Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 58 Mencari Dalang


__ADS_3

" Astaghfirullahalazim. Ada apa lagi ini? ". Ayah meletakkan dengan kasar HP nya di atas meja setelah menerima telepon dari salah satu pengurus pesantren di luar kota.


" Ada apa Ayah? ". Bunda bertanya seraya meletakkan segelas teh dan beberapa macam gorengan di meja ruang keluarga.


" Ada berita yang menyudutkan Dhika dan Ara. Mereka bahkan menuduh Ayah sengaja menikahkan Ara yang masih di bawah umur agar bisa menguasai pesantren ini ". Ucap Ayah seraya menunjuk kearah HP nya.


Bunda pun meraih HP milik Ayah lalu membuka aplikasi hijau. Deretan chat dari beberapa grup bahkan beberapa orang tampak menchat secara pribadi menanyakan perihal informasi yang beredar tersebut.


Seolah membuktikan kebenaran kabar yang beredar mengenai Eil yang sudah menikah di bawah umur, ada yang menyertakan bukti ucapan Dhika yang menyatakan sudah menikahi Eiliyah sejak 5 tahun yang lalu.


Bila di runtut usia Eil 5 tahun yang lalu, saat Eil masih berusia 14 tahun, dan hal itu cukup menjadi bukti kalau pernikahan Eil termasuk pernikahan di bawah umur.


Ayah dan Bunda menghela nafas, tak ad lagi yang mereka curigai selain Kiyai Ahmad dan keluarganya.


Karena sebelum berita itu beredar baik Dhika maupun Eiliyah sudah mengatakan bertemu dengan Fatimah dan mengungkapkan pernikahan siri mereka 5 tahun yang lalu kepada nya.


Walau pun tak ingin berburuk sangka terhadap Fatimah dan keluarga nya, namun mereka sempat berpikir asal muasal masalah ini muncul adalah keluarga Fatimah.


" Bagaimana ini Yah? ". Tanya Bunda khawatir.


" Kita tak perlu takut dengan berita yang beredar Bun ". Ucap Ayah namun tak juga membuat Bunda tenang.


" Bunda bukan takut dengan berita yang beredar. Tapi yang Bunda takutkan adalah dampak berita itu terhadap Eiliyah Yah ". Ucap Bunda yang benar ada nya.


Apa yang Bunda ucapan benar ada nya. Berita yang beredar selama dua minggu ini membuat Eil terguncang.


Karena sejak berita itu beredar hampir dua minggu ini. Eiliyah lebih banyak terdiam bahkan sudah beberapa hari ini Eiliyah tidak berangkat kuliah dan jarang keluar rumah.


Waktu nya hanya di pergunakan untuk beribadah menyerahkan semua masalah nya kepada Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Banyak yang mencerca nya bahkan ada beberapa teman Fatimah selama di Kairo langsung melayangkan komentar pedas di media sosial Eiliyah bahkan men tag secara langsung media sosial Pesantren, dan terang terangan menyebut nya sebagai pelakor, karena masuk kedalam hubungan Dhika dan Fatimah.


Bahkan ada beberapa teman Fatimah yang mengabarkan kalau pernikahan Dhika dan Eiliyah lima tahun lalu itu karena Eiliyah hamil duluan. Dan hal itu membuat Dhika, Ayah dan Acid sangat marah sehingga Dhika pun melayangkan gugatan pencemaran nama baik terhadap orang tersebut.


" Dampak nya sangat parah Yah. Teteh sampai nggak mau kuliah, bahkan nggak mau ikutan mengajar di majlis ". Ucap Bunda khawatir.


" Ayah yakin Teteh pasti bisa menghadapi nya. Apalagi A'a kan saat ini sedang mencari si penyebar berita tersebut ". Ucap Ayah menenangkan Bunda.


" Tetap saja Ayah, Bunda khawatir kalau nanti Teteh... ".


" Teteh nggak apa apa Bunda. Insya Allah Teteh ikhlas dengan cobaan ini ". Bunda tertegun mendengar ucapan Eil yang tiba tiba datang dan kemudian duduk di antara kedua orang tua nya.


