Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 43 Sutisna VS Lina


__ADS_3

Sepasang suami istri paruh baya keluar dari gedung utama perusahaan asuransi dengan wajah bahagia.


" Akhir nya kita bisa juga jadi milyuner ya Pah ". Ujar sang wanita paruh baya itu sembil membelit manja lengan sang pria paruh baya.


Ya mereka adalah pasangan Sutisna dan Lina yang baru saja mengambil cek uang asuransi milik Dito dan Misya yang seharus nya menjadi milik Dhika anak semata wayang Dito dan Misya.


" Iya Mah. Akhir nya kita bisa hidup mewah ". Ucap jumawa Sutisna di susul tawa kedua manusia paruh baya itu.


Sutisna masuk kedalam mobil dengan senyum yang mengembang, sementara Lina tampak terkejut melihat ponsel nya.


Tin


Lina mengalihkan pandangan nya dari ponsel nya kepada Sutisna yang sudah duduk manis di kemudi mobil. Dengan terpaksa Lina menyunggingkan senyuman membalas ajakan sang suami untuk masuk kedalam mobil mereka.


" Kita cairkan dulu cek nya, setelah itu kita simpan di tabungan milik Papa dulu ya Ma ". Ucap Sutisna saat mereka baru saja menjalankan mobil mereka keluar dari parkiran gedung.


Kedua alis Lina menukik dengan tajam, dan mengalihkan pandangan nya kearah sang suami yang tengah menyetir sambil mengulum senyuman kecil kala mengingat isi chat dan juga sebuah video.


" Kenapa harus di simpan di rekening Papa?. Bukan di rekening Mama saja ". Protes Lina hingga membuat senyum kecil Sutisna itu pun luntur.

__ADS_1


" Bukankah kita sudah sepakat untuk menyimpan nya di rekening Papa? ". Ucapa Sutisna dengan nada tinggi.


" Kesepakatan Kita di simpan di rekening bersama bukan rekening pribadi Papa ". Ucap Lina tak mau kalah.


" Ck, apa Mama tidak mempercayai Papa? ". Lina memutar malas kedua bola mata nya menanggapi ucapan Sutisna.


" Mama pikir Papa akan menghabiskan uang satu setengah miliar itu sendirian ? ". Bentak Sutisna membuat Lina menyunggingkan senyuman kecil.


" Tentu saja tidak mungkin Papa menghabiskan nya sendiri bukan?. Pasti nya Nathalie akan ikut menikmati uang itu bukan? ". Sutisna memukul kencang setir mobil yang masih di laju nya dengan sedikit kencang guna menutupi keterkejutan nya akibat ucapan Lina.


" Apa maksud Mama ". Bentak Sutisna berusaha menyembunyikan keterkejutan nya dengan menaikkan laju kendaraan nya yang ternyata sedikit lengang di dalam jalan tol siang itu.


" Nathalie itu keponakan Kamu sendiri Mah. Jadi nggak salah kan kalau Aku sering bertemu dengan nya ". Bela Sutisna seolah mengiyakan tuduhan Lina.


" Dengan bertemu secara diam diam di dalam kamar hotel juga? ". Buku buku jemari Sutisna mulai terlihat pucat dan mengenggam dengan erat setir mobil yang tengah di kemudikan nya.


" Jangan asal tuduh Kamu Ma. Mana mungkin kalau Aku dan Nathalie... ".


" Nathalie hamil, dan Dia mengakui kepada Mbak Maria kalau itu anak Kamu ". Lina memotong ucapan Sutisna dengan cepat hingga membuat Sutisna panik.

__ADS_1


" Jangan asal tuduh Kamu Ma, mana mungkin Nathalie hamil anak Aku " Ucap Sutisna kalap, dengan semakin mempercepat laju kendaraan nya dengan niat agar bisa segera sampai di rumah dan bisa secepat nya menyelesaikan masalah nya dengan Lina.


" Ck, lihat. Ini yang Kamu bilang tidak mