
Uuueeeekkk
Eiliyah berlari menuju kamar mandi di dalam kamar nya. Aneh nya mual itu tidak terasa saat Dia menjauh dari Dhika.
Namun saat Dhika menyusul nya ke kamar mandi mual itu kembali dan semakin menjadi saat Dhika memijat tengkuk Eil.
" A'a sanaan dulu ya. Maaf, Ana mual kalau A'a deketin ". Eil menjulurkan tangan kanan nya saat Dhika akan kembali menghampiri nya.
Tubuh Eil kini bersandar pada dinding dekat wastafel, seraya mengatur nafas wanita muda itu tampak memejamkan ke dua kelopak mata nya.
" Dek ". Dhika memanggil Eil dengan sangat lembut, berharap Dia dapat memeluk tubuh Eil yang terlihat lemas.
" Bisa tolong panggilkan Bunda A' ? ". Ucap Eil yang di angguki Dhika.
" Tapi Kamu tiduran di kasur dulu ya ". Eil mengangguk lemah.
" Stop ". Eil melarang Dhika untuk mendekati nya.
" Eil bisa sendiri ". Dhika menatap Eil yang berjalan keluar kamar mandi dengan sendu.
Dhika hanya bisa melihat Eil yang menidurkan tubuh nya di atas kasur. Bahkan Eil melarang Dhika untuk sekedar menyelimuti tubuh nya yang tiba tiba saja menjadi lemas.
" A'a panggil Bunda dulu ya ". Tangan Dhika terulur untuk mengusap pucuk kepala Eil, namun Eil menutup mulut nya dengan tangan kanan dan tangan kiri nya terulur menahan laju Dhika untuk menghampiri nya.
" Tolong panggilkan Bunda A' ". Rengek Eil.
Dhika pun bergegas keluar dari dalam kamar guna mencari sang Bunda.
Tak lama kemudian, tak hanya Bunda yang datang. Ayah pun ikut datang dan segera menghampiri Eil yang terlihat lemas di atas kasur nya.
__ADS_1
" Ya Allah Teteh kenapa? ". Tanya Ayah panik yang langsung menyentuh kening Eil.
Pria itu duduk di samping Eil, dan entah mengapa Eil langsung memeluk sang Ayah dengan erat hingga Dhika terlihat mengerucutkan bibir nya, membuat Bunda tersenyum kecil melihat nya.
" Nggak tau Ayah. Semua nya salah nya Aa. Tiba tiba saja Ana mual pas A'a deketin ". Jawaban Dhika membuat Ayah dan Bunda menatap kearah putri nya yang mengangguk lemas.
" Sejak kapan? ". Tanya Bunda, meraba denyut nadi Eil, tak lama kemudian sekilas senyum tersungging di bibir Bunda.
" Baru beberapa menit yang lalu Bunda ". Rengek Eil yang kini berpindah memeluk tubuh sang Bunda dengan erat.
" Ya sudah, sekarang Teteh istirahat dulu. A'a ikut Bunda sebentar ". Ucap Bunda lalu beranjak turun dari kasur Eiliyah.
" Nggak boleh. A'a di situ aja ". Ucap Eil tiba tiba, saat Sang Bunda akan mengajak Dhika keluar kamar nya.
" A'a nggak boleh pergi kemana mana ". Titah Eil tak bisa di ganggu gugat.
" Bunda pinjem A'a nya sebentar aja Teteh. Ada yang mau Bunda suruh beli ". Eil menekuk wajah nya menanggapi ucapan Bunda.
" Astaghfirullahalazim Kamu kenapa Dek? ". Dhika menghampiri Eiliyah lalu berdiri di dekat Eil.
Dhika menghela nafas pelan. Beragam pertanyaan menghiasi isi kepala nya.
Bingung dan heran melihat tingkah juga sikap Eil yang beberapa saat lalu menolak bahkan melarang Dhika mendekati nya.
Namun kini, lihat lah posisi mereka sekarang. Eil begitu erat memeluk pinggang Dhika hingga membuat Dhika tidak bisa bergerak sedikit pun.
" Bunda jahat ". Rengek Eiliyah seraya menangis kecil, Dhika mengusap lembut pucuk kepala Eil.
" Bunda nggak jahat Sayang, Bunda cuma minta A'a pergi ke Apotik sebentar buat beli Tespek ". Dhika menundukkan tubuhnya lalu mengecup pucuk kepala Eil dengan lembut.
__ADS_1
Eil mendongakkan kepala nya menatap terkejut kepada Dhika dan Bunda nya bergantian.
" Ana / Eil hamil? ". Tanya Eil dan Ayah bersamaan.
" Belum tau Ayah. Maka nya Bunda suruh A'a ke apotik sebentar buat beli tespek ". Jawab Bunda.
" Biar kita aja yang beli Bunda ". Ajak Ayah kepada Bunda.
" Ya sudah. Kalau begitu biar Ayah dan Bunda aja yang beli. Kamu jagain Eil aja ya A' ". Dhika mengangguk menanggapi ucapan Bunda.
Ayah dan Bunda pun berjalan keluar kamar Eiliyah meninggalkan sepasang anak manusia yang kini tengah berharap harap cemas menanti hasil.
" Bismillah ya Sayang, Kita serahkan semua nya kepada Allah ". Dhika melerai pelukan Eil dan mendudukkan tubuh nya di samping Eil, yang tampak sudah tidak mual lagi berdekatan dengan Dhika.
" Iya A'a ". Jawab Eil patuh lalu kembali memeluk tubuh Dhika dengan erat.
🌹🌹🌹🌹
Tak hanya keluarga inti yang menyambut dengan gembira kabar Eil yang kini tengah berbadan tiga.
Setelah di ketahui positif menggunakan tespek yang belikan Ayah dan Bunda nya. Dhika langsung membawa Eil ke sebuah Klinik Bersalin yang berada tidak jauh dari Pesantren.
Ya Eil kini tengah berbadan tiga bukan dua. Berdasarkan hasil USG beberapa jam yang di lakukan Eil di sebuah Klinik bersalin yang berada tidak jauh dari pesantren menunjukkannya kalau di dalam rahim Eil sudah bersemayam dua buah kantung janin yang baru berusia 8 minggu.
" Alhamdulillah, Utun nya kembar Bunda ". Ucap Dhika saat baru saja pulang membawa Eil dari Klinik.
Acid yang baru saja pulang sekolah dan sedang menenggak air putih pun langsung tersedak mendengar ucapan Dhika.
Remaja itu bergegas keluar dari dapur dan langsung mendudukan tubuh nya di samping Teteh nya.
__ADS_1
" Teteh hamil? ". Tanya Acid yang di angguki Eil.
" Alhamdulillah, Acid punya ponakan bukan ade ". Acid berteriak dengan senang dan penuh semangat hingga membuat yang, lain nya memutar malas bola mata mereka.