
Tok Tok Tok
" Dek, buka pintu nya Sayang nya A'a ".
Sudah berkali kali Dhika mengetuk pintu dan merengek minta di buka kan pintu, namun Eil tetep tidak membukakan pintu kamar nya.
Bahkan sejak beberapa saat yang lalu buku buku jemari Dhika mulai terasa ngilu karena terus menerus mengetuk daun pintu yang terbuat dari kayu jati tersebut.
" Sayang, please dengerin penjelasan A'a kenapa A'a ngelakuin hal itu enam tahun yang lalu ".
Rengekan dan ketukan Dhika tak jua membuat Eiliyah sudi membuka pintu kamar nya.
Hati nya terlalu sakit saat mengingat Dia di nikahkan secara paksa oleh Dhika, dan konyol nya hal itu justru atas permintaan Dhika kepada para warga.
Malu ya sangat malu itu yang di rasakan Eiliyah saat itu, dan kini seolah mengorek rasa itu kembali, Dhika menceritakan aib tersebut kepada Natasha yang di dengar nya dan juga Acid.
Kenapa harus jujur terhadap Natasha, kenapa tidak Dhika cerita semua Itu hanya kepada Eil.
Begitu spesial nya kah Natasha bagi Dhika hingga aib tersebut rela Dhika cerita kan kepada Natasha?. Hal Itu lah yang Eil pikirkan saat ini, hingga Dia pun enggan membuka pintu apalagi mendengar penjelasan Dhika.
" Sayang, bukain dong pintu nya please. Kita bicara baik baik ya ". Rengek Dhika lagi dan lagi.
" A'a minta maaf karena sudah membohongi Kamu. A'a minta maaf karena sudah memaksa Kamu terikat dengan A'a. Tapi sungguh semua nya bukan obsesi tapi A'a lakukan itu semua karena sejak Ade berada di dalam kandungan A'a sudah mencintai Ade ". Rengek Dhika dengan memelas.
" Mana ada balita yang jatuh cinta sama janin ". Balas suara Eiliyah dari dalam kamar nya.
Dhika menggaruki kepala nya bingung memberikan bagaimana cara menjelaskan nya.
Padahal apa yang Dhika katakan benar ada nya. Tak hanya sang Ayah yang takjub saat melihat raut wajah Eil saat masih di dalam kandungan melalui layar USG.
Dhika yang saat itu baru berusia 5 tahun pun di buat takjub dan langsung jatuh hati saat melihat raut wajah yang masih berada di dalam perut tersebut, hingga dengan polos nya Dia meminta Eiliyah agar untuk nya jika dewasa kelak.
" Adalah tuh bukti nya nih yang lagi ngetokin pintu kamar Teteh ". Bukan suara Dhika yang berucap namun suara Ayah lah terdengar.
Eiliyah masih terdiam enggan membukakan pintu kamar nya.
" Buka pintu nya Teh, kasian ini anak nya Ayah ". Ujar Ayah mencoba turun tangan membantu Dhika membujuk putri kesayangan nya yang entah mengapa pulang dari toko merajuk.
__ADS_1
Sementara Bunda sedang menemani keluar Natasha yang pamit pulang, beberapa saat setelah Acid berangkat sekolah siang.
" Yang anak Ayah tuh siapa?. Aku atau si obsession man? ". Balik tanya Eil tanpa membuka pintu kamar nya. Ayah bahkan terkejut rayuan nya tidak mempan oleh Eiliyah.
Ayah mengangkat pun akhir nya kedua telapak tangan nya menandakan menyerah merayu Eil. Dhika hanya menghela nafas pasrah.
Namun tepukan keras Bunda di bahu nya membuat pria itu terpaksa menyingkir beberapa langkah dari posisi nya.
Bunda mengetuk pintu kamar Eiliyah beberapa kali sebelum berucap.
" Teteh, buka pintu nya. Teteh mau Allah marah karena mengabaikan suami? ". Suara Bunda yang bernada dingin itu akhir nya memaksa Eil untuk membuka pintu kamar nya.
Ceklek
Wajah Eiliyah seketika itu juga di tekuk saat melihat Dhika tepat di depan pintu nya.
" Alhamdulillah. Makasih Bunda ". Ucap Dhika yang langsung mencium punggung tangan Bunda setelah Eil membuka pintu nya.
Dhika pun segera masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar nya dan tanpa sengaja meninggalkan kedua orang tua nya yang menatap kesal di abaikan Dhika.
" Sama nya ". Sahut Bunda yang di tertawai Ayah.
