Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 10 Menghindari Fitnah


__ADS_3

Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, Riana lebih memilih menghindar saat bertemu dengan Andrei.


Sebisa mungkin gadis itu menolak ajakan Dhika untuk les privat di bengkel Andrei, hingga Riana memilih sekolah lah menjadi tempat nya memberikan les privat nya.


Bukan hanya itu saja, Riana juga memberikan les privat kepada beberapa murid lain nya, untuk mengurangi aktifitas serta intensitas pertemuan nya dengan Dhika.


Selepas memberikan les kepada Dhika dan beberapa murid. Kalau tidak ada kuliah, Riana lebih memilih kembali melanjutkan les privat kepada murid yang lain di bandingkan menemani Dhika di bengkel ataupun membawa Dhika ke rumah nya.


Sebenarnya Riana sangat tidak tega saat harus menghindari Dhika, tapi apa mau dikata lebih baik dari sekarang Dia mulai menjauh dari Dhika, karena Riana tidak ingin kedekatan nya dengan Dhika membuat nya juga harus dekat dengan Andrei.


Tuduhan Andini yang mencap nya sebagai Pelakor membuat gadis itu lebih baik menghindari fitnah tersebut.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Riana berjalan dengan sangat tergesa-gesa. Tubuh lelah setelah mengajar di lanjutkan kuliah tak membuat langkah nya menjadi surut. Bahkan tanpa saudara langkah nya tersebut sudah menjadi sebuah lari kecil menyusuri lorong sepi sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak di kota nya.


Hati nya begitu kalut setelah Dia terpaksa mengangkat puluhan kali panggilan dari nomor telepon Andrei.


Sorot mata panik dan butiran air mata yang mulai keluar dari kedua sudut bola mata nya tak jua membuat kedua bola mata gadis itu lelah mencari nomor kamar ruang inap.


Setelah tiba di depan ruang inap yang di cari nya. Gadis itu mengatur nafas nya dan kemudian mengetuk pintu ruang rawat yang di tuju nya.


Tok Tok Tok


" Masuk ". Entah mengapa sebuah perasaan bersalah menyelimuti hati Riana saat mendengar suara izin dari dalam kamar.


" Assalamu'alaikum ".Sapa Riana.

__ADS_1


" Waalaikumsalam ". Dari dalam terdengar suara Andrei membalas salam.


Setelah mendapat izin masuk dari pemilik kamar Riana membuka pintu ruang rawat inap.


Sesosok bocah yang sejak kemarin Riana cari keberadaan nya di sekolah tampak tergolek dengan lemah di atas bangkar, dengan tangan kanan nya menempel jarum yang mengalirkan cairan infus.


Kedua bola mata biru itu menutup dengan sempurna, rambut coklat yang biasa di sisir nya itu tampak lepek dengan peluh yang tampak mengucur di area wajah nya.


Tak ada sapa yang memanggil nya. Tak ada senyuman juga deretan gigi ompong yang terlihat di wajah bocah tersebut.


Hati Riana semakin sakit saat teringat sikap nya 2 hari yang lalu, saat menolak keinginan bocah kecil tersebut ikut ke rumah nya.


Kaki nya sudah menghentikan langkah tepat di samping kiri bocah yang masih setiap memejamkan mata nya.


Perlahan tangan Riana mengusap peluh yang membasahi kening bocah yang biasa nya ceria tersebut.


Suhu tubuh bocah itu masih terasa panas ketika Riana menghentikan punggung telapak tangan kanan nya di kening bocah yang sudah hampir sebulan ini tidak membeli roti goreng kesukaan.


" Maaf kalau harus menganggu kegiatan Anda Bu ". Riana tak mengalihkan pandangan dari Dhika saat Andrei orang yang membuat Riana menjauhi Dhika itu berucap.


Riana mengusap lembut wajah Dhika hingga kedua bola mata yang tertutup rapat itu mulai mengerjap.


Riana segera menghapus air mata yang masih menetes keluar dari kedua bola mata nya saat kedua bola mata kecil itu mulai terbuka secara perlahan.


Seulas senyum Riana hadiahkan saat kedua bola mata kecil itu terbuka dengan sempurna.


" Bunda ". Pekik Dhika merentang kedua tangan nya lebar lebar.

__ADS_1


Riana pun menyambut rentangan tangan itu dengan memeluk tubuh bocah yang masih di posisi tertidur di atas bangkar.


" Dhika kangen sama Bunda ". Rengek Dhika memeluk tubuh Riana dengan erat.


" Dhika janji nggak bakal nakal. Asal Bunda jangan marah lagi sama Dhika ". Riana melerai pelukan lalu menangkup wajah mungil Dhika dengan kedua telapak tangan nya.


Wajah pucat Dhika semakin pucat saat bocah itu menangis.


" Bukan Dhika yang nakal. Bunda yang nakal Sayang ". Riana mengusap dengan lembut lelehan air mata yang menetes di wajah Dhika.


" Maafin Bunda ya Sayang ". Riana kembali memeluk tubuh Dhika yang masih terasa panas.


" Bunda jangan pergi lagi ya. Temenin Dhika ". Riana menganggukkan kepala nya.


" Dhika sayang sama Bunda ". Ucap Dhika.


" Sekarang Dhika istirahat lagi ya. Maaf Bunda jadi ganggu bobo nya Dhika ". Riana melerai pelukan nya lalu merapikan selimut Dhika.


" Nggak mau. Nanti kalau Dhika bobo, Bunda nya pergi lagi ". Rajuk Dhika mengenggam erat tangan kiri Riana.


" Nggak, Bunda nggak akan pergi. Bukan akan temenin Dhika sampai sembuh ". Ucap Riana seraya mengusap lembut surai Dhika yang tampak mulai panjang.


" Berarti kalau Dhika udah sembuh Bunda pergi lagi? ". Riana terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Dhika.


" Kalau gitu, Dhika mau sakit terus supaya Bunda nggak pergi lagi ". Riana tersenyum kecil saat melihat Dhika memalingkan wajah nya tak mau melihat wajah Riana.


" Bunda janji, setelah Dhika sembuh Bunda nggak bakal pergi ". Dhika kembali menatap kepada Riana yang tengah tersenyum sambil mengacungkan jari kelingking kanan nya.

__ADS_1


" Janji? ". Riana mangangguk menjawab pertanyaan Dhika.


" Janji ". Ucap Riana saat Dhika mengaitkan jari kelingking kanan nya dengan jari kelingking Dhika.


__ADS_2