
Eil tampak canggung setelah Dhika turut masuk juga ke dalam kamar nya. Bahkan tanpa di suruh pria yang sudah menjadi suami nya itu terlihat sudah memejamkan mata nya dengan menggunakan lengan kiri nya sebagai penutup kedua kelopak mata nya dan lengan kanan yang di jadikan bantalan kepala nya.
" Ehm. A' ". Panggil Eil berusaha melepaskan rasa canggung nya.
Perlahan lahan gadis itu berjalan menghampiri pembaringan nya
" Hm ".
Hanya deham yang Dhika keluarkan sebagai jawaban nya.
" A'a tidur di sini? ". Eil bahkan merutuki diri nya sendiri yang melontarkan pertanyaan konyol dengan statusnya dan Dhika saat ini.
Tanpa sadar gadis itu menyentili bibir nya karena pertanyaan nya.
" Hm ".
Eil semakin kebingungan. Niat hati ingin merebahkan tubuh nya setelah selesai sholat isya dan mengaji, namun sang Ayah justru menikahkan nya dengan kakak angkat nya.
Eil hanya bisa pasrah mendudukkan tubuh nya di kursi belajar nya.
" Kamu nggak ngantuk Dek? ". Eil tersentak mana kala Dhika tiba tiba sudah berdiri di belakang nya dan meletakkan dagu nya di bahu kanan Eil.
" Belum A' ". Eil menjawab dengan kikuk.
Tubuh nya terasa membeku tak bisa bergerak kala merasakan hembusan nafas Dhika dekat wajah nya yang masih ber niqab.
__ADS_1
" Tegang banget Dek ". Dhika pun mengangkat dagu nya dari bahu Eil lalu mengusap lembut pucuk kepala Eil dengan lembut.
" Tidurlah. A'a akan tidur di kamar A'a ". Dhika pun berjalan menuju pintu kamar Eil.
" A'a boleh tidur di sini ". Dhika menghentikan tangan nya yang akan membuka kenop pintu kamar Eil.
" Ana nggak mau dosa karena cuekin A'a ". Ucap Eil sambil menundukkan kepala nya.
Dhika mengulum senyuman kala Eil mengunakan panggilan Ana untuk diri nya. Ya Ana adalah nama panggilan sayang Dhika untuk Eiliyah, dan hanya Dhika lah yang selalu memanggil Eil dengan Ana.
" Sudah malam, tidur lah. Biar A'a tidur di bawah ". Dhika pun membatalkan niat nya untuk keluar kamar Eil.
Pria itu bergegas menggelar sajadah yang biasa Eil gunakan untuk sholat.
" Kan sudah Ana bilang , Ana nggak mau dosa karena cuekin A'a ".
" Jadi A'a boleh tidur di kasur bareng Adek? ". Eil mengangguk pelan membuat Dhika tersenyum.
" Terima kasih Dek. Alhamdulillah, A'a bobo nya nggak di lantai ". Syukur Dhika membuat Eil tersenyum kecil.
Eil pun beranjak menuju pembaringan nya.
" Tidur nya masih rusuh nggak Dek? ". Pertanyaan Dhika membuat Eil memukul pelan bahu Dhika saat pria itu sudah merebahkan tubuh nya di atas kasur.
" Jadi inget waktu kecil dulu, setiap bangun pagi kaki Kamu pasti selalu ada di depan muka A'a ". Dhika terkekeh geli saat mengingat masa sebelum mereka akil baliq yang selalu tidur bersama saat malam.
__ADS_1
" Mudah mudah besok pagi kaki Kamu nggak di depan muka A'a lagi ya ". Eil memukul pelan Dhika dengan bantal nya, hingga membuat Dhika tertawa.
" Hijab sama niqab nggak di buka?". Tanya Dhika saat Eil merebahkan tubuh nya dengan masih mengenakan hijab dann juga niqab nya.
" Malu ". Cicit Eil.
" Udah sah kenapa harus malu?. Kata nya takut dosa ". Eil menghela nafas pelan, lalu dengan perlahan lahan membuka niqab nya lalu menundukkan kepala nya di hadapan Dhika.
Dhika tampak tercengang melihat wajah putih mulus Eil. Bibir mungil berwarna pink tanpa polesan apapun itu membuat Dhika menelan saliva nya.
Sebagai seorang laki laki alangkah munafik nya Dia kalau Dia bilang tidak tertarik untuk menjamah bibir mungil itu.
Tanpa sadar Dhika menggelengkan kepala nya pelan saat membayangkan melum*** lembut bi*** pink milik Eil.
" Hijab nya A'a buka ya? ". Eil mengangguk pelan saat Dhika meraba pucuk kepala.
Perlahan lahan Dhika membuka hijab Eil dan menampilkan rambut hitam legam Eil yang tercepol.
Dhika membuka cepolan rambut Eil, hingga rambut Eil pun terurai.
Rambut hitam legam sebatas pinggang itu menguarkan harum strawberry yang menjadi wangi favorit Eil sejak masih kecil.
" Cantik nya istri A'a ". Puji Dhika membelai lembut rambut Eil. Semburat merah tampak menghiasi wajah cantik Dhika.
" Kalau A'a minta Bonus Pelengkap Ibadah sekarang apa boleh? ". Tanya Dhika hati hati.
__ADS_1