One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enam puluh sembilan


__ADS_3

Niken tidak tahu apakah perjanjiannya masih berlaku atau tidak. Tapi sampai detik ini, ia tidak berlaku baik kepada Hans. Sudah seminggu Hans dan Niken kembali duduk diruang kerja yang sama. Menjadi rekan kerja dan kembali mengajar di kampus yang sama. Kerap sekali Hans mengganggunya, sama seperti pertama mereka bertemu. Tapi kali ini Niken tidak goyah. Ia tetap menjadi Niken yang tidak memiliki perasaan terhadap Hans.


"Kau lupa jika kita saling mencintai satu sama lain? Hah? Aku yang selalu ada untukmu. Kita pernah menjalin hubungan yang spesial. Kita pernah ke Australia. Kita pernah melakukan hal-hal yang indah bersama, kau lupa itu? Betapa aku sangat mencintaimu." Tutur Hans.


"Kau lupa kalau aku tidak percaya pada cinta? Aku harap kau masih menganggap aku orang yang sama. Perempuan yang tak percaya pada cinta." Balas Niken.


"Apa yang membuatmu melupakan aku setelah kecelakaan itu terjadi? Aku sangat mencintaimu Niken. Aku mencintaimu..." Teriak Hans tanpa malu dihadapan semua mahasiswanya. Tapi Niken tetap tidak memperdulikannya. Hans sangat frustasi, "ini semua gara-gara mama." Gumamnya. Ia pulang ke rumah orangtuanya. Membanting apa saja yang tergeletak di meja. Pembantu di rumah sangat ketakutan melihat perilaku Hans yang abnormal.


"Bu, pak..." Seru si bibi.


"Ada apa bi?"


"Den Hans bu." Dina terkejut ketika Hans membanting semua perlengkapan rumah.


"HANS." Bentak Harun.


"Apa yang sudah mama katakan kepada Niken?" Mata Hans sangat merah. Kali ini Hans benar-benar marah.


"Apa sayang? Mama nggak ngerti." Balas Dina.


"Arrrrggggggghhhhh. Aku benci sama mama. Mama berpura-pura setuju dengan hubunganku. Mama juga yang menghancurkan hubunganku dengan Niken." Erang Hans. Dina menelan ludah, Hans mabuk lagi. Ia tahu ia melakukan kesalahan. Tapi bukan ini yang Dina inginkan. Semua yang ia lakukan pada 2 tahun silam adalah demi kebaikan putranya. Tapi tanpa sadar, Dina justru membuat perasaan putranya hancur. Hans memberontak dan mengacaukan semuanya. Hans membawa mobil dengan keadaan mabuk, ia kembali masuk ke sebuah bar, lalu menegak minuman kembali. Hingga ia tak sadarkan diri.


"Mbak, mas Hans mabuk lagi." Kata pelayan bar itu dengan menempelkan ponselnya ke telinganya. Niken menghela nafas panjang, ia bergegas menuju bar tempat dimana Hans mabuk. Sesampainya Niken di sana, pelayan bar itu menunjuk Hans yang sudah tak sadarkan diri. Ia memapah Hans masuk ke dalam mobil. Lalu Niken menyetir mobil Hans, dan menuju ke apartemennya.


"Kapan kau akan berhenti mabuk-mabukan, Hans?" Tukas Niken saat memapah Hans ke kamarnya. Niken membuka jaket, kemeja dan sepatunya. Ia masih sangat mencintai lelaki itu. Tapi keadaan sudah berbeda. Niken membelai lembut rambut Hans.


"Aku tahu kau marah. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membuat keadaan ini jadi lebih baik? Aku mencintaimu. Sangat dan bahkan lebih dari diriku sendiri. Aku juga ingin seperti dulu. Memelukmu dan bahkan bersenang-senang bersamamu. Tapi aku tidak bisa." Ujar Niken, lalu mengecup kening Hans dengan lembut.

__ADS_1


Niken tahu kepergiannya akan berdampak pada Hans. Tapi ia tak bisa mengingkari perjanjiannya dengan Dina. Niken tidak pernah pergi meninggalkan Hans, selama Hans berpergian menjelajahi dunia. Dia ikut bersamanya, sambil bekerja menulis essai, artikel, dan bahkan mengirimi tugas untuk mahasiswanya via online. Ia melakukan penelitian bersama Hans. Tanpa sepengetahuan lelaki yang dia cintai. Bahkan disaat Hans mabuk-mabukan, ia pula yang mengantar Hans ke hotel. Membuatkan sup hangat, bubur atau bahkan menu sarapan lain yang akan membuat tubuh Hans kembali berstamina.


