One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tiga puluh delapan


__ADS_3

"Kenapa tidak naik mobil saja? Kan lebih nyaman." Tukas Hans saat mengendarai motor milik kakak ipar Niken.


"Kenapa? Kau keberatan naik motor?" Balas Niken sinis.


"Jangan salah paham dulu. Makanannya kan bawa banyak. Kalau naik mobil lebih nyaman dan bisa disimpan dibelakang, barang bawaannya." Jelas Hans.


"Naik motor lebih simpel." Balas Niken pendek. Hans menghembuskan nafasnya dan menurut. Niken membeli makanan ringan untuk tahlilan nanti malam. Setelah selesai berbelanja, mereka kembali pulang. Hans mengikuti tradisi di kampung halaman kekasihnya. Niken lupa kalau ia belum mengenalkan Hans kepada keluarganya. Tapi Hans adalah orang yang supel, sehingga ia mudah beradaptasi dengan keluarga Niken.


Setelah acara tahlil selesai, Dimas suami Nadine duduk bersebelahan dengan Hans. Mereka asyik mengobrol.


"Niken...?" Bisik Nadine yang duduk disebelahnya. Niken menoleh. "Laki-laki itu siapa?" Lanjut Nadine.


"Ohhh aku lupa mengenalkan Hans sama kakak." Balas Niken. "Hans...?" Serunya.


"Yaa..."


"Bu, kak Nadine aku lupa mengenalkan Hans sama kalian. Dia Hans. Hans ini kakak dan ibuku. Dan disamping kau itu adalah kak Dimas, kakak iparku." Jawab Niken.


"Aku sudah mengenalnya." Kata Dimas.


"Kita sudah ngobrol banyak ya kan kak." Tukas Hans. Dimas mengangguk.


"Pacar kamu?" Tanya Nadine. Niken menggaruk jidatnya. Agak aneh memang mengakui bahwa Hans adalah kekasihnya. Moment nya kurang tepat. Tapi mau bagaimana lagi. 


"Ya iya atuh saha deui. Orang tadi dia yang bilang sendiri ke aku." Dimas menjawab dengan aksen sunda yang khas. Menghormati Hans. Begitu pula dengan Hans. 

__ADS_1


"Sudah lama pacaran sama Niken?" Lanjut Nadine membuka topik pembicaraan.


"Uhmmm baru, kak." Jawab Hans.


"Pasti Niken belum cerita kalau dia punya kakak rese kayak aku." Kata Nadine. Hans tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Apaan sih kak." Niken menyikut lengan kakaknya.


"Niken, sini sebentar nak." Kata Ria. Niken beranjak menuju kamar ibunya. Nadine pindah duduk ke sebelah suaminya.


"Ngobrol apa aza emang kamu sama Hans?" Selidik Nadine.


"Banyak ya." Balas Dimas sambil mengangkat kedua alisnya didepan Hans.


"Ini kali pertama, Niken mengenalkan kekasihnya kepada kami keluarganya. Selama ini, Niken tidak pernah terbuka. Dia selalu bilang, kalau aku, ayah dan ibu nggak akan pernah ngerti. Niken itu seperti pejuang yang hidup sendiri. Sejak kecil, dia itu tomboy, dia benci ayah kami. Dia anak kesayangan nenek dan kakek. Selalu ikut ke pasar, ikut jualan bersama kakek dan nenek, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan kuat seperti baja. Niken lebih dewasa dari pada aku. Dia jarang sekali mengeluh. Dia juga tidak pernah iri kepadaku. Ibu tidak pernah khawatir bagaimana Niken bisa hidup. Ibu tahu, Niken bisa mengurus diri sendiri." Tutur Nadine menceritakan kisah Niken kepada Hans.


Hans menyimak dengan baik, ia mengangguk diakhir kalimat Nadine.


"Kakak adalah kakak yang baik." Balas Hans.


"Terimakasih Hans." 


"Nadine...?" Seru Niken. Nadine, Hans dan Dimas menoleh.


"Ibu memanggilmu." Katanya. Niken menarik lengan Hans, membawa Hans ke kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Hans.


"Kau tidur disini. Aku akan tidur dengan ibu." Jawab Niken. Hans mengangguk, lalu menarik tangan Niken dan memeluknya. Hans mencium rambut Niken.


"Ada apa denganmu?" Tanya Niken mendongak.


"Tidak apa-apa. Hanya ingin memelukmu saja." Jawab Hans.


"Aneh." Ketus Niken.


