
" Jadi solusi apa yang Putra tawarkan? ".
Dhika menghela nafas pelan.
" Om Putra meminta kita melanjutkan masalah ini ke jalur hukum. Karena sudah bukan hanya menyerang Keluarga saja namun juga berpengaruh terhadap Pesantren ".
Ayah dan Bunda menangguk setuju.
" Om Putra juga sudah melayang Surat panggilan untuk Fatimah dan keluarga nya, sementara Mantan nya Ayah sudah di tetapkan sebagai tersangka ".
" Ck. Nggak usah pakai embel embel Mantan juga kali A' ".
Bukan nya marah atas ucapan Dhika yang membawa embel embel mantan, Bunda justru tertawa kecil saat Ayah memprotes ucapan Dhika.
" Biar lebih berkesan Yah ". Ayah melemparkan selembar kertas yang sudah di gulung kearah Dhika. Dhika yang lengah pun terpaksa menerima kertas yang mendarat di kening nya tersebut.
" Sayang, Ayah nakal ". Rengek Dhika menggelayut manja di lengan kiri Eil, dan Eil pun tertawa kecil melihat ulah Dhika yang berpura-pura merajuk manja.
" Menjauh, jangan dekat dekat anak Ayah ". Protes Ayah. Bunda dan Acid menggelengkan kepala nya melihat lagi lagi Dhika dan Ayah nya bertengkar memperebutkan perhatian Eil.
Ketiga pria di keluarga itu memang selalu saling berebut kasih sayang juga perhatian Bunda dan Eiliyah.
Jadi jangan heran, kalau dulu saat Dhika di Kairo hanya Ayah dan Acid saja yang bertengkar merebut perhatian Eil, setelah Dhika kembali dari Kairo Acid lebih sering bertengkar dengan Ayah nya memperebutkan Bunda, dibandingkan harus berdebat dengan Dhika memperebutkan perhatian Eil.
Karena Kakak angkat yang sekarang merangkap menjadi kakak ipar nya itu akan segera mengultimatum tidak akan membantu mengerjakan tugas nya kalau sampai berani bermanja dengan Eil jika ada Dhika di antara mereka.
Sementara Dhika, walau pun sejak kecil selalu dekat dengan Bunda nya, sejak akil baliq cenderung lebih menjaga jarak kedekatan nya dengan sang Bunda karena batasan Mahram mereka.
" Ayah juga ngapain deket deket sama Bunda Aku " Balas Dhika tak mau kalah.
Bunda, Eiliyah dan Acid memutar malas kedua bola mata mereka melihat tingkah kedua lelaki kesayangan pasangan masing masing tersebut.
" Ck dasar bucin ". Celotoh Acid membuat kedua pria dewasa itu menatap tajam kepada nya.
Apalagi dengan tanpa tau malu nya pria paling muda di keluarga itu tengah menggandeng lengan kiri Bunda yang berada di sisi kanan nya dan lengan kanan Eiliyah yang berada di sisi kiri nya.
__ADS_1
" Maafkan Ananda duhai Ayahanda dan juga Kakanda. Berhubung Ananda lapar dan juga butuh bantuan mengerjakan PR, maka dengan senang hati Ananda meminjam bidadari syurga Ayahanda dan juga Kakanda. Assalamu'alaikum ". Ujar Acid yang langsung mengajak Bunda dan Kakak nya berjalan beriringan ke ruang makan.
" Ade... ". Kedua pria itu pun akhir nya menghentikan pertengkaran receh mereka dan berjalan beriringan sambil merangkul pundak mengikuti ketiga orang kesayangan mereka.
" Ayah, mau punya cucu berapa dari A'a juga Teteh ".
Pletak
" Astaghfirullahalazim Ayah. Bisa bongkok A'a nih lama lama kalau tengkuk nya di pukul melulu ". Protes Dhika.
" Usaha aja baru mulai udah nantangin mau minta cucu berapa ". Ucap Ayah.
" Ada Ayah yang harus nya nanya ke Kamu, masih mau punya adik atau nggak? ". Dhika menghentikan langkah nya lalu melihat heran kepada Ayah nya.
" Emang Ayah sama Bunda ada niatan mau nambah adik buat Acid ? ". Ucap Dhika yang sengaja membesarkan suara nya agar terdengar Acid.
Acid yang paling anti punya adik lagi langsung menghentikan langkah nya dan membalikkan tubuh nya dan melepaskan rangkulan nya kepada Bunda juga Kakak nya.