Bahkan ketika Hans menyiarkan bahwa ia mencari kekasihnya, Niken pun ada di sana. Di acara talk show yang penuh dengan dramatika. Hingga saat ini, Niken selalu ada untuknya. Membuatkan sarapan dan membantu merapihkan apartemen Hans. Tanpa Hans sadari, Niken selalu ada untuknya. Dan semua itu membuatnya sangat menderita.


"Maafkan aku." Hans terbangun lagi. Seperti biasa, ia akan melihat Haya sedang memasak di dapur. Padahal sebenarnya Haya melanjutkan apa yang sudah Niken siapkan untuk Hans.


"Kau punya uang dari mana beli yang beginian?" Tanya Hans kepada Haya.


"Happy Birthday, kakakku sayang." Balas Haya. Hans tidak ingat bahwa hari ini adalah hari kelahirannya. Tapi Hans merasa aneh dengan Haya. Ia tidak biasa masak masakan korea atau masakan yang aneh-aneh. Kali ini Haya memasak sop rumput laut khas negeri Ginseng atau Korea. Biasanya orang-orang Korea akan memperingati hari ulangtahun dengan memasak sop rumput laut.


"Dari mana kau tahu tradisi orang Korea?" Tanya Hans.


"Uhmmm, kakak nggak tahu sih. Aku ini searching, jadi aku bisa masak sop rumput laut. Dan bagaimana aku punya uang? Sekarang ini aku sedang magang, kau tahu ma-gang." Jelas Haya. Hans mengangguk percaya. Lalu menyendok sop rumput laut. Tiba-tiba ia teringat Niken, saat mereka bertemu kembali di Korea Selatan. Hans memandang sepasang kekasih yang sedang duduk berdua ditaman rumah sakit. Si perempuan menyuapi kekasihnya yang sedang sakit.


"Saengil chukae, yeobo." Begitu ujar si perempuan kepada kekasihnya yang artinya, selamat ulangtahun sayang.


"Hans...? Ada apa?" Seru Niken saat itu.


"Ohhh. Aku tahu. Aku juga sering masak sop rumput laut untuk diriku sendiri dan mengucapkan selamat ulangtahun pada diriku sendiri." Balas Niken.


"Apa hanya dirimu yang paling berharga didunia ini? Tidak ada kekasih atau orang yang kau cintai?" Tanya Hans menatap Niken.


"Opsoyeo. Aku tidak punya orang yang aku cintai. Aku tidak percaya cinta dan aku tidak percaya laki-laki." Jawab Niken dengan jelas. Hans menyentil dahi Niken dengan keras.


"Aakkk." Spontan Niken menyentuh dahinya.


"Lihat betapa menyedihkannya dirimu." Ketus Hans.

__ADS_1


"Omo... Sekarang lihat bagaimana kau mengemis cinta kepada banyak wanita." Balas Niken mencibir Hans.


"Aku tidak percaya kau bisa masak sop rumput laut. Dan ingat, aku bukan pria yang dulu kau kenal." Ujar Hans.


"Apa hadiahnya kalau aku bisa memasak sop rumput laut?" Tanya Niken. Hans menoleh sementara Niken memonyongkan bibirnya.


"Apa yang kau minta?" Balas Hans.


"Aku ingin kau menjadi satpam pribadiku " Jawab Niken.


"Deal." Hans mengulurkan tangannya begitu pun dengan Niken. Hans kembali mengingat kenangan bersama Niken, tiga permintaan yang belum ia katakan kepada Niken.


"Permintaan terakhirku adalah, aku ingin kau kembali kepadaku." Lirihnya.


"Apa?" Seru Haya. "Apa yang kakak katakan?" Hans menggelengkan kepala.


"Ini. Uang untukmu. Sebagai ganti kau telah membuatkan sop rumput laut untukku." Imbuh Hans. Haya menghembuskan nafasnya.


"Apa kakak masih memikirkan kak Niken?" Tanya Haya.


"Setiap waktu. Setiap detik. Aku tidak pernah berhenti memikirkannya." Jawabnya. Hans menelan ludah. Sementara Haya merasa iba dengan perasaan kakaknya. "Andai saja kakak tahu, kak Niken-lah yang melakukan semua ini. Bagaimana aku bisa menyatukan mereka kembali?" Batin Haya.


"Aku dengar kak Niken juga kembali mengajar ditempat kakak? Benar bukan?" Haya memandang kakaknya.


Hans mengangguk pelan. "Bagaimana kak Niken sekarang?"


"Dia bukan Niken yang kita kenal. Dia sudah berbeda." Jawab Hans dengan ekspresi dingin.

__ADS_1


Seketika ekspresi Haya berubah, ia merasa bersalah karena telah merahasiakan keberadaan Niken dari Hans. Ada sebuah perasaan dimana Haya ingin menyatukan mereka kembali. Namun ia tak tahu bagaimana caranya.


***


__ADS_2