"Kak Nadine tadi membicarakanmu." Katanya. Niken melepaskan pelukannya. "Dia cerita tentang nenek dan kakekmu. Dia juga cerita kenapa kau benci ayahmu. Dia cerita panjang lebar." Lanjut Hans.


"Hemmmmh, sudah kuduga. Lalu apa lagi yang dia katakan?" Selidik Niken.


"Katanya kalian marahan ya? Dan oh ya, kata kakakmu juga, kau itu perempuan yang tegar dan kuat. Tapi, karena itulah, aku mencintaimu. Bukan karena kau tegar dan kuat. Tapi karena aku tahu dibalik ketegaran itulah kau menahan rasa sakitmu. Menahan tangis dan beban. Begitu caraku mengenal dirimu. Aku ingin menjadi bagian dari rasa sakitmu. Aku juga ingin kau memiliki alasan untuk berbahagia bersamaku."  Tutur Hans. Sebulir bening air mata jatuh ke pipinya. "Kenapa kau menangis?"


"Kau selalu punya cara untuk membuatku menangis. Ada apa dengan mulutmu itu? Kenapa banyak sekali kalimat yang selalu membuatku terharu? Aku membencimu." Balas Niken. Hans tertawa.


"Hoahaha, karena aku kekasihmu."


"I love you Hans. I love you so much." Ria tak sengaja mendengar anaknya mengobrol, ia juga tak sengaja melihat Niken berpelukan dengan lelaki itu. Kekhawatirannya kini hilang. Saat ia mulai menyadari bahwa Niken telah membuka hatinya untuk lelaki seperti Hans.


***


Malam itu adalah malam ke-7, langit gelap gulita, pukul 10 waktu Indonesia bagian Barat, Niken dan Hans pamit. Mereka harus pulang ke Jakarta. Dalam perjalanan Niken menceritakan tentang keluarganya.

__ADS_1


"Ayah berubah menjadi sosok yang menyeramkan buatku. Setelah Jihan pergi, aku selalu takut ayah kembali ke kamarku. Aku selalu takut jika ayah menyentuhku. Selalu takut dengan tatapan ayahku. Sehingga, jika ibu pergi, aku tidak pernah mau tidur sendirian di kamar. Aku selalu merengek kepada Nadine dan ibu untuk menemaniku tidur. Tapi, mereka tidak mendengarkanku, mereka selalu menganggap aku manja karena selalu merengek. Sehingga aku mengalami depresi dan mencoba bunuh diri saat itu. Perasaan bersalahku pada Jihan sangat dalam, dalam mimpiku aku selalu bertemu dengan Jihan. Aku selalu mengatakan permintaan maafku pada Jihan, atas perlakuan ayahku kepadanya. Tapi, Jihan tersenyum seperti tak pernah merasakan kesakitan. Dan aku benci itu. Aku benci dengan kata-kata yang ia lontarkan kepadaku, dia selalu bilang, "aku tidak apa-apa." "ini sakit, tapi tidak begitu sakit." "Jihan memaafkan ayah Niken." "Niken tidak usah menangis." dan kalimat itu selalu terngiang ditelingaku. Jihan sangat baik, sangat baik. Aku semakin bersalah, dan semakin membenci ayahku. Kakek dan nenek sudah mengetahui semuanya sejak awal. Sejak satu hari setelah kejadian Jihan dilecehkan oleh ayahku. Mereka mengatakan bahwa aku harus diam. Aku tidak boleh mengatakan hal ini kepada siapa pun, kepada ibu, Nadine atau semua orang yang aku kenal. Aku ingat sekali, malam itu aku mendengar percakapan kakek dan nenek. Sehingga, aku tak kuasa menahan kesedihanku sendirian. Aku harus diam, membisu selama 21 tahun. Sejak saat itu aku tidak pernah meminta uang kepada ayah dan ibu. Kakek dan nenek-lah yang membiayai sekolahku. Ketika mereka tiada, aku harus banting setir, aku jualan, aku ikut perlombaan, dan apapun itu aku lakukan demi, demi mewujudkan mimpiku. Meskipun ibu memberikan uang, tapi aku tidak pernah menggunakannya sama sekali. Akan aku kembalikan uang itu kepada Nadine. Mereka mengira aku kuat, aku tegar, mungkin mereka pikir aku pribadi yang korelis. Tapi, sebenarnya aku rapuh. Aku bukanlah si korelis yang tangguh. Tapi aku adalah seorang melankolis. Inilah aku Hans. Bukan seperti yang Nadine katakan kepadamu." Jelas Niken. Hans  memeluk Niken, menenangkannya dan membuatnya merasa nyaman.


***


__ADS_2