
Sesuai dengan yang tertera di dalam berkas saat penandatanganan pembuatan asuransi, baik Dito maupun Misya mencantumkan nama Dhika sebagai penerima santunan asuransi mereka.
Membuat Sutisna dan Istri nya menjadi tidak terima. Dengan dalil sebagai kakek dari pihak Ayah, Sutisna memaksa pembatalan hak asuh Dhika terhadap Andrei.
Bahkan Sutisna dengan nekat meminta banding kepada Pihak Pengadilan mengenai hak asuh Dhika.
Namun dengan melihat bukti berupa berkas serta bukti rekaman percakapan Sutisna saat mengusir Andrei dan Dhika dulu membuat pihak Pengadilan menolak permintaan Sutisna.
Bahkan atas laporan pihak Asuransi, Sutisna ditetapkan sebagai tersangka dengan kasus penipuan dengan melampirkan Surat Pengadilan palsu hak asuh Dhika oleh pihak Pengadilan.
" Keterlaluan Kamu Drei ". Bentak Sutisna saat dipertemukan dengan Andrei sebagai saksi untuk kasus pemalsuan surat hak asuh Dhika.
" Atas dasar apa Kamu melaporkan Saya atas kasus penipuan ". Bentak Sutisna.
" Bukan Pak Andrei yang melaporkan perbuatan Bapak. Tapi pihak asuransi lah yang melaporkan ke pengadilan, dan Pengadilan lah yang melaporkan Bapak ". Bela pengacara Andrei yang bernama Akhtar.
__ADS_1
Akhtar menyerahkan bukti laporan kasus Sutisna kepada Sutisna dan juga pengacara nya.
Pengacara Sutisna yang bernama Abraham itu tampak menghela nafas pelan.
" Bukti sangat berat Pak ". Bisik Abraham kepada Sutisna hingga membuat Sutisna menggebrak meja.
" Saya ini orang tua Dito, Saya lah yang lebih berhak atas uang asuransi nya Dito dan Misya, karena premi Misya sudah pasti Dito yang bayarkan ". Ucap Sutisna membuat yang mendengar ucapan nya hanya bisa menggelengkan kepala nya tak percaya.
" Tapi Dhika yang lebih berhak menerima premi asuransi tersebut Pak ". Andrei menahan Akhtar yang mulai terpancing emosi.
" Dasar serakah, gila harta. Hidup Bapak tidak akan berkah dengan mengambil hak anak yatim piatu. Apalagi anak itu adalah cucu Bapak sendiri, darah daging Bapak sendiri ". Ucap Akhtar yang tak dapat menahan unek-unek nya sejak menangani kasus Dhika.
" Siapa yang mengambil hak anak yatim piatu hah?. Saya hanya mengambil hak Saya sebagai orang tua Dito ". Akhtar menggeram kesal, ingin membalikkan ucapan Sutisna namun Andrei melarang nya.
" Bukankah sudah Saya bilang, Saya akan menyerahkan premi asuransi milik Mas Dito, tapi Bapak nya saja yang tidak sabaran dan malah mengajukan diri sebagai penerima premi Mas Dito dengan melampirkan surat palsu dari pengadilan atas hak asuh Dhika ". Ucap Andrei hingga membuat kedua pengacara muda itu menatap tak percaya kepada Andrei.
__ADS_1
" Tapi Kamu yang dengan sengaja memviralkan masalah ini ke media sosial kan? ". Ucap Sutisna mengalihkan pembicaraan.
" Bukan Pak Andrei yang memviralkan masalah ini Pak ". Ucap seorang remaja pria yang masih mengenakan pakaian seragam putih abu abu memasuki ruang pertemuan.
" Akmal? ". Ucap Akhtar yang di angguki remaja tersebut.
" Saya memviralkan Bapak ". Ucap remaja itu santai lalu mendudukan diri nya di bangku yang berhadapan dengan Sutisna.
" Lagi Bapak tuh serakah nya kelewatan Pak. Itu hak nya cucu Bapak bukan Bapak. Lagi juga nih ya Pak serakah sama harta anak yatim apalagi piatu pula, udah gitu cucu sendiri lagi, hidup nya nggak bakal berkah Pak ". Akhtar dan Andrei bahkan sampai menahan tawa nya mendengarkan ocehan Akmal kepada Sutisna hingga membuat pria paruh baya yang berada di di hadapan nya tampak semakin kesal.
" Itu hak Saya ". Ucap Sutisna kesal.
" Bapak meminta premi atas nama anak Bapak, lalu bagaimana dengan anak dari anak Bapak?. Bukan kah Dia yang lebih berhak? ". Andrei meringis ngeri melihat meja yang kembali di gebrak Sutisna.
Rasa kalau meja itu bisa bicara, sudah tentu ocehan Akmal kalah pedas dengan ocehan si meja yang mendapatkan dia kali gebrakan dari Sutisna.
__ADS_1
" Anggap saja itu bukan rezeki Bapak, tapi rezeki cucu Bapak ". Ucap santai Akmal yang berhasil membuat tawa Andrei juga Akhtar yang ditahan menjadi pecah.