Sepasang manusia itu pun akhir nya berjalan menuju kamar mereka untuk beristirahat, meninggalkan sepasang manusia yang tengah perang dingin di kamar mereka.
" Dek ". Panggil Dhika dan menghampiri Eil yang terduduk di pojok kasur dengan menenggelamkan kepala nya di dalam kedua dengkul nya.
" Maafin A'a sayang ". Dhika berusaha menyentuh pucuk kepala Eil namun di Eil menepis tangan Dhika dengan kasar.
" Ih. Galak nya istri A'a ". Goda Dhika yang justru langsung memeluk erat tubuh Eiliyah, tak perduli dengan Eil yang terus menerus meronta mencoba melepaskan pelukan Dhika.
" Maafin A'a sayang ". Tangis Eil semakin pecah dalam pelukan Dhika.
Dhika mengusap lembut punggung Eil dan sesekali mengecupi pucuk kepala Eil, persis seperti yang selalu di lakukan nya dulu saat Eil merajuk kepada nya waktu kecil.
" A'a jahat ". Gerutu Eil. Dhika meletakkan dagu nya di pucuk kepala Eil.
" Iya A'a emang jahat sama Ana ". Eiliyah mencubit dengan gemas pinggang Dhika, hingga sang empunya pun meringis.
__ADS_1
" Aduh sakit sayang ". Ringis Dhika namun tak melepaskan pelukan nya kepada Eil.
" Kenapa cerita aib sama orang lain? ". Rengek Eil di sela tangis nya.
" Aib yang mana? ". Tanya Dhika bingung.
" Minta warga buat di gerebek ". Cicit Eil kesal.
" Itu bukan aib sayang, kan emang itu fakta nya ". Eil memukul gemas bahu kiri Dhika namun di balas tawa oleh Dhika.
" Kenapa harus minta warga buat gerebek?. Apa A'a nggak malu minta begitu? ". Tanya Eil setelah melerai pelukan Dhika.
" Habis mau gimana lagi. Minta sama Ayah juga Bunda malah di ketawain, ya udah mending langsung di nikahin ". Cicit Dhika tak bersalah.
" Tapi A'a justru bikin Ayah dan Bunda bakal sakit hati dengan tingkah A'a. Apa nggak bisa minta lebih baik lagi, di bandingkan harus ngelakuin hal memalukan kaya gitu ". Ucap Eil dan ucapan itu ternyata berhasil membuat Dhika merasa bersalah terutama kepada Ayah nya.
" Kalau A'a meminta secara baik baik, Ana nggak akan ngerasa malu buat ikut liburan ke kampung nya Tante Tiara. Akibat ulah A'a, Ana malu kalau kesana A' ". Ucap Eiliyah mengungkapkan isi hati nya.
Memang benar apa yang di ucapkan Eiliyah sejak kejadian di nikahkan secara gerebek, Eiliyah menjadi trauma dan tidak mau lagi menginjakkan kaki nya di kampung Tiara.
Malu itulah yang Eiliyah rasakan dulu hingga kini. Walau pun pada kenyataannya penggerakan itu tak pernah diketahui oleh orang lain, hanya seorang ustadz dan beberapa orang kepercayaan sang ustadz, hingga bisa di jamin penggerebekan itu seolah tak pernah terjadi.
Namun benar apa yang Eiliyah katakan. Akibat penggerebekan itu Eiliyah tidak di nikahkan langsung oleh Ayah nya melainkan dinikahkan oleh wali hakim, dan hal itu kini membuat Dhika sangat menyesal telah merencanakan dan melakukan hal tersebut.
" Nanti A'a minta maaf sama Ayah juga Bunda Dek ". Ucap Dhika menyesal.
" Sudah sanaan Ana nggak mau deket deket sama A'a ". Eiliyah mendorong pelan tubuh Dhika.
Entah mengapa saat ini tubuh nya seolah menolak kehadiran Dhika di dekat nya.
" Astaghfirullahalazim Dek. Jangan marah lagi atuh Sayang. Kan A'a udah minta maaf Dek ". Rengek Dhika mencoba mendekati Eiliyah yang justru kini menghindar dari Dhika dengan turun dari kasur nya.
" A'a ih, nggak denger amat sih. Sanaan Ana nggak mau deket sama A'a ". Rengekan Eiliyah kini justru menjadi tangisan kecil hingga membuat Dhika pun panik.
" Ya Allah Dek, Salah apa lagi A'a sayang ". Dhika yang panik pun langsung memeluk Eiliyah, namun entah mengapa Eiliyah justru semakin berontak dan akhir nya.
Ueekkkkkk
__ADS_1