
" Pergilah ". Hati Acid semakin teriris mendengar ucapan Natasha yang masih enggan menatap nya.
Bahkan Natasha membalikkan tubuh nya membelakangi Acid walau pun Acid masih mengenggam tangan nya.
Acid menundukkan kepala nya dalam dalam, hingga sesaat kemudian tangis yang ditahan nya itu pun pecah melihat Natasha yang tak menanggapi nya.
Kamar yang biasa nya ramai oleh perbincangan manis dan tawa kecil sepasang kekasih halal itu kini berisikan kesunyian tanpa kata hanya iringan isak kedua nya yang terdengar.
Mendapat beasiswa ke Kairo adalah cita cita Acid sejak kecil.
Sehingga tanpa membicarakan nya terlebih dahulu pria itu langsung menyetujui dan menyerahkan berkas penerimaan beasiswa tersebut.
Bahkan keluarga nya sendiri tidak tau kalau Acid sudah memutuskan untuk menerima beasiswa tersebut.
Mereka hanya mengetahui perihal Acid yang mendapatkan beasiswa dan memberikan saran untuk membicarakannya terlebih dahulu dengan Natasha sebelum menyetujui nya.
Dan kini hanya penyesalan yang Acid dapatkan akibat tindakan tergesa-gesa nya menyetujui menerima beasiswa tersebut.
Hati nya semakin bimbang karena tak mungkin meninggalkan Natasha yang tengah mengandung buah cinta mereka saat ini.
Bahkan bayangan tak bisa menemani proses kehamilan serta melahirkan dan membesarkan buah hati mereka kelak selama 5 tahun ke depan sudah terbayang nyata di pikiran nya.
Namun mengabaikan cita cita yang sudah di depan mata pun tak bisa Acid abaikan begitu saja.
Sebuah keputusan yang sulit harus di ambil pria muda yang baru menginjak usia 18 tahun itu.
Mengejar cita cita dan kehilangan masa masa awal sebagai orang tua, atau memilih meninggalkan cita cita demi keluarga. Sebuah keputusan yang sulit harus bisa di ambil nya saat ini.
Acid menghela nafas pelan di sela isakan nya. Memandang tubuh Natasha yang masih setia membelakangi nya walaupun kedua jemari mereka saling bertautan dalam genggaman.
Tubuh tenang Natasha namun sesekali bergetar akibat sisa isakan terlihat di mata Acid yang sedikit sembab, diyakini Acid sang istri saat ini sudah terlelap dalam tidur nya.
__ADS_1
Dengan perlahan lahan Acid merebahkan tubuh nya di belakang tubuh Natasha. Memeluk nya dengan lembut dan merebahkan kepala nya di balik punggung sang istri.
Punggung belakang istri nya adalah tempat ternyaman bagi nya saat merasa lelah dan juga bimbang.
" Maaf ". Bisik Acid lirih lalu merapatkan tubuh nya kepada sang istri hingga lelah pun menghampiri nya dan ikut terlelap tidur.
Sayup sayup terdengar suara alunan Ayat Suci berkumandang di Musholla yang menandakan masuk waktu Maghrib. Kedua kelopak mata berbulu mata lentik itu mengerjap perlahan lahan.
Menatap kebagian perut di mana lengan kekar bertengger manis melingkar di sana. Senyuman miris terukir dari bibir nya.
Egoiskah Dia jika Dia meminta sang pemilik lengan kekar itu memilih nya dengan mengabaikan cita cita nya sejak kecil?.
Helaan nafas pelan menguar perlahan dari helaan nafas nya.
Dengan gerakan perlahan lahan di balikkan tubuh nya guna menatap wajah sang pemilik lengan yang sudah berhasil memporak porandakan hati nya sejak beberapa tahun lalu itu.
Tangan kanan nya terulur guna mengusap lembut wajah yang pertama kali di lihat nya masih polos khas remaja pada umum nya.
Namun kini wajah polos itu sudah berubah menjadi wajah yang lebih dewasa seiring tanggung jawab yang di emban nya saat ini yang sudah menjadi seorang suami dan Ayah anak anak nya kelak.
Tangan mungil nya masih setia mengusap lembut wajah yang kini sudah menampakkan bulu bulu halus di sekitar pinggir wajah nya hingga membuat kadar ketampanan dan kedewasaan pria itu semakin terlihat.
Lenguhan pelan sang pemilik wajah membuat wanita itu menarik kembali uluran tangan nya dan berpura pura menutup kelopak mata nya.
