Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 61 S2 Jeda Setahun


__ADS_3

Eiliyah membuka pintu kamar nya dengan perlahan lahan. Dengan ragu ragu Dia memasuki kamar nya.


Helaan pelan menguar dari sela nafas nya kala melihat Dhika yang tengah bergelut di depan laptop dan serakan kertas di atas meja belajar Eiliyah.


" A' ". Panggil Eiliyah yang hanya di balas Dhika dengan dehaman saja tak sekalipun melepaskan pandangannya dari laptop nya.


" A' ". Panggilan kedua pun hanya di balas dehaman pula seraya menyusun kertas yang berserakan.


Eiliyah menghampiri Dhika, dengan membuang rasa malu dan canggung Eiliyah mengalungkan kedua tangan nya di leher Dhika hingga membuat Dhika pun tersentak kaget, namun kembali melanjutkan kegiatan nya merapikan kertas dan menyusun nya dengan rapi.


" A'a marah ". Eiliyah membungkukkan tubuh nya dan meletakan dagu nya di bahu kanan Dhika.


Hal itu biasa di lakukan oleh Eiliyah saat kecil ketika ingin meminta sesuatu kepada Dhika.


Eiliyah menghela nafas kecewa saat Dhika hanya menanggapi ucapan nya dengan dingin.


Padahal dulu apabila Eiliyah bersikap manja seperti ini, Dhika akan mengusap lembut pucuk kepala nya, namun kini Dhika tak menanggapi nya.


" A'a ". Eiliyah merengek dan menenggelamkan kepala nya dalam ceruk leher Dhika, hingga membuat Dhika menghela nafas pelan menahan gejolak yang tiba tiba datang kala merasakan hembusan lembut nafas Eiliyah di sekitar leher nya.


" Maafin Ana ". Rengek Eiliyah menahan tangisan yang tiba tiba datang saat Dhika hanya terdiam tak menanggapi nya.


" Hem ". Tangis Eiliyah pun akhir nya keluar saat tak mendapatkan tanggapan dari Dhika.


Eiliyah melepaskan pelukan nya di leher Dhika dan hendak beranjak meninggalkan Dhika yang tak menanggapi nya.


Hati Eiliyah terasa sakit saat Dhika hanya diam dan menjawab ucapan nya hanya dengan dehaman.


Baru saja Eiliyah akan membalikkan tubuh nya, tiba tiba Dhika menarik tangan kanan Eiliyah dan mendudukkan tubuh Eiliyah kedalam pangkuan nya.


" Mau keman? ". Tanya Dhika menangkup wajah Eiliyah dengan kedua telapak tangan nya.


Kedua ibu jari Dhika mengusap lembut wajah Eilyah yang menangis kecil.


" Kenapa nangis? ". Tanya Dhika yang di balas gelengan kepala oleh Eiliyah.


Eiliyah melerai tangkupan Dhika di wajah nya. Kedua nya saling bertatap dan kemudian Eiliyah memeluk tubuh Dhika dengan erat.


" Maafin Ana ". Bisik Eiliyah dalam pelukan Dhika.

__ADS_1


Dhika membalas pelukan Eiliyah dengan mengusap lembut punggung Eiliyah, hingga Eiliyah semakin merapatkan pelukan nya.


" Bukan Ana nggak pingin punya momongan saat ini A'. Hanya saja.. ". Dhika mengusap usap punggung Eiliyah saat Eil menahan tangisan di sela berucap.


" Bisa kah, Ana minta waktu setahun untuk mempunyai anak? ". Eil melerai pelukan lalu menatap Dhika dengan tatapan berharap.


" Kenapa harus nunggu setahun? ". Tanya Dhika dingin. Membuat Eiliyah pun akhirnya kembali memeluk Dhika.


" Eiliyah ingin mempersiapkan lahir dan bathin saat hamil dan mengurus anak nanti tanpa harus ribet mengatur jadwal kuliah ".


" Ana ingin saat hamil nanti hanya fokus pada kehamilan hingga melahirkan dan mengurus dede bayi tanpa harus merepotkan Ayah dan juga Bunda ".


Eiliyah kembali melerai pelukan nya dan menatap pernuh harap kepada Dhika.


Dhika menghela nafas pelan lalu balik menatap Eiliyah.


" Tanpa kontrasepsi ". Eil mengangguk setuju permintaan Dhika.


" Produksi setiap hari ". Eil menepuk dada Dhika dengan pelan lalu mencembikkan bibir nya menanggapi ucapan Dhika.


" Apa A'a lupa sebuah hadist yang memberikan pengertian tentang waktu dan saat yang tepat tentang berhubungan ba*** ? ".


Eiliyah mengambil nafas sejenak dan menghembuskan nya perlahan sebelum berbicara.


