Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 36 Welcome Baby Utun


__ADS_3

" Ya bagus Bunda. Yuk Bunda sudah boleh mengejan, kepala nya Utun nya udah keliatan lho ". Riana meremas keras lengan Andrei hingga membuat Andrei meringis di sela suara nya yang dengan lembut melantunkan sholawat.


Riana mengikuti anjuran Dokter Aurel, walaupun sebenarnya sejak tadi Dia sudah ingin mengejan karena sudah mulas.


" Sedikit lagi Bunda ".


" Alhamdulillah ... ". Gumam Dokter Aurel bersamaan dengan menarik keluar Baby Utun yang seketika itu juga mengeluarkan suara tangis nya.


" Alhamdulillah ". Gumam Riana dan Andrei bersamaan. " Terima Kasih Bunda ". Bisik Andrei seraya mengecupi pucuk kepala Riana, yang tengah menangis bahagia dalam pelukan nya.


" Alhamdulillah, Selamat Ayah Bunda. Baby Utun nya lahir dengan berat badan 3,8 Kg panjang 51 cm. Cantik seperti Bunda nya ". Ucap Perawat yang membantu membersihkan Baby Utun saat menyerahkan sang Bayi mungil berpipi pink itu kepada Andrei untuk di azankan.


Andrei pun dengan hati hati memindahkan bayi mungil yang tengah mengerjapkan kedua bola mata nya dari gendongan perawat kedalam gendongan nya.


" Eiliyah Andriana Az-Zahra ". Bisik Andrei selepas melantunkan azan di telinga kanan serta iqamah di telinga bayi mungil yang kini tersenyum seolah bahagia dengan nama yang di sematkan sang Ayah kepada nya.


Andrei mencium lembut kedua pipi putri cantik nya, dan tidak sadar tengah menitikkan air mata bahagia nya.


" Dede nya IMD kan Bunda? ". Riana mengangguk menjawab pertanyaan Dokter Aurel.


" Kalau begitu, Ayah bisa bantu Bunda untuk menaruh Dede nya di dada Bunda? ". Andrei meletakkan Baby Eil dengan hati hati di dada Riana.

__ADS_1


Dengan mata mengerjap bayi mungil itu tampak sibuk mencari sumber kehidupan wajib nya selama enam bulan kedepan. Riana menatap dalam penuh cinta sang bayi yang mulai menemukan sumber kehidupan nya itu.


🌹🌹🌹🌹


" Bunda... ". Setelah sepuluh menit Riana di pindahkan ke ruang rawat dengan Baby Eil yang tampak tengah terlelap tidur di dalam box bayi, Dhika tiba dengan di gendong oleh Andrei.


" Dede nya cantik Bunda ". Ucap Dhika pelan saat melihat kedalam box bayi menatap Baby Eil dengan sayang.


" Selamat ya Nak, semoga kelak Ara menjadi anak Sholehah ". Ucap Mama Shinta mengecup lembut pucuk kepala Riana.


" Aamiin. Makasih Mama ". Riana memeluk tubuh Mama Shinta dengan erat.


" Eil Oma, bukan Ara ". Protes Dhika ketika Mama Shinta.


" Kalau gitu Dhika mau panggil Ana, soal nya Dede mirip Putri Ana adik nya Elsa ". Ucap Dhika tak mau kalah hingga membuat semua nya tertawa dan hal itu membuat Baby Eil pun menangis.


" Aduh maafin Oma ya cantik ". Mama Shinta bergegas menuju box bayi dan mengangkat tubuh mungil Eiliyah dan seketika itu juga menghentikan tangis nya.


" Mirip Kamu Ri ". Mama Shinta mencium kedua pipi Eiliyah dan membuat bayi mungil itu menggeliat kecil dalam bedongan.


" Cantik kaya Bunda ". Puji Mama Shinta lalu menyerahkan Eiliyah kepada Riana.

__ADS_1


" Haus ya Cantik? ". Riana mengusap lembut pipi Eiliyah.


Karena di dalam ruangan ada Papa Bharata yang sedang berbincang dengan Mama Shinta dan juga Dhika, Andrei pun menutup tirai bangkar Riana agar bisa menyusui Eiliyah dengan nyaman.


Karena sejak awal Riana akan menerapkan IMD, maka sejak beberapa hari sebelum melahirkan Riana sudah mulai menstimulasi PD nya agar ketika melahirkan nanti bisa segera menyusui.


" Enak ya Dek ". Gumam Andrei yang duduk di samping Riana dengan alasan takut Riana kerepotan menyusui Eiliyah.


" Sisain buat Ayah ya Dek ". Riana menepuk tangan Andrei yang dengan usil pura pura mengusap pucuk kepala Eiliyah, namun dengan sengaja menyentuh sumber kehidupan yang tengah Eiliyah nikmati, dan sedikit meremas nya pelan.


" Astaghfirullah, Ayah ini tangan nya nggak usah main dulu deh ". Protes Riana yang di balas cengiran Andrei.


" Kangen Bunda ". Rengek Andrei meletakkan kepala nya di ceruk leher Riana.


" Sabar ya Ayah, baru juga sehari masih ada 39 hari lagi ". Andrei berdecak kesal mendengar ucapan Riana yang tengah menggoda pemilik si pemilik pamungkas, karena sarung nya harus di pingit dahulu selama 39 hari lagi.


" Jangan iseng deh ". Riana tertawa kecil melihat wajah Andrei yang di tekuk, saat Riana mengusap lembut rahang Andrei.


" Habis muka nya Ayah lucu banget. Jadi pengen... ". Bisik Riana semakin menggoda Andrei dengan suara sensual juga sentuhan lembut jemari lentik nya di dada Andrei.


" Astaghfirullah, Bunda ". Andrei mengusap lembut wajah Riana hingga membuat Riana tertawa kecil melihat wajah Andrei yang merah padam.

__ADS_1


Karena takut khilaf, Andrei pun akhirnya memilih meninggalkan Riana menyusui Eiliyah itu membuat Riana kembali tertawa kecil.


__ADS_2