
Sudah enam bulan sejak kepulangan Dhika dari Kairo dan sejak itu pula hubungan nya dan Eiliyah tak berubah.
Pihak keluarga Fatimah sudah beberapa kali mengundang Keluarga Andrei untuk bersilaturahmi ke kediaman mereka. Namun Dhika selalu menolak untuk pergi ke sana.
Bahkan Dhika sudah secara terang terangan menolak perjodohan yang di ajukan keluarga Fatimah dengan alasan hubungan nya dengan Fatih hanya sebatas teman.
Tok Tok Tok
" Teh ". Panggil Acid dari balik pintu kamar Eiliyah.
" Masuk Dek ". Balas Eiliyah.
Acid melongok kepala nya dari balik pintu, tampak sang Kakak sedang duduk di atas sajadah dengan masih menggunakan mukena nya.
" Di panggil Ayah. Ada yang mau Ayah omongin sama Teteh ". Ucap Acid yang takjub dengan wajah cantik kakak nya.
" Iya nanti Teteh turun ". Ucap Eiliyah.
" Teh ". Acid memutuskan masuk kedalam kamar Eiliyah, hingga membuat Eiliyah mengernyitkan kening nya mendengar nada panggilan Acid yang sedikit pelan.
" Kenapa?". Tanya Eiliyah saat melihat Acid menggaruki punggung leher nya.
" Apa Teteh tau, kalau A'a tuh sebenar nya bukan anak kandung nya Ayah sama Bunda? ". Eiliyah menatap tajam Acid yang tertunduk.
" Kamu tau dari mana Dek? ". Tanya Eiliyah menarik paksa tangan Acid dan mendudukan tubuh adik nya di kursi belajar nya.
" Tadi A'a minta izin buat... ". Acid melihat Eiliyah dengan hati hati.
" Buat apa? ". Tanya Eiliyah penasaran.
" Tadi Acid dengar A'a minta izin buat menikahi Teteh " Cicit Acid pelan.
Eiliyah yang terkejut mendengar ucapan Acid sempat terhuyung kebelakang hingga pinggul nya terpentuk pinggir nakas kasur nya.
" Terus Ayah nggak izinin. Tapi A'a bilang A'a bukan anak kandung Ayah juga Bunda jadi boleh kalau menikahi Teteh ".
__ADS_1
" Terus A'a bilang kalau A'a udah bikin dosa sama... ".
Eiliyah segera berlari keluar kamar nya tanpa menghiraukan Acid yang belum menyelesaikan ucapan nya.
Kedua bola mata menatap dengan lirih kepada sang Ayah dan Bunda yang tengah terduduk lemah di atas sofa ruang keluarga, sementara Dhika tampak duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tua nya sambil menangis.
" Ayah.. Bunda ". Panggil Eiliyah pelan. Ketiga nya mengalihkannya pandangan kearah Eiliyah.
Eiliyah menatap Dhika dengan kecewa, sementara Dhika tampak tertegun melihat wajah Eiliyah yang terlihat semakin cantik dan dewasa di bandingkan lima tahun yang lalu saat di tinggalkan nya.
" Maafin Teteh ". Ucap Eiliyah menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Ayah dan Bunda nya.
Andrei menepuk pelan tempat kosong di samping kiri nya seolah memberikan kode kepada Dhika agar duduk di sebelah nya.
" Kenapa Teteh hanya diam? ". Eiliyah merapatkan pelukan nya kepada Bunda nya.
" Padahal Ayah dan Bunda selalu saling bertanya ada apa dengan Eiliyah? ". Bunda menepuk nepuk pelan dada nya yang terasa sesak.
" Kenapa anak Ayah dan Bunda yang biasa nya ceria menjadi pendiam? ". Eiliyah yang menahan isak pun hanya bisa menyembunyikan kepala nya dalam dekapan sang Bunda.
" Sejauh mana Kalian melakukan nya? ". Tanya Bunda. melerai pelukan nya dengan Eiliyah.
" Apakah sampai? ". Kepala Eiliyah menggeleng dengan cepat, seolah paham apa yang di maksud oleh Bunda nya.
" Kapan kalian? ".
" Sewaktu Kita liburan di kampung Tante Tiara ". Jawab Dhika cepat.
" Kami di gerebek karena berdua di tengah sawah dan langsung di nikahkan saat itu juga Yah ". Ucap Dhika.
Ayah dan Bunda menghela nafas mereka nyaris bersamaan.
" Kalian anggap apa Ayah dan Bunda? ". Ucap Bunda meninggi.
" Bahkan Ayah pun tidak kalian jadikan wali Eil? ". Dhika menundukkan kepala nya dalam dalam.
__ADS_1
" Bunda kecewa sama Kalian. Terutama Kamu A' ".
" Kamu paham tentang agama, tapi... ".
" Kita nggak ngapa ngapain Ayah ". Bela Dhika.
" Tapi demi Allah, Kami cuma neduh pas lagi lihat sawah tau tau hujan ".
Plak
Belum juga Dhika melanjutkan ucapan nya Andrei sudah terlebih dahulu menghadiahkan pukulan yang cukup keras di punggung leher Dhika hingga membuat Dhika nyaris tersungkur dari duduk nya.
" Aduh sakit Ayah ". Dhika mengusap punggung leher nya sambil meringis.
" Lebih sakit Ayah dan Bunda yang kalian langkahi ". Ucap Ayah dingin.
" Ade Acid keluar. Panggil Ustadz Amar kemari ". Acid menongolkan kepala nya pelan pelan dari balik pilar sambil menyengir.
" Kebiasaan nguping wae ". Gerutu Bunda menjiwir kecil cuping telinga Acid.
" Maaf atuh Bunda. Acid kepo ". Ucap Acid sambil nyengir kuda.
" Buruan panggil Ustadz Amar juga Ustadz Riza dan Mang Ujang kemari ". Titah Ayah.
" Siap Ayahanda Prabu ". Acid memberikan hormat sebelum bergegas keluar rumah memanggil para Ustadz yang pinta Ayah nya.
" Kalian harus nikah ulang malam ini juga ".
" Tapi Ayah... ". Ayah mengangkat telapak tangan nya kearah Eiliyah menolak alasan nya.
Ayah lalu berdiri dari duduk nya, sebelum lagi lagi menghadiahkan Dhika pukulan di punggung leher anak angkat nya tersebut.
" Nggak ada tapi tapi an ". Ayah mengulurkan tangan kanan nya kepada Bunda yang langsung di sambut oleh Bunda.
" Ayo Bunda kita biar kan dua anak ini bicara dari hati ke hati, ingat jangan macam macam pernikahan kalian lima tahun lalu belum dah, karena tidak di wali kan oleh Ayah ". Dhika dan Eiliyah mengangguk pelan melepas kepergian Ayah dan Bunda kedalam kamar mereka.
__ADS_1