“Dan sebaiknya suami mendatangi istirinya empat hari sekali. Dan ini adalah yang paling ideal karena jumlah maksimal perempuan (yang boleh dinikahi) itu empat ".


" Tapi bukan berarti Ana mengizinkan A'a untuk menikah sebanyak empat kali ya ". Sungut Eiliyah dibalas Dhika dengan senyuman kecil.


" Selanjutnya boleh juga mengakhirkan sampai batas ini, bisa sebaiknya menambah atau mengurangi sesuai dengan kebutuhan istri dalam tahshîn….dan dimakruhkan bagi suami untuk berjimak pada tiga malam dari satu bulan, yaitu pada awal bulan, akhir, dan tengah bulan ". Dhika mengangangguk pelan lalu merapatkan pelukan Eiliyah kepada nya.


" Dikatakan: Sesungguhnya syaitan akan menghadiri ji*** yang dilakukan pada malam-malam ini…Sebagian ulama ada yang mensunnahkan ji*** pada hari dan malam jumat sebagai hasil tahqiq terhadap salah satu dari dua ta’wil dari sabda Rasulullah saw: Allah akan merahmati orang mencuci dan mandi (pada hari jumat)….Dan jika suami ingin berhubungan ba*** dengan istrinya untuk yang kedua kali maka hendaknya ia mencuci kema****nya….dan dimakruhkan berji*** pada awal malam sampai ia tidak tidur kecuali dalam kondisi tidak suci, maka jika ingin tidur atau makan hendaknya ia melakukan wudlu sebagaimana wudlu untuk shalat. Demikian ini hukumnya sunnah. (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1358 H/1939 M, juz, 2, h. 51, 52) ".


Dhika mengecup kening Eiliyah selepas sang istri menjelaskan panjang lebar sebuah hadist yang menjadi dasar tentang berhubungan ba***.


" Baik lah. A'a akan mengikuti kemauan Ade menunda mempunyai momongan ". Eiliyah tersenyum bahagia lalu mengec*** wajah Dhika.


" Makasih A'a ". Ucap Eiliyah senang.


" Sama sama Sayang ". Ucap balas Dhika mengusap lembut pucuk kepala Eiliyah.

__ADS_1


" Berhubung ini bukan awal, pertengahan dan juga akhir bulan, berarti boleh dong kalau mampir sejenak ". Eiliyah mengusap lembut wajah Dhika dengan telapak tangan kanan nya.


" Mesum ". Gerutu Eiliyah namun pasrah saat jemari Dhika mulai bergerilya.


" Nggak perlu setiap empat hari sekali boleh kan Sayang ". Ucap Dhika dengan suara parau nya.


Eiliyah menangguk pasrah saat hembusan nafas Dhika menerpa ceruk leher sebelah kiri nya.


" Kalau Ade mulai duluan pahala nya lebih besar lho ". Bisik Dhika yang berhasil membuat wajah Eiliyah merona.


" Jadi kita tak harus menunggu sampai empat hari sekali kan, yang penting Ade ikhlas saat A'a meminta. Dan A'a pasti akan sangat bahagia kalau Ade yang meminta ".


Eiliyah mencubit gemas pinggang Dhika setelah selesai berucap.


" Yang penting sistem kalender nya harus jalan kan ". Eil mengangguk setuju.


" Baiklah. Kalau gitu sebaik nya kita pindah tempat. Disini sempit Dek, nggak bisa banyak gerak ". Ucap Dhika lalu meringis saat cubitan Eiliyah kembali mendarat di pinggang nya.


" Tapi A' ". Dhika beranjak dari duduk nya tanpa melepaskan Eiliyah yang masih duduk di atas pangkuan.


" Eh nanti jatuh A' ". Protes Eiliyah seraya melingkarkan kedua lengan nya di leher Dhika.


" Ck udah kaya koala aja Ade A' ". Rengek Eiliyah kala menyadari posisi Dhika menggendong nya.


" Masih bagus dong Koala bukan... ". Eiliyah menepuk punggung Dhika sebelum ucapan Dhika berlanjut.


" A'a, jangan... ". Dhika menatap heran kepada Eiliyah saat jemari nya hendak bermain di lapangan becek.


Wajah Dhika seketika berubah pias saat menyadari ada ganjalan di luar lapangan becek.


" Kamu datang bulan? ". Tanya Dhika dengan nada lemas.


" Maaf ya sayang ". Jawaban Eiliyah membuat Dhika menjatuhkan tubuh nya di atas tubuh Eiliyah.


" Yang Ade lakukan ke A'a ini jahat ". Rengek Dhika berpura-pura menangis.


" Mau coba cara yang lain? ". Dhika mengangkat wajah nya menatap kearah Eiliyah yang memasang wajah menggoda.


" Emang boleh? ". Eiliyah mengangguk membuat wajah Dhika menjadi bahagia.

__ADS_1


__ADS_2