Pelakor Halal

Pelakor Halal
S2 Jodoh Dari Dalam Perut


__ADS_3

Dhika menghela nafas pelan, niat hati nya ingin membantu, namun saat akan beranjak mendekat tanpa sengaja Dia melihat Kiyai Ahmad mengedipkan pelan mata nya kepada istri dan anak nya seraya mengangguk pelan sebelum kembali menutup mata nya.


" Astaghfirullahalazim ". Ucap panik yang lain saat melihat kedua mata Kiyai Ahmad tertutup.


Ayah dan yang lain nya membantu merebahkan tubuh Kiyai Ahmad, Bunda bergegas ke kamar mengambil aromaterapi.


Namun Dhika justru tak beranjak dari posisi duduk nya di samping Eil. Pria itu bahkan sibuk memainkan jemari Eil yang tengah berada dalam genggaman nya.


" A'a, itu Kiyai Ahmad nya di tolongin atuh ". Rengek Eil berbisik kepada Dhika.


Dhika berdecak pelan tak perduli dengan Umi Fatimah yang tengah memberikan minyak aromaterapi kesekitar hidung Kiyai Ahmad.


" Dia hanya pura pura Dek ". Bisik Dhika hingga membuat Eil pun terpaksa melirik sekilas keadaan Kiyai Ahmad.


Perlahan lahan kedua kelopak mata Kiyai Ahmad pun terbuka. Dengan di bantu oleh Ayah, Kiyai Ahmad duduk dengan memberikan bangku di belakang punggungnya.


" Dhika... ". Panggil Kiyai Ahmad pelan. Dhika melihat kepada Kiyai Ahmad dengan tatapan penuh selidik.


" Tolong, kabulkan keinginan Saya ". Ucap Kiyai Ahmad memelas.


Semua mata yang tidak mengetahui hal sekilas yang Dhika lihat tadi menatap Kiyai Ahmad dengan bingung.


Kiyai Ahmad mengalihkan pandangan nya kearah Eil yang tengah menundukkan kepala nya guna menjaga pandangan nya dari yang bukan Mahram nya.


" Nak, izinkan lah Fatimah untuk menjadi madu Mu ".


Deg

__ADS_1


Eil mengangkatnya kepala lalu melihat kepada Ayah dan Bunda nya dengan tatapan sedih. Hati Eil terasa teriris saat mendengar permintaan tersebut, hingga tanpa sadar Dia membalas gengaman tangan Dhika yang sejak tadi sudah menggenggam nya.


Eil mengambil nafas panjang dan menghela nya dengan perlahan.


" Semua keputusan ada di tangan A'a. Tapi sebagai seorang perempuan, Saya menolak untuk di madu ". Ucap Eil tegas seraya melihat kearah Dhika.


Dhika mengusap lembut pucuk kepala Eil dan kemudian merengkuh tubuh Eil kedalam pelukan nya.


" Kalau A'a bersedia mengabulkan keinginan Kiyai, InsyaAllah Saya ikhlas melepaskan status Saya sebagai istri A'a ". Ucap Eil lirih dan menundukkan kepala nya dalam pelukan Dhika menahan tangisan nya.


Dhika menghela nafas kesal lalu melihat kearah Kiyai Ahmad dan keluarga nya dengan tatapan tajam. Terutama Fatimah yang kini terlihat menangis dalam pelukan Umi nya.


" Sampai kapan pun Saya tidak akan melepaskan status istri Saya. Jadi Saya menolak keinginan Kiyai ". Ucap Dhika tegas.


Kiyai Ahmad kembali memegang dada nya dan menyenderkan tubuh nya ke kursi yang berada di belakang nya.


Saat yang lain kembali terlihat panik, Dhika justru terlihat masih menenangkan Eil dalam pelukan nya.


" Maaf, sebentar Saya akan menghubungi Dokter Rizal dahulu untuk memeriksa keadaan Kiyai. Kebetulan tadi Rizal mengabarkan sudah tiba di pondok untuk acara amal baksos besok ". Ayah, Bunda, Ustadz Amar serta Ustadz Zaki tampak melihat Dhika dengan heran.


Setahu mereka tidak ada acara yang akan di gelar besok. Seolah menjawab pertanyaan Dhika hanya memberikan kode mengangguk.


" Assalamu'alaikum Zal. Bisa ke rumah sebentar nggak? ". Sapa Dhika beberapa saat setelah memainkan HP nya.


" Tidak perlu panggilkan Dokter ". Ucap Kiyai Ahmad hingga membuat semua mata menatap heran kepada Kiyai Ahmad, kecuali Dhika yang menampilkan senyuman tipis nya.


" Langsung kesini aja Zal, Ayah nya Fatimah tadi pingsan ". Dhika melanjutkan ucapan nya menghiraukan ucapan Kiyai Ahmad.

__ADS_1


" Lebih baik kita langsung pulang saja ". Kiyai Ahmad berdiri dari duduk nya dan menarik paksa Istri dan anak nya pergi dari ruang tamu Keluarga Dhika.


Semua nya melihat dengan heran kepergian Kiyai yang di gadang gadang akan menjadi seorang Dewan di tahun mendatangkan itu pergi tanpa pamit dan mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam ". Ucap Dhika dengan sengaja berteriak melepas kepergian Kiyai Ahmad dan keluarga nya.


" Ck.. Dikira pondok pesantren itu perusahaan kali, bisa dengan seenak nya aja bikin perjodohan padahal tujuan nya supaya pesantren nya bisa dapat suntikan dana dari kita ". Gerutu Dhika yang langsung memasukkan HP nya kembali kedalam saku baju koko nya.


Plak


" Astaghfirullahalazim Ayah. Ini tengkuk nya Dhika lama lama bisa bengkok lho ". Protes Dhika karena Ayah nya kembali memukul tengkuk nya dengan keras.


Pandangan miris di arahkan semua yang berada di ruang tamu kepada Dhika yang tengah mengusap usap tengkuk nya.


" Nih bukti nya kalau Kiyai Ahmad emang sengaja deketin Fatimah sama Dhika, supaya bisa bikin pesantren nya lebih maju lagi dengan numpang tenar dari pondok kita ". Dhika menyodorkan HP nya kepada Ayah nya yang langsung di terima Ayah.


" Astaghfirullahalazim ". Ayah mengusap wajah nya dengan kasar saat membaca bukti chat Fatimah dan Kiyai Ahmad.


" Kamu sabotase komunikasi mereka A'? ". Dhika menggendikkan kedua bahu nya lalu merangkul bahu Eiliyah.


" Udah malam, Kami masuk ke kamar duluan ". Dengan santai Dhika mencium punggung tangan Ayah dan Bunda nya.


" Salim dulu sama Ayah dan Bunda mertua Deksay, supaya di do'a kan segera di karuniai anak anak yang Sholeh dan Sholehah ". Ucap Dhika menyuruh Eiliyah mencium punggung tangan Ayah dan Bunda.


" Dasar anak sholeh ". Pekik Ayah memukuli bahu Dhika hingga membuat yang lain nya tertawa.


Ustadz Riza, Ustadz Amar dan Zaki hanya bisa tersenyum kecil melihat interaksi Dhika dan Ayah yang juga Ayah Mertua nya tersebut.

__ADS_1


Helaan nafas pelan ketiga terdengar lirih saat melihat Eiliyah tersenyum di balik niqab nya saat Dhika merangkul bahu nya membawa masuk kedalam ruang utama setelah mengucapkan salam.


" Susah kalau jodoh udah di tekin dari dalam perut ". Gerutu Zaki yang di angguki Ustadz Riza dan Ustadz Amar.


__ADS_2