
Ruangan tengah kembali hening, setelah Ayah dan Bunda meninggalkan Eiliyah dan Dhika di sana.
" Dek ". Eiliyah terdiam entah karena sengaja tak menjawab atau memang gadis itu tidak mendengar panggilan Dhika.
" Astaghfirullah ". Pekik Eiliyah terkejut kala tiba tiba Dhika menyentuh dan mengenggam erat telapak tangan kiri nya.
" Jangan bengong ". Eiliyah mencoba menarik tangan nya dari genggaman Dhika namun sia-sia, kerena Dhika justru semakin mengeratkan genggaman nya.
" Maafin A'a, karena sengaja bilang ke Ayah juga Bunda tentang kita ". Ucap Dhika yang kini berjongkok di hadapan Eiliyah.
" Maaf, karena nggak sejak dulu A'a mengakuinya kepada Ayah juga Bunda ".
" Maaf, kalau ternyata A'a semakin tidak bisa menganggap Kamu sebagai adik ".
" Maaf... ".
Eiliyah meletakkan telunjuk kanan nya di bibir Dhika sehingga membuat Dhika tidak melanjutkan ucapan nya.
" Apa A'a nggak cape minta maaf melulu? ". Dhika meraih tangan kanan Eiliyah dan mengenggam nya dengan erat.
" Nggak. A'a bakal ucapin kata maaf setiap saat setiap waktu sampai Kamu bosen dengar nya ". Ucap Dhika seraya tersenyum dan menatap lembut Eiliyah.
Eiliyah menghela nafas pelan dan mengalihkan pandangan ke arah lain guna menutupi wajah nya yang merona karena Dhika yang menatap nya dengan lembut.
__ADS_1
Sejak kejadian lima tahun yang lalu perasaan Eiliyah terhadap Dhika ternyata sudah berubah. Perasaan sayang kepada Dhika sebagai Kakak nya pun berubah menjadi rasa sayang terhadap lawan jenis.
Bahkan saat Dhika menghubungi keluarga, Eiliyah menghindar bukan karena tidak ingin bertemu Dhika, namun kehadiran Fatimah yang selalu berada di sekitar Dhika lah yang membuat Eiliyah engan berkomunikasi dengan Dhika.
Dhika menumpuk jemari Eiliyah dan jemari nya di atas pangkuan Eiliyah dan kemudian mendudukan tubuh nya di hadapan Eiliyah.
Sepuluh tahun yang lalu Eiliyah lah yang selalu merebahkan kepalanya di pangkuan Dhika, kali ini pria itu merebahkan kepala nya di pangkuan Eiliyah.
" Ehm... Masih belum afdol sah nya ". Suara Ayah membuat Dhika mengangkat kepala nya dari pangkuan Eiliyah.
" Ya ampun Ayah, secara siri udah sah lho ". Bela Dhika.
" Nggak afdol karena bukan Ayah wali nikah nya, dan pernikahan kalian juga dengan di dasari paksaan ". Ucap Ayah tak terbantahkan.
" Teteh ke kamar. Sebentar lagi Ustadz Amar dan Ustadz Riza juga Mang Ujang tiba ". Eiliyah mengangguk lalu beranjak dari duduk nya.
" Duduk ". Dhika mendudukkan tubuh nya di hadapan Ayah nya.
" Apa A'a yakin dengan keputusan A'a untuk menikah dengan Eil? ". Dhika mengangguk cepat.
" Lalu bagaimana dengan Fatimah? ". Dhika tampak menghela nafas pelan mendengar pertanyaan sang Ayah.
" Ayah mau jujur sama A'a. Ada tiga orang pria yang sudah meminta Eil kepada Ayah. Dan Kamu sudah pasti tau siapa yang Ayah maksud ". Dhika menatap penuh tanya kepada Ayah nya.
__ADS_1
" Ustadz Riza, Ustadz Amar dan juga Zaki. Mereka meminta secara langsung kepada Ayah beberapa bulan yang lalu. Dan Ayah sudah membahas nya dengan Bunda dan Ayah pun sudah menanyakan kesediaan Eil untuk memilih satu di antara tiga pria tersebut ". Ucap Ayah membuat Dhika menjadi risau.
" Ada satu nama yang Eil pilih ". Dhika menelan saliva nya dengan sudah saat sang Ayah menatap nya dengan tajam.
" Dan Ayah menyetujui nama yang Eil pilih ". Dhika menundukkan kepala nya dalam dalam guna menutupi kerisauan hati nya.
" Assalamu'alaikum ". Terdengar suara sapa salam dari ruang depan dan tak lama kemudian Acid masuk kedalam dengan di sertai tiga orang pria muda dan seorang pria paruh baya masuki ruang tengah.
" Waalaikumsalam ". Balas sapa Ayah dan Dhika bersamaan.
Perasaan Dhika semakin kacau kala melihat kehadiran Zaki yang merupakan sahabat nya sejak SMP, padahal setahu Dhika Zaki saat ini masih berada di luar kota mengurus pondok pesantren milik orang tua nya.
" Apa kabar Ka ". Sapa Zaki
" Baik. Kok nggak ngasih kabar ada di sini ? ". Balas Dhika setelah ber tos dengan Zaki.
" Mau silaturahmi sekalian ngajak Abah sama Umi buat lebih kenal dengan Ayah dan Bunda ". Ucapan Zaki membuat Dhika melihat kearah Ayah nya, namun sang Ayah terlihat cuek dan sibuk berbincang dengan Mang Ujang.
" Eiliyah nya kemana Ka? ". Pertanyaan Zaki membuat hati Dhika tiba tiba memanas.
" Di kamar nya ". Tanpa sadar Dhika berucap dengan nada kesal.
" Gimana kabar Fatimah?. Kata nya Fatimah, Kamu akan membawa Ayah dan Bunda menemui keluarga nya? ". Tanya Zaki.
__ADS_1
" Saya pribadi tidak pernah menjanjikan pertemuan tersebut. Karena pada dasar nya Saya sudah mempunyai pilihan sendiri ". Zaki tampak terkejut dengan pernyataan Dhika.
" A'. Zaki kemari ". Zaki membatalkan pertanyaan yang ingin di lontarkan nya kepada Dhika saat Ayah memanggil mereka untuk mendekat.