." Ujar Haya.


"Udah. Tapi mama pengin cari tahu sendiri, Haya. Mama penasaran." Balas Dina. Haya menggandeng lengan mamanya. "Sini deh, Haya ceritain." Haya mengajak mamanya pergi ke cafe dan menceritakan semua keburukan Tia.


"Haya nggak bohong sama mama. Kalau mama nggak percaya, ayo sekarang kita ke diskotik. Tempat Tia bekerja. Kita selidiki kebenaran tentang Tia." Haya mengakhiri ceritanya dengan mengajak mamanya ke sebuah diskotik. Musiknya sangat nyaring, dan membuat telinga Dina dan Haya sakit. Mereka duduk dipojok, menunggu Tia datang. Tidak lama kemudian Dina melihat Tia mengenakan baju mini dan menggoda seorang lelaki tua. Tak lupa, Dina memotret Tia yang sangat tidak senonoh kepada para pria hidung belang. Dina diam saja. Tia yang memfitnah Niken bekerja di bar. Menuduhnya seorang pelacur, ternyata yang pelacur itu adalah dia. Dina sangat kecewa karena telah dibohongi.


"Ayo Haya." Ajak Dina. Haya berdiri dan menggandeng lengan mamanya.


"Mama rasa ini sudah cukup." Lanjutnya lagi. Selama ini, Dina percaya dengan apa yang Tia katakan. Bahwa dia punya toko roti, punya rumah mewah, bahkan kedua orangtuanya tinggal di luar negeri. Dulu, Dina sangat menyetujui hubungannya dengan Hans. Tapi kali ini, semua terbongkar dengan jelas. Siapa Tia sebenarnya? Dina juga menemui Hans dan Niken. Ingin mengetahui dengan jelas kenapa Tia begitu sangat membenci Niken.


"Ada apa mah?" Tanya Hans.


"Bicara saja Niken. Tidak apa-apa. Kamu berhak untuk membela diri." Kata Dina. Niken sedikit ragu.


"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana tante." Balas Niken.


Hans menggenggam tangan Niken. "Jadi gini mah ceritanya. Dulu itu, aku dan Niken jalan bareng." Niken memegang lengan Hans. "Nggak apa-apa, sayang." Hans menenangkan.


"Ummm, biar aku." Kata Niken. Hans mengangguk setuju, "tante, sebelum aku cerita masalah aku dan Tia. Aku mau mengakui sesuatu kepada tante." Hans mengernyitkan dahinya. "Aku ini penderita philofobia. Philofobia itu semacam fobia pada cinta. Dulu sebelum bertemu Hans, aku tidak pernah percaya pada yang namanya cinta. Aku selalu mengalami kecemasan dan ketakutan saat bertemu dengan lelaki." Tutur Niken.


"Niken..." Sanggah Hans. Dina mengernyitkan dahinya. Menunggu penjelasan selanjutnya.


"Mama kamu perlu tahu Hans. Aku dan Hans bertemu di kampus. Dulu, penyebab Hans memutuskan Tia, salah satunya adalah aku. Hans-lah yang selalu meyakinkanku bahwa cinta itu indah. Hans-lah satu-satunya lelaki yang melindungiku. Tante, dulu, ada preman yang hendak melecehkanku. Begitu Hans datang, mereka memfitnah Hans. Dan aku dengan bodohnya percaya pada mereka. Dan suatu ketika aku tidak sengaja mendengar semua pengakuan Tia kepada temannya di toilet. Bahwa dia membayar 2 orang preman untuk melecehkanku dan membuat aku dan Hans berpisah. Alasan Tia sangat membenciku adalah karena Hans memilihku." Jelas Niken. Dina menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Mah, aku mencintai Niken. Bolehkan kalau aku melamarnya?" Kata Hans. Dina melotot tak percaya. Ini kali pertama Hans mengakui perasaannya. Dina meneguk segelas air mineral.


"Kalian membuat mama terkejut." Kata Dina. Hans dan Niken merasa kikuk. "Tante rasa, Hans cinta mati sama kamu." Bisik Dina. Tapi Hans masih bisa mendengar. Dia tersenyum malu. Begitu pun dengan Niken.


"Bolehkan mah?" Hans minta pendapat mamanya.


"Siapa bilang nggak boleh. Itu hak kamu." Jawab Dina.


"Yesssss..." Hans bersorak gembira. Semua pengunjung menoleh kearahnya. Dina menggelengkan kepalanya.


"Dia banyak berubah setelah pacaran dengan kamu Niken." Kata Dina. Niken menunduk malu.


***


"Tante...?" Seru Tia ketika Dina memanggilnya ke rumahnya.


"Mulai hari ini. Kamu tidak perlu lagi datang kesini." Ujar Dina tegas.


"Kenapa tante?" Tanya Tia.


"Aku sudah tahu semuanya. Pekerjaanmu, tempat tinggalmu dan mengapa kau dan Niken bermusuhan." Jawab Dina.


"Pasti Niken yang beri tahu tante." Tukas Tia dengan ekspresi marah.


"Tidak. Bukan Niken. Tapi aku sudah tahu sendiri. Jangan berharap aku akan memberikan anakku kepadamu." Ujar Dina.


"Tante, tante tahu tidak kalau aku bisa melakukan apapun untuk mendapatkan Hans. Aku tidak peduli tante menyukaiku atau tidak. Aku juga tidak peduli soal restu tante. Aku, hanya menginginkan Hans. Untuk membuat Niken menderita. Karena aku tidak akan pernah bahagia melihat Hans dan Niken bahagia." Jelas Tia, yang kemudian pergi meninggalkan rumah Dina.


Dina menjadi khawatir dengan hubungan anaknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2