Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 38 Putusan


__ADS_3

Riana menggenggam erat jemari mungil Dhika yang tengah duduk di samping nya.


Berhubung sidang putusan akhir ini mengharuskan kehadiran Dhika, pihak pengacara keluarga Andrei meminta kepada pihak pengadilan agar sidang tidak di lakukan secara tertutup dan di luar ruang sidang.


Hal itu bertujuan agar Dhika tidak trauma dengan ruang sidang.


Dhika memindahkan tubuh nya kedalam pangkuan Riana, sementara Andrei yang duduk di samping Riana menggenggam erat jemari Riana kala Pak Sutisan, Bu Lina serta pengacara mereka memasuki ruangan.


Hakim yang melihat interaksi Dhika dengan keluarga Andrei dan melihat sendiri reaksi Dhika saat melihat kakek dan nenek nya tampak tersenyum kecil dengan dalam hati nya akan menolak tawaran yang Sutisna tawarkan kepada nya beberapa saat lalu.


" Dhika ". Dhika mengeratkan pelukan nya saat mendengar suara Sutisna memanggil nama nya.


" A'a di panggil Kakek, salim dulu ya Kak sama Kakek juga Nenek ". Kepala Dhika menggeleng dengan cepat dan semakin menyembunyikan kepala nya kedalam pelukan Riana.


Pak Sutisna dan Bu Lina tampak menghela nafas kesal melihat Dhika yang enggan bertatap muka dengan mereka.


" Maafkan Dhika Bapak dan Ibu, tampak nya Dhika masih belum mau... ".


" Memang Kalian saja yang sudah menghasut Dhika agar membenci Kami, sehingga uang asuransi Dito dan Misya bisa Kalian kuasai ". Ucap Bu Lina lantang, hingga membuat Hakim tampak mengernyitkan kening nya melihat Bu Lina dan Pak Sutisna yang menatap tajam ke arah keluarga Andrei.


" Astaghfirullahalazim Bu Lina, mulut nya bisa tolong di jaga?. Sudah sejak awal bahkan sebelum pihak asuransi memperkarakan kasus ini Pak Andrei dan Bu Riana sudah mengikhlaskan uang asuransi tersebut kepada Bapak dan Ibu ". Ucap Akhtar membela klien nya.


Hakim masih terdiam guna melihat kebenaran atas cerita Sutisna dan Lina, yang mengatakan Andrei sengaja membuat Dhika membenci nya agar seluruh uang asuransi yang jatuh ke tangan Dhika bisa di kuasai Andrei.


" Silahkan duduk Bapak dan Ibu ". Ucap Hakim dingin kepada pasangan suami istri yang tampak kesal kepada Andrei dan keluarga nya.


" Tampak nya, sudah bisa kita lihat dengan jelas, bahwa Dhika lebih nyaman berada di dalam keluarga Pak Andrei ". Ucap Hakim membuat Sutisna mengalihkan pandangan nya ke arah Hakim.


" Mereka sengaja membuat Dhika membenci Kami Pak Hakim ". Bela Sutisna.

__ADS_1


" Walau pun ini sidang tertutup dan bersifat kekeluargaan, Kamu harap Bapak bisa lebih sopan lagi terhadap jalan nya sidang ". Ucap Hakim kesal.


" Dengan ini Saya memutuskan kalau hak asuh Dhika tetap jatuh ke tangan Bapak Andrei, walau pun Bapak Sutisna sudah memberikan bukti bahwasanya Pak Andrei dan Bu Misya hanya saudara tiri dan tidak memiliki hubungan darah sama sekali ". Andrei tampak terkejut dengan bukti yang memang sengaja Andrei sembunyikan dari Dhika dan juga Riana.


Riana melirik kecewa kepada Andrei, namun tatapan Andrei seolah mengatakan akan ada penjelasan nanti, membuat Riana melanjutkan menyimak hasil sidang.


" Namun berdasarkan amanat kedua mending orang tua Dhika yang di rekam secara langsung sebelum wafat, membuat Kami mengabulkan kembali hak asuh Dhika kepada Pak Andrei ". Sutisna tampak geram dengan putusan yang Hakim sampai itu hanya bisa terdiam menahan amarah nya.


" Dan untuk yang asuransi Pak Dito dan Bu Misya, sesuai dengan surat perjanjian dengan pihak asuransi, makan seluruh uang asuransi jatuh ke tangan Dhika, dan berdasarkan kesepakatan pihak asuransi dan pengadilan dan di setujui oleh Pak Andrei selalu wali Dhika, maka uang asuransi tersebut akan di jadikan tabungan pendidikan Dhika ". Hakim mengetuk palu tiga kali yang menandakan berakhir nya sidang.