Kali ini kedua kelopak mata sang pria yang terbuka perlahan-lahan. Seulas senyuman menghiasi wajah nya saat melihat wajah tenang wanita yang kini tengah mengandung buah cinta mereka kini sudah berada di hadapan nya.
Sebuah kecupan di kening di hadiahkan untuk sang pemilik hati. Membuat wajah sang pemilik kening langsung bersemburat merah.
" Maaf ". Bisik nya mengeratkan pelukan kepada sang istri.
Senyuman nya terukir saat merasakan sang istri membalas pelukan nya dengan erat.
__ADS_1
" Maaf karena sudah mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan Kamu terlebih dahulu ". Sebuah kecupan di daratkan Acid ke pucuk kepala Natasha.
" Maaf sudah harus membuat kalian bersedih ". Kecupan itu kembali mendarat di pucuk kepala Natasha.
" Aku mohon jangan pernah meminta Aku untuk pergi meninggalkan Kamu dan anak anak kita ". Acid mengeratkan pelukan nya kepada Natasha.
" Dan membuat Kamu harus kehilangan cita cita hanya demi tetap berada di sisi Kami? ". Ucapan Natasha membuat Acid kembali dilema.
Natasha yang menyadari kediaman sang suami hanya bisa menghela nafas pelan.
" Aku tidak mau kelak Kamu akan menyesali keputusan karena lebih memilih memilih Kami di bandingkan menggapai cita cita Kamu. Aku tak ingin kehadiran Kami kelak akan membawa kekecewaan buat Kamu. Jadi pergilah gapai cita cita yang menjadi impian Kamu sejak kecil ". Acid terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Natasha.
Dilerai nya pelukan kepada istri nya lalu menangkup wajah Natasha dengan kedua telapak tangan nya.
" Terima kasih Sayang ". Hati Natasha teriris saat melihat senyuman bahagia di wajah Acid setelah mendengar ucapan nya.
Sebuah kecupan dihadiahkan Acid di kening Natasha, namun hal itu justru membuat Natasha meneteskan air mata nya.
Acid mengusap lembut tetesan air mata yang membasahi wajah mulus sang istri.
" Terima kasih karena sudah memikirkan cita cita Ku sejak kecil. Namun tahukah Kamu setelah Aku menikah dengan Kamu maka cita cita AKu pun berubah ". Kening Natasha berkerut menandakan Dia kebingungan dengan ucapan Acid.
" Melihat Kamu bahagia adalah impian Aku sejak mengenal dekat Kamu. Memiliki anak anak yang sholeh dan sholehah dari Kamu itu adalah impian Aku sejak menikahi Kamu. Jadi Aku tidak akan pernah bermimpi untuk menggapai cita cita Ku sejak kecil kalau impian Aku sudah nyata dan itu sudah terwujud dengan kehadiran Kamu dan juga Mereka ". Acid berucap lalu mengecupi perut Natasha yang mulai sedikit membuncit.
" Tapi bagaimana dengan beasiswa nya? ". Pertanyaan Natasha di jawab Acid dengan senyuman.
" Masih banyak yang lebih membutuhkannya di banding kan Aku. Bagi Aku, Kamu dan Mareka adalah yang terpenting dan akan selalu menjadi yang terpenting setelah Yang Maha Kuasa dan orang tua Aku untuk saat ini, sekarang dan hingga ajal memisahkan ". Natasha meneteskan air mata nya lalu memeluk Acid dengan sangat erat.
Tak ada yang bisa di ungkapan oleh Natasha selain tangisan walau pun ada rasa bersalah karena Acid memilih nya dan mengorbankan cita cita nya sejak kecil.
" Udah atuh jangan nangis lagi. Nanti Dede Utun nya ikutan melow ". Natasha memukul lembut punggung Acid yang masih di peluk nya.
__ADS_1
" Kamu nggak nyesel lepas beasiswa?. Kairo lho ". Acid mengusak lembut kepala Natasha sambil menggelengkan kepala nya.
" Aku akan menyesal kalau Aku meninggalkan moment pertama kali Mereka bergerak di dalam perut. Akan lebih menyesal saat tidak menjadi orang yang pertama kali melihat Mereka keluar dari dalam perut, mengazani dan memberikan nama untuk Mereka. Dan akan sangat menyesal ketika tidak melihat tumbuh kembang Mereka setiap hari. Jadi ke Kairo adalah impian Aku saat masih kecil. Tapi Kalian adalah impian yang sudah nyata. Jadi tak perlu mengejar mimpi jikalau ada mimpi yang sudah menjadi kenyataan ". Ucap Acid panjang lebar hingga membuat Natasha semakin terharu.