
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang di tuju oleh Andrei, Riana hanya terdiam.
Bahkan lebih diam. Sebuah nama yang di sebutkan oleh Dhika tadi sukses membuat nya lebih memilih diam sambil menyiapkan hati untuk hal yang mungkin bisa mengecewakan nya nanti.
" Bunda ". Panggil Dhika dari belakang karena saat ini Dhika sedang duduk di car seat nya yang sudah di siapkan Andrei.
" Bunda sakit? ". Tanya Dhika saat Riana hanya terdiam tak menjawab pertanyaan nya dan hanya memalingkan wajah nya yang sedang duduk di samping kemudi kepada Dhika.
" Nggak, Buri nggak sakit kok ". Kening Dhika mengernyit kala Riana membahasakan diri nya kembali dengan Buri, bukan Bunda lagi.
Bahkan Andrei pun sempat mengalihkan pandangan nya kepada Riana saat nama Buri keluar terucap oleh gadia yang sejak tiba di dalam mobil itu hanya terdiam dengan tatapan mata menghadap jendela samping nya.
" Buri? ". Gumam Dhika yang masih terdengar oleh Riana.
" Hem. Dhika panggil nya Buri aja ya. Supaya nggak kikuk kalau nanti ketemu sama orang lain ". Jawab Riana yang membuat Dhika hanya bisa mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangan nya kesamping jendela.
Riana menghela nafas pelan, bukan nya tak peka dengan sorot mata kecewa Dhika yang harus memanggilnya Buri lagi bukan Bunda. Namun sebisa mungkin gadis itu memilih untuk kembali ke posisi nya semula menatap keluar jalan melalui jendela yang berada di sisi kiri nya.
" Kamu kenapa Ri ? ". Akhir nya suara Andrei terdengar setelah memecahkan suasana yang biasa nya hangat kini terasa sunyi tanpa celoteh Dhika dan Riana.
Biasa nya kedua orang beda usia itu selalu terlihat kompak dan penuh semangat. Membuat suasana di dalam mobil ceria dengan celoteh juga nyanyian Dhika dan Riana.
" Nggak ada apa apa Pak ". Jawab Riana, kini Andrei yang mengernyit kan kening nya mendengar panggilan Riana untuk nya.
__ADS_1
" Pak ? ". Tanya Andrei.
" Bukankah kita sudah sepakat kalau sedang bertiga seperti ini Kamu memanggil Aku Kak dan Dhika memanggil Kamu Bunda. Kenapa sekarang Kamu mengubah nya kembali ? ". Riana menghela nafas dengan pandangan yang masih menatap jalan melalui jendela di sisi kiri nya.
" Agar kedepan nya tidak akan orang yang salah paham tentang keberadaan Saya di dekat Dhika juga Pak Andrei ". Jawab Riana.
Entah mengapa dada nya terasa sesak saat Dia mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan dalam hati nya pun bertanya Ada Apa Dengan nya saat bibir Riana mengeluarkan kalimat tersebut.
" Dhika sudah nyaman dengan panggilan Bunda ". Ucap Andrei pelan namun tak ingin di bantah.
" Dan akan menjadi tidak nyaman saat akan orang yang salah paham ". Balas Riana dengan pelan namun tegas.
" Bukankah selama ini tak ada masalah dengan panggilan Bunda? ". Ucap Andrei melirik Dhika melalui spion, dan ternyata keponakan nya itu sedang tertidur di atas car seat nya.
" Siapa yang akan salah paham dengan panggilan Dhika?. Toh selama ini Kamu juga nggak masalah dengan panggilan tersebut ". Ucap Andrei masih tenang, karena tidak ingin mengusik Dhika yang tampak terlelap tidur.
Padahal biasa nya bocah kecil itu akan selalu berceloteh selama perjalanan. Namun rupa nya sikap Riana yang sejak masuk mobil tadi itu pasif membuat Dhika pun menjadi diam yang pada akhir nya membuat nya mengantuk dan tertidur di dalam perjalanan tadi.
" Pak Andrei pasti lebih paham apa yang Saya maksud dengan merubah panggilan ". Andrei memukul pelan setir mobil nya membalas ucapan Riana.
" Jujur justru Aku makin nggak paham, sama maksud juga sikap Kamu selama di dalam mobil ". Ucap Andrei menatap tajam Riana yang masih enggan melihat kearah Andrei.
" Ri ". Panggil Andrei lembut seraya menarik tangan tangan kanan Riana, hingga membuat Riana pun refleks mengalihkan pandangan nya kepada Andrei.
__ADS_1
" Bicara apa yang bikin Kamu seperti ini ? ". Riana terdiam menatap dalam wajah Andrei yang kini sedang menatap nya dengan sorot mata yang sendu.
" Apa Saya ada salah? ". Riana menggeleng pelan menjawab pertanyaan Andrei.
" Lalu kenapa Kamu berubah ? ". Tanya Andrei mengenggam erat jemari Riana, bahkan tanpa sadar kini jemari mereka sudah saling bertautan.
Riana menundukkan kepala nya tak mampu menjawab pertanyaan Andrei, tanpa sadar gadis itu menitik air mata nya.
" Hey, kenapa malah jadi nangis? ". Andrei yang panik lalu melepaskan genggaman nya lalu membuka seat belt nya untuk mendekati Riana.
Riana menghapus air mata nya dengan menggunakan lengan baju nya.
" Nggak apa apa ". Ucap Riana pelan.
" Pasti ada yang bikin Kamu berubah dan sedih kaya gini ". Ucap Andrei menagkup wajah Riana dengan kedua telapak tangan nya.
" Nggak ada ". Riana menepis kedua telapak tangan Andrei dari wajah nya.
" Udah buruan, nggak enak nanti kelamaan di tunggu Mama Shinta ". Ucap Riana kesal dan secara tidak langsung mengucapkan sebuah nama yang membuat nya berubah.
" Mama Shinta? ". Gumam Andrei.
" Astaghfirullah, sampai lupa. Untung Kamu ingetin. Mama Shinta pasti udah lama nunggu ". Andrei pun segera memakai seat belt nya lalu kembali mengemudikan mobil nya.
__ADS_1
Sementara Riana gadis itu semakin menekuk wajah nya ketika melihat wajah cerah Andrei saat mengucapkan nama Mama Shinta.