" Alhamdulillah ". Gumam Andrei dan Riana bersamaan. Bahkan Andrei mengecupi pucuk kepala Dhika yang kini tampak terlelap tidur dalam pelukan Riana.


Beruntung sebelum sidang Mama Shinta dan Papa Bharata datang ke rumah Andrei, dan meminta agar Eiliyah jangan di bawa ke pengadilan, biar Eiliyah di rumah dijaga oleh mereka.


" Selamat Pak Andrei. Hal asuh Dhika akhir nya tetap menjadi milik Bapak dan Ibu ". Akhtar menjabat tangan Andrei yang di balas oleh Andrei, sementara Riana hanya menganggukkan kepala nya.


" Berikan Dhika, Kami lebih berhak atas nya ". Ucap Bu Lina yang kini maju hendak mengambil paksa Dhika.


Andrei dengan sigap mengambil Dhika dari gendongan Riana dan meraih Riana dalam pelukan nya.


Hakim yang masih berada di dalam ruangan menjadi kesal dengan sikap Sutisan dan Lina. Dan hanya dengan mengangguk kepala dua orang penjaga ruangan menghampiri Sutisna dan Lina.


" Kalau Bapak dan Ibu hanya menginginkan uang asuransi Dhika, silahkan Bapak dan Ibu ambil. Saya akan meminta pihak Asuransi untuk memberikan semua nya kepada Bapak dan Ibu ". Sutisna dan Lina tersenyum kecil mendengar ucapan Andrei.


" Namun saya minta kepada Bapak dan Ibu agar tidak menganggu Dhika dan juga keluarga saya nanti ".


" Saya pegang ucapan Kamu ". Ucap Sutisna lantang.


" Lagi pula siapa yang sudi mengurus bocah menyebalkan seperti Dhika ". Umpat Lina hingga membuat yang mendengar ucapan nya menggelengkan kepala mereka.

__ADS_1


" Pak Imam, Saya minta agar pihak asuransi bisa menghibahkan uang asuransi Mas Dito dan Mbak Misya kepada keluarga Pak Sutisna ". Ucap Andrei yang di angguki Pak Imam selaku pihak asuransi yang hadir dalam sidang putusan.


" Kami permisi. Assalamu'alaikum ". Ucap Andrei yang lalu membawa Riana dan Dhika keluar dari ruangan.


" Waalaikumsalam ". Balas sapa yang berada di ruangan.


" Semoga Allah mengampuni khilaf Bapak dan Ibu dalam menikmati harta anak yatim piatu yang juga cucu kandung Bapak dan Ibu ". Pesan Akhtar sebelum keluar ruangan.


" Harta tak akan di bawa mati, hanya amal ibadah serta do'a dari anak juga keturunan Kita yang kelak akan menemani kita di akhirat nanti ". Pesan Hakim seraya menepuk punggung Sutisna dengan cukup kencang.


Sutisna berdecih kesal mendengar ucapan Akhtar dan Hakim yang kini sudah berjalan keluar ruangan.


" Jadi kapan Kami bisa menerima dana asuransi tersebut Pak? ". Pak Imam membulatkan kedua bola mata nya mendengar ucapan Sutisna.


" Seminggu, Kami akan kabari Bapak lagi ". Ucap Pak Imam dingin lalu beranjak keluar ruangan.


" Saya pamit Pak. Semoga uang arisan itu bermanfaat bagi Bapa dan Ibu ". Ucap pengacara Sutisna.


" Baik, saya akan transfer pembayaran nya ". Ucap Sutisna mengulurkan tangan nya kepada sang pengacara.


" Tidak usah Pak. Saya justru merasa menyesal sudah membantu Bapak ". Ucap Pengacara itu lalu meninggalkan Sutisna dan Lina yang justru tersenyum puas.


" Bagus lah, berarti Uang kita utuh Pak ". Ucap Bu Lina senang.


#########################################


Gambaran keluarga Sutisna dan Istri memang terjadi di dunia nyata dan berdasarkan pengalaman pribadi.


Masih banyak orang yang khilaf dengan harta anak yatim dan piatu, bahkan tak jarang yang khilaf justru dari pihak keluarga sendiri.

__ADS_1


__ADS_2