Pelakor Halal

Pelakor Halal
S2


__ADS_3

Eil membuka kedua kelopak mata nya perlahan lahan. Desisan pelan keluar dari hela nafas nya kala merasakan nyeri di daerah inti nya saat menggerakkan tubuh nya.


" Sudah bangun Dek? ". Sempat terkejut kala melihat Dhika berada di dalam kamar nya.


Namun sedetik kemudian dia baru mengingat kalau semalam mereka sudah sah secara dadakan, dan Dhika sudah mengambil bonus ibadah pelengkap nya.


Seulas senyum kecil menghiasi wajah nya seraya menahan nyeri di bagian bawah nya guna membalas pertanyaan suami nya di sertai anggukan kepala pelan.


Wajah Eil tampak memerah melihat penampakan Dhika yang hanya mengenakan sarung sementara baju koko nya masih berada di nakas ranjang nya.


" Masih sakit? ". Dhika mendudukan tubuh nya di hadapan Eil yang sudah duduk di ujung pembaringan dengan kaki menjuntai di lantai.


" Sedikit agak ganjel A' ". Cicit pelan Eil.


" Maaf ya, A'a pikir kalau sekali nggak sakit ". Eil menepuk pelan kedua telapak tangan Dhika yang berada di pangkuan nya.


" Yang nama nya pertama ya udah pasti sakit lah A' ". Dhika tersenyum lalu beranjak dari duduk nya.


" A'a gendong aja mau? ". Eil menggelengkan kepala nya lalu berdiri perlahan dan mulai melangkah perlahan.


Dhika mengulum senyum nya saat melihat cara berjalan Eil yang seperti bebek.


" Bisa nggak keburu sholat malam Dek, kalau nungguin Kamu jalan ".


" Eh. A'a ish turunin atuh. Ana bisa jalan sendiri kok ". Protes Eil saat Dhika tiba tiba menggendong nya ala bridal style menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.


" Kamu berendem dulu aja sebentar ya, buat ngilangin sakit nya ". Eil lagi lagi mengangguk saat Dhika menurunkan nya di dalam bathtub.

__ADS_1


" Mau ngapain? ". Tanya Eil menyilangkan kedua tangan nya di dada saat Dhika hendak membuka daster tidur Eil.


" Bukain baju Kamu ". Jawab Dhika tanpa dosa, bahkan pria itu terlibat tarik menarik membuka dan menurunkan kembali daster yang masih di kenakan Eil di tubuh nya.


" Ana bisa sendiri A' ". Dhika tersenyum puas saat Eil akhir nya pasrah saat Dhika berhasil membuka daster nya.


" Eh mau ngapain lagi ? ". Pekik Eil saat Dhika tiba tiba membuka sarung yang di kenakan nya.


" Ikutan nemenin Kamu berendam ". Tanpa basa basi Dhika menarik tubuh Eil masuk kedalam bathtub dan mendudukan nya di depan Dhika dengan posisi saling memunggungi satu sama lain.


Dhika merebahkan kepala Eil di pundak nya, Eil pun memejamkan mata nya menikmati detak jantung Dhika yang berirama dengan indah.


Kedua tangan Dhika memeluk pinggang Eil dari belakang.


Bohong kalau Si Adik kecil tidak meronta di bawah sana, melihat Eil yang bagian bawah nya tampak bergerak kesana kemari, bisa di pastikan itu semua adalah hasil perbuatan adik kecil nya Dhika yang ingin mulai menjelajah.


" Masih sakit? ". Tanya Dhika.


" Mau sekali lagi boleh? ". Eil menelan saliva nya dengan kasar sebelum mengangguk pelan.


Dan akhir nya di sepertiga malam itu mereka isi sekilas dengan mengambil bonus ibadah pelengkap nya sebelum memulai aktivitas mereka hari ini.


🌹🌹🌹


Bunda menggelengkan kepala melihat cara berjalan Eil yang terlihat beda dari biasa nya.


" Assalamu'alaikum ". Sapa Eil dan Dhika saat tiba di dapur.

__ADS_1


" Waalaikumsalam ". Sahut Bunda mengusap lembut punggung Eil kala mantan gadis itu sudah berdiri dei sebelah nya.


" Mau buat sarapan apa Bun? ". Tanya Eil yang mulai mengupasi kulit bawang merah.


Terbiasa membantu sang Bunda memasak membuat Eil sudah terbiasa memasak. Bahkan masakan Bunda dan Eil bisa di bilang sama, jadi tak heran kalau Bunda ikut pergi kajian bersama maka Eil lah yang akan turun di dapur untuk memasak.


" Enak nya buat sarapan apa ya Teh?. Yang bisa bikin kita tambah semangat dan nggak lelah akibat ngejar bonus malam? ". Pertanyaan Bunda membuat wajah Eil tampak merona, bahkan Eil terlihat kikuk saat melihat sekilas tatapan Bunda nya yang tengah menggoda nya.


" Yang simple nggak bikin repot aja Bun ". Celetuh Ayah yang tiba tiba masuk ke dapur dan memeluk pinggang Bunda dan menghadiahkan kecupan di wajah Bunda.


" Ck, nggak usah pamer malu atuh Yah ". Eil dan Bunda memutar malas kedua bola mata mereka saat Dhika menjawab ucapan Ayah nya.


Kelakuan yang sama pun di lakukan Dhika kepada Eil, bahkan pria itu tanpa sungkan mengecup singkat bi*** Eil hingga membuat Ayah menghadiahkan pukulan keras di bahu Dhika.


" Sakit Ayah ". Protes Dhika berpura pura menangis di punggung Eil.


" Jauh jauh dari anak Ayah ". Dhika merekatkan pelukan nya kepada Eil saat Ayah menarik paksa tubuh nya agar menjauh dari Eil.


" Ayah juga menjauh dari Bunda ku ". Ucap Dhika tau mau kalah.


" Ck... Ayah sama A'a mending keluar dapur daripada ganggu di sini ". Kedua pria beda usia itu terdiam kala sang Ratu mengeluarkan suara nya.


" Mau sarapan apa nggak? ". Kedua nya mengangguk di bahu masing masing pasangan mereka.


" Ke depan, murotal di masjid, setengah jam lagi pulang buat sarapan ". Titah Bunda tak bisa ditolak.


" A'a tinggal ya Sayang. Ratu kalau udah marah bisa kacau ". Bisik Dhika yang kali ini di hadiahkan Bunda jiwiran di telinga kanan nya.

__ADS_1


" Buruan ". Titah Bunda, dan akhir nya kedua pria itu pun keluar dari dapur.


.


__ADS_2