Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 34 Kunjungan Pamungkas


__ADS_3

Ceklek


Kedua bola mata Riana membulat ketika mengalihkan pandangan kearah pintu kamar mandi.


Wajah nya sudah merah merona melihat penampakan Andrei yang baru saja selesai mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang hingga atas lutut nya.


Tubuh atletis yang walaupun tanpa belahan roti sobek di perut, rambut basah serta beberapa tetes air yang masih menitik di tubuh Andrei membuat Riana menjadi hilang fokus menghapal materi untuk sesi tanya jawab sidang skripsi nya besok.


Seulas senyum kecil menghiasi wajah Andrei, saat Dia menyadari curian pandang yang istri nya itu layangkan sejak keluar dari kamar mandi.


Riana mencoba kembali fokus dengan lembaran skripsi nya, dan tanpa Dia sadari Andrei yang masih setengah toples itu sudah berada di belakang nya.


" Serius amat Neng ". Dengan menundukkan tubuh nya Andrei meletakkan dagu nya di bahu kanan Riana seraya menghirup aroma strawberry yang menyeruak dari sela ceruk leher Riana yang tengah mencepol rambut sebahu nya.


" A'a ih, ganggu aja ". Ucap Riana lirih meresapi hembusan nafas Andrei di ceruk leher nya, hingga membuat nya meremang.


Andrei menarik kursi Riana dan kemudian menjongkok tubuh nya di hadapan Riana dengan kepala yang berada tepat di perut buncit Riana.


" Assalamu'alaikum Baby Utun, kangen nggak sama Ayah ? ". Riana menepuk pelan bahu Andrei saat pria itu dengan gemas mencium perut Riana.


" Wa'alaikumussalam. A'a ih geli ah ". Rengek Riana, karena kini hidung Andrei kini sudah mulai bergerilya naik ke atas perut Riana.


Bahkan hidung mancung nya itu mulai intens membaui kedua bukit kembar yang akan menjadi lahan jelajah Baby Utun beberapa minggu lagi.


" A'a ih ". Bukan rengekan lagi yang Riana keluar kan dari mulut nya. Namun ******* tertahan mulai terlontar manja bersuara di iringi gigitan kecil yang Andrei sarangkan secara bergantian di bukit jelajah Baby Utun kelak.

__ADS_1


" A'a ". Riana meremas gemas rambut Andrei kala Ayah Baby Utun itu mulai menarik keatas daster tidur yang Riana kenalan, hingga membuat tubuh Ibu Baby Utun itu polos.


" Ayah kunjungan dulu ya Dek ". Bisik Andrei mengecup lembut perut Riana yang di balas tendangan kecil dari dalam perut Riana.


" A'a... ". Riana hanya pasrah saat Andrei menggendong ala bridal nya menuju pembaringan mereka.


" Pelan pelan ". Bisik lirih Riana saat Andrei akan mendaratkan tubuh nya di atas kasur.


" Berat ya ". Riana mengusap lembut rahang Andrei hingga membuat pria itu mengerang pelan, sebelum gelengan nya menjawab pertanyaan Riana.


" Kangen ". Bisik parau Andrei menahan na**u nya saat merayapi leher Riana dengan lidah juga kecupan kecil disertai hisapan kecil yang membuat leher putih itu mendapat stempel ungu.


Jari jemari kekar yang biasa nya mengobrak abrik onderdil motor atau mobil itu mulai mengobrak abril onderdil Riana di bawah sana dengan lembut, hingga membuat tubuh Riana mengelijang disertai des**an manja.


" A'a ". Andrei menghentikan mengobrak abrik onderdil bawah Riana saat merasakan jemari nya basah, sebuah kec***an di sarangkan bib** Andrei ke bi*** Riana yang tengah meleng*** ni**t akibat obrakan Andrei.


Andrei meraih selimut yang biasa membalut tubuh nya dan Riana kala tidur guna menutupi bagian pinggang kebawah tubuh polos mereka.


" Kalau sakit bilang ya Sayang ". Bisik Andrei dengan menyatukan kening nya dan Riana saat perlahan lahan Pamungkas mulai melesak memasuki sarang nya.


Riana mengangguk pelan seraya meringis kecil kala pamungkas mulai bergerak gerak di dalam sarung nya.


Andrei menghentakkan tubuh nya dengan lembut dan pelan, namun sesekali mengencangkan hentakan nya hingga membuat Riana bersuara nik*** dan membuat Andrei semakin semangat mengasah Pamungkas di sarung nya.


" Sayang ... ". Andrei mengusap lembut peluh di kening Riana dan kemudian membisikan bait kata yang yang selalu di ucapkan nya saat akan melepaskan prajurit kecil Pamungkas di dalam sarung milik Riana.

__ADS_1


" Terima Kasih Bunda". Andrei melepaskan Pamungkas dari sarung nya beberapa detik setelah para pasukan kecil itu di banjiri air yang keluar dari sarung Riana yang disertai suara suara indah yang di kumandangkan Riana dan Andrei secara sahut menyahut tadi.


Sebuah kecupan dihadiahkan Andrei ke kening Riana yang langsung memeluk erat tubuh Andrei saat Ayah Baby Utun itu merendahkan terlentang tubuh nya di sisi kiri Riana.


" Bunda emang yang terbaik ". Ucap Andrei menirukan jargon sebuah film animasi favorit nya Dhika di akhir kalimat.


" Ayah ih ". Andrei tertawa kecil saat Riana memukuli dada nya setelah Dia selesai menirukan ucapan Dhika memuji Riana.


" A'a... Ish ". Tawa Andrei terhenti saat terdengar suara rintihan pelan Riana.


" Kenapa, Sayang? ". Ucap Andrei panik melihat Riana yang tampak menahan sakit.


" Ngilu ". Rintih nya seraya mengusap lembut perut nya.


" Astaghfirullah, apa gara gara.. ". Riana menggeleng pelana seraya mengusap lembut rahang Andrei yang panik hingga membuat calon Ayah itu menghentikan ucapan nya.


" Kata Dokter Aurel kan Ayah memang harus sering jenguk Baby Utun ". Ucap Riana sambil meringis kecil.


" Tapi... ". Riana meletakkan telunjuk kanan nya ke bibir Andrei guna menghentikan ucapan Andrei.


" Nggak apa apa Ayah. Udah nggak ngilu lagi kok ". Ucap Riana lembut.


" Ayah bantu bersih bersih ya ". Riana mengangguk pelan. Dan Andrei pun mengangkat tubuh Riana dan menggendong nya menuju kamar mandi.


" Astaghfirullah Ayah, kenapa Pamungkas nya di obral gitu ". Riana memukul pelan dada Andrei saat Andrei membawa tubuh nya yang di balut selimut, namun Andrei sendiri memilih toples dengan Pamungkas yang sudah mulai terlelap tidur itu tampak berlari kesana kemari seiring dengan langkah sang pemilik.

__ADS_1


" Tanggung Bunda ". Bisik Andrei yang menggigit gemas bi**r Riana yang mengerucut dan kemudian tertawa tergelak karena melihat wajah Riana yang merona menahan malu ucapan suami nya.


__ADS_2