
Eiliyah mengaduk minuman yang berada di hadapan nya. Segelas jus mixberry menjadi pelepas dahaga di siang ini di dalam sebuah cafe yang akan menjadi tempat pertemuan nya dengan Fatimah.
Ya Fatimah, selepas kelas Eil bubar, gadis itu menghubungi Eil agar bisa bertemu dengan nya di sebuah cafe yang berada tidak jauh dari kampus Eil.
Setelah izin di dapatkan dari Dhika, Eil pun menyetujui pertemuan nya dengan Fatimah.
Dan di sinilah kini mereka berada. Duduk saling berhadapan dan di temani keheningan sejak kedatangan Fatimah beberapa menit yang lalu.
Eil menghela nafas pelan, melihat Fatimah yang terdiam sejak datang membuat Eil menjadi sedikit canggung, apalagi Dhika yang berjanji akan menjemput nya masih belum terlihat barang hidung nya.
" Ehm ". Eil pun akhir nya mencoba meredakan kecanggungan di antara mereka berdua.
" Maaf Teh, kalau boleh tau ada keperluan apa ya Teteh meminta bertemu dengan Eil? ". Tanya Eil.
" Em.. Apa A'a akan datang? ". Eil menghela nafas pelan mendengar pertanyaan Fatimah yang malah balik bertanya.
Ada rasa sangat keberatan saat Fatimah masih memanggil Dhika dengan panggilan A'a di depan nama Dhika.
__ADS_1
" Suami Saya sedang dalam perjalanan untuk menjemput Saya. Jadi mumpung sebelum Beliau datang, ada baik nya Teteh bisa mulai mengutarakan maksud dan niat Teteh mengajak bertemu Saya ".
Fatimah tersenyum miris saat Eil menegaskan kata Suami Saya untuk memanggil Dhika, mantan gadis itu seolah menunjukkan kepada nya tentang status nya di keseharian Dhika.
" Baiklah kalau begitu. Sebelum nya Saya minta maaf terlebih dahulu kepada Kamu Eil. Karena Saya mempunyai sebuah permintaan, dan Saya harap Kamu bisa bermurah hati untuk mengabulkan permintaan Saya ini ".
Eil menatap Fatimah dengan tatapan penuh tanya dulu balik niqab nya.
Fatimah sendiri tidak mengenakan niqab sehingga terlihat wajah cantik Fatimah yang saat ini berbalut hijab Pashmina senada dengan gamis yang tengah di kenakan nya.
" Tergantung permintaan Teteh. Kalau Teteh meminta sesuatu yang di luar kemampuan Eil untuk mengabulkan nya maka Eil akan menolak nya ". Ucap jawab Eil terhadap ucapan Fatimah.
" Jadi apa yang Teteh minta? ". Tanya Eil saat Fatimah tidak kunjung juga mengungkapkan permintaan nya.
" Kalau Teteh meminta Suami Saya , maka dengan tegas Saya bilang kepada Teteh, bahwasanya semua keputusan tentang permintaan Teteh ada di tangan Suami Saya ".
" Dan seperti yang sudah Saya bilang waktu itu, Saya akan mundur kalau Suami Saya memilih Teteh. Karena sejatinya tak ada perempuan mana pun yang akan ikhlas dan ridho di madu ". Ucap Eil dengan tegas namun lembut, hingga membuat Fatimah pun terdiam tak berani mengungkapkan permintaan nya.
__ADS_1
" Tak bisakah Kamu menolong Teteh Eil. Keluarga Teteh terutama Abi saat ini tengah terbaring di Rumah Sakit karena shock A'a dan Teteh tidak jadi bersama. Belum lagi gunjingan dari para kerabat, sahabat juga relasi Kami yang sudah mengetahui hubungan Teteh dan A'a. Kami malu Eil malu ". Eil tersenyum miris mendengar ucapan Fatimah. Belum lagi air mata yang mulai turun membasahi wajah nya, seolah menunjukkan Eil bersalah.
" Lalu bagaimana dengan Saya? ". Fatimah menatap Eil dengan tatapan bingung.
" Apa Teteh dan keluarga Teteh memikirkan perasaan Saya juga keluarga Saya?. Bukankah sudah Suami jelaskan kalau Dia dan Teteh tidak punya hubungan apa pun. Suami Saya hanya menjalankan amanat dari Abi Teteh karena menitipkan Teteh kepada nya saat di Kairo. Tak lebih ". Ucap Eil masih dengan nada lembut menahan amarah nya.
" Tolong Teteh Eil. Teteh hanya minta A'a berpura pura menikah dengan Teteh hanya untuk meredakan gunjingan dan juga agar Abi Teteh bisa sembuh ". Eil tersenyum miris di balik niqab nya.
Ucapan dan permintaan Fatimah sangat layak di hadiahkan cakaran atau pun jenggutan, namun Eil masih bisa bersikap sangat tenang, walau pun dalam hati nya banyak beristiqhfar.
" Eil rasa Teteh dan keluarga Teteh lebih paham masalah pernikahan. Pernikahan itu bukan ajang main-main apalagi pura pura ".
" Tolong lah Eil. Teteh mohon. Teteh janji A'a akan tetap tinggal bersama Kamu ".
Akhir nya decihan Eil pun keluar. Rasa sabar nya semakin terkikis dengan sikap dan ucapan Fatimah yang menginginkan Dhika seolah Dhika adalah sebuah barang yang bisa di pinjamkan.
" Apa tidak ada hal lain yang ingin Teteh bahas ? ". Fatimah terdiam mendengar ucapan Eil.
__ADS_1
" Baiklah seperti nya pertemuan Kita lebih baik di akhiri saja. Maaf sampai kapan pun Saya tidak ingin berbagi suami dengan siapapun. Kalau pun suami Saya ingin menolong Teteh, maka Saya yang akan mundur ". Ucap Eil tegas dan bersiap beranjak meninggalkan Fatimah.
" Tak akan ada yang mengizinkan Kamu untuk mundur Sayang ".