
" Buruan atuh, Dhika sama Mama Shinta udah nungguin ". Rengek Riana kala Andrei malah duduk dengan santai selepas menghabiskan tanpa sisa isi yang berada di dalam rantang.
" Ya sebentar atuh Neng Cantik. A'a tuh baru kelar madang, nasi nya aja masih di tenggorokan, belum sampai perut buat di cerna ". Ujar Andrei beralasan.
Riana menggidikkan bahu nya kala Andrei mengubah panggilan nya menjadi A'a
" Emang nya Kamu nggak kangen gitu sama A'a". Rengek Andrei.
" Ish, apaan sih Kak menih pake A'a segala ". Andrei terkekeh geli melihat tingkah Riana.
" Ya harus mulai di biasakan manggil A'a atau Mas atau Abang atau apa gitu yang romantis ". Ucap Andrei.
" Panggil sayang juga nggak apa apa kok, nanti kalau udah halal Kamu panggil Hubby atau Suami Ku atau... ".
" Ck, buruan ah. Ini liat Mama udah telepon ". Riana mengalihkan ucapan Andrei yang belum selesai itu dengan menunjukkan HP nya.
Andrei menghela nafas kesal kala Riana menggeser tombol untuk menerima panggilan.
" Bunda.... ". Riana bahkan harus menjauhkan HP nya dari telinga kanan nya saat terdengar suara Dhika menteriakan nama nya dari ujung sana.
" Assalamu'alaikum A'a ganteng ". Sapa Riana yang di balas suara cengiran Dhika.
__ADS_1
" Waalaikumsalam Bunda. Kok Bunda belum sampai. Cepetan Bunda. A'a sama Oma udah nungguin di salon nya Oma Rita tau ". Protes Dhika.
" Iya sebentar ya. Tadi Bunda temenin Om Drei makan dulu ". Jawab Riana.
" Ck, Om Drei Om Drei, kata Oma sekarang harus panggil Ayah, Bunda ". Protes Dhika lagi. Riana hanya bisa mengulum senyuman mendengar protes Dhika.
" Iya iya. Ini Ayah nya baru pakai jaket. Bunda sama Ayah baru mau berangkat ". Ucap Riana menyerahkan jaket bomber Andrei kepada pemilik nya yang dengan malas mengambil dan langsung memakainya.
" Ya udah, Dhika sama Oma tunggu ya Bunda. Assalamu'alaikum ".
" Waalaikumsalam ".
" Iya iya ". Ucap Andrei mengulurkan tangan kanan nya kepada Riana.
" Ck, cepetan Kak ". Riana enggan meraih uluran tangan Andrei, gadis itu malah menyerahkan selembar sapu tangan nya.
" A'a, atau Abang atau Mas atau... ".
" Iya, buruan A'a sayang ". Senyum Andrei langsung terurai di wajah nya yang mulai di tumbuhi bulu bulu halus yang semakin membuat terlihat tampan, kala Riana memberikan bonus panggilan untuk nya.
" Siap Ya Humaira ". Wajah Riana merona kala Andrei memanggilnya dengan panggilan kecil yang sering di gunakan nya kala memanggil Riana sejak mereka bertunangan 2 minggu lalu.
__ADS_1
" Ribet amat sih, mau pegangan aja harus di batasi sapu tangan ". Gerutu Andrei karena tidak bisa mengenggam tangan Riana secara langsung. Saat kedua nya memasuki mobil untuk pergi ke Butik.
" Sabar tinggal seminggu lagi ". Ucap Riana sambil tersenyum kecil, yang justru memancing sifat usil Andrei.
" Asik berarti kalau udah halal bukan cuma boleh pegangan tangan doang ". Riana berdecak kesal saat menyadari ucapan nya justru menjadi boomerang untuk diri nya sendiri.
" Boleh pegang yang lain nya juga kan ". Goda Andrei sambil menyetir.
" Iya boleh, free asal udah halal ". Ucap kesal Riana yang membuat Andrei tertawa senang.
" Kalau kaya gitu, kita mampir dulu kerumah ustadz Riza ya, sebelum ke butik nya Tante Rita ". Ucap Andrei yang tanpa permisi membelokkan mobil nya menuju tempat yang baru saja di ucapkan nya.
" Mau ngapain? ". Tanya Riana kebingungan, apalagi saat Andrei benar benar menghentikan laju mobil nya di depan sebuah rumah yang dimaksud Andrei tadi.
" Nunggu seminggu kelamaan, mending halalin sekarang ". Ucap Andrei lalu membuka pintu kemudi dan bergegas menuju pintu penumpang untuk membukakan pintu penumpang untuk Riana.
" Ish, A'a jangan macem macem deh ". Tolak Riana enggan keluar dari mobil.
" Tadi kata nya kalau udah halal bisa pegang, ya udah hayo kita halalin sekarang ". Ujar Andrei menarik paksa ujung cardigan Riana.
Riana semakin terkejut mana kala melihat Dhika tampak berlari keluar dari rumah Ustadz Riza dengan Mama Shinta dan Papa Baratha yang sudah berdiri di depan pintu rumah ustadz Riza dengan tersenyum gembira.
__ADS_1