Acid memasang wajah kesal seraya menatap tajam kedua pria beda usia yang tengah menatap nya dengan wajah usil mereka.
" Hadeuh. Ayah udah deh jangan bikin drama baru lagi ". Protes Bunda yang langsung menarik Acid kembali dalam rangkulan nya dan kemudian mendudukkan Putra bungsu nya yang tengah menekuk wajah nya itu di atas kursi makan nya setiba nya di ruang makan.
Para pria sudah duduk manis di bangku mereka masing masing. Sementara Bunda dan Eiliyah mengambilkan nasi untuk pasangan mereka, terkhusus Bunda, Dia pun mengambilkan nasi untuk Putra bungsu nya tersebut.
" Makasih Bunda ". Bunda mengangguk mendengar ucapan Ayah juga Acid yang bersamaan.
" Lho lho lho, kok malah bawa Teteh sih Bun ". Eiliyah menyerahkan sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauk nya kepada Dhika.
" Makasih sayang ". Eiliyah membalas ucapan Dhika dengan seulas senyuman dan kemudian mendudukkan tubuh nya di samping Dhika.
" Teteh tuh masih mau lanjutin kuliah dulu Bunda. Baru mikirin momongan ". Jawaban Eiliyah langsung membuat suasana yang tadi nya hangat itu kini berganti dengan kesunyian.
Terlihat wajah Dhika yang kini di tekuk, sementara Eiliyah terlihat biasa saja menikmati makan malam nya.
Ayah, Bunda dan Acid lebih memilih diam tak menanggapi ucapan Eiliyah. Dan seperti nya Eiliyah tidak menyadari kalau ucapan nya itu telah membuat Dhika kecewa.
__ADS_1
Karena sejati nya Dhika sendiri memang tidak ingin Eiliyah menunda-nunda memiliki momongan. Walau pun Dhika sadari usia Eiliyah yang baru memasuki usia 19 tahun itu masih cukup muda untuk memiliki anak.
Namun ucapan Eiliyah itu membuat Dhika merasa kalau Eiliyah masih belum bisa menerima pernikahan mereka yang saat ini ataupun 5 tahun yang lalu.
" A'a mau nambah? ". Tanya Eiliyah ketika melihat Dhika sudah menghabiskan isi dalam piring nya.
" Tidak, sudah cukup Eil ". Jawab Dhika.
Eiliyah dan yang lain nya mengernyitkan kening mereka saat mendengar panggilan Dhika untuk Eil.
Ayah, Bunda dan Acid kembali hanya diam tak ingin membahas perihal panggilan Dhika untuk Eiliyah.
" A'a duluan ya Ayah, Bunda, para Adik, masih ada pekerjaan yang harus A'a selesaikan ". Pamit Dhika menghiraukan Eiliyah yang melihat heran kepada tingkah Dhika.
" Iya ". Jawab Ayah, Bunda juga Acid bersamaan.
Dhika pun beranjak dari posisi duduk nya dan kemudian berjalan meninggalkan ruang makan setelah pamit kepada Ayah dan Bunda nya.
" Ngambek tuh Teh ". Ucap Acid setelah terdengar suara pintu tertutup beberapa menit setelah Dhika pergi.
Eiliyah melihat kepada Acid dengan heran.
" Kok gara gara Teteh? ". Protes Eiliyah yang terpaksa mengakhiri makan nya lalu melihat kepada Ayah dan Bunda nya dengan heran.
" Ck, Teteh tuh sadar nggak sih kalau ucapan Teteh buat menunda punya momongan itu membuat A'a tersinggung? ".
Kedua bola mata Eiliyah membulat menanggapi ucapan Bunda dengan nada yang cukup tinggi.
Dengan melihat ekspresi kecewa Ayah, Bunda serta adik nya, Eiliyah menyadari kalau bukan hanya suami nya yang marah atas ucapan nya tadi. Tetapi Ayah, Bunda serta Adik nya pun terlihat marah dengan ucapan Eiliyah tadi.
" Maaf ". Ucap Eiliyah lirih.
" Bicarakan baik baik dengan A'a ". Ucap Ayah dingin lalu pergi meninggalkan ruang makan di susul Acid yang pergi.
" Bunda ". Ucao Eiliyah merengek.
__ADS_1
" Seperti yang Ayah bilang, bicara kan baik baik dengan A'a. Karena Kamu sekarang sudah menjadi istri A'a, berarti A'a segala masalah Kamu harus rundingkan dulu dengan A'a ".
Eiliyah menghela nafas pasrah mendengar ucapan sang Bunda.