Sang Bunda memeluk nya dengan erat sementara sanga Ayah menepuk nepuk punggung nya dengan lembut.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Eil yang awal nya berusaha tegas tak ingin menangis, akhir nya tak dapat di bendung.


Dengan mengeratkan pelukan ke Bunda nya Eil menangis dengan pelan.


Eiliyah hanya menangguk menjawab ucapan Bunda nya.


" Ayah dan Bunda yakin, Teteh dan A'a pasti bisa lewatin cobaan ini ". Ayah mengecup pucuk kepala Eiliyah dengan penuh kasih sayang layak nya seorang Ayah.


" Insya Allah Ayah. Bantu do'a nya ya Ayah juga Bunda ". Rajuk Eil dalam pelukan Bunda nya.


" Assalamu'alaikum ". Sapa Dhika dari luar rumah.


" Waalaikumsalam ". Sahut sapa Ayah, Bunda juga Eiliyah.


Bahkan Eiliyah langsung beranjak meninggalkan pelukan Bunda nya untuk menyambut kedatangan Dhika setelah pamit kepada kedua orang tua nya.

__ADS_1


" Dede Cantik nya A'a habis nangis? ". Tanya Dhika saat Eil mencium punggung tangan kanan nya.


" Nggak A'a ". Jawab Eil. Dhika dengan refleks menangkup wajah Eil dengan kedua telapak tangan nya.


" Bohong ". Tanpa sungkan Dhika mengecup lembut kening Eil. Wajah cantik sang istri yang tidak menggunakan niqab saat di dalam rumah itu pun langsung merona, hingga membuat Dhika menjadi semakin gemas.


" Dede Cantik nya A'a tenang aja. Orang yang bikin Dede cantik sedih sudah A'a laporin dan sekarang sudah berada di kantor polisi ". Ucapan Dhika membuat Eil menatap kearah Dhika.


Dhika mengangguk seolah menjawab tatapan tanya Eiliyah.


" Beneran A'? ". Eil tampak terkejut dan sangat ingin tahu siapa dalang di balik berita yang beredar selama dua minggu ini.


" Kita rundingan sama Ayah, karena ini semua juga ada sangkut paut nya dengan Ayah ". Ucap Dhika lalu menggandeng tangan Eiliyah masuk kedalam ruang tamu untuk bertemu dengan kedua orang tua mereka.


" Ade buatin teh dulu ya A' ". Pamit Eil sebelum masuk ke ruang keluar. Dhika mengangguk sebelum sang istri berjalan menuju dapur.


Dhika mencium punggung tangan Ayah dan Bunda nya dengan takzim sebelum mendudukkan tubuh nya di sofa panjang yang berada di hadapan Ayah dan Bunda nya.


" Gimana A'. Kata nya Papa Putra Kalian sudah berhasil menangkap si pembuat berita? ". Todong Ayah bertanya, saat Dhika baru saja mendudukan tubuh nya di sofa ruang keluarga.


" Astaghfirullah Ayah, A'a baru sampai lho, baru duduk, nanti dulu ya A'a bakal ceritain siapa dalang nya setelah meneguk minuman dari bidadari syurga nya A'a ".


Ayah memutar malas kedua bola mata nya membalas ocehan Dhika yang memasang wajah tertawa kecil.


Tak lama kemudian Eiliyah tiba di ruang tamu setelah meletakkan secangkir teh dan beberapa camilan di meja Eil mendudukkan tubuh nya di samping Dhika.


Dengan lembut Eil menyerahkan cangkir berisi teh hangat itu kepada Dhika yang langsung di terima oleh Dhika.


" Terima Kasih Sayang ". Ucap Dhika yang lagi lagi membuat Sang Ayah memutar malas kedua bola mata nya mendengar ocehan Dhika.

__ADS_1


Eiliyah mengangguk membalas ucapan Dhika sementara Bunda yang melihat tingkah Ayah langsung menghadiahkan Ayah pukulan kecil di bahu Ayah dan hal itu membuat Dhika dan Eiliyah mengulum senyuman mereka.


" Ehm ... Apa Ayah dan Bunda sudah siap untuk mengetahui siapa dalang di balik berita yang beredar luas saat ini? ".


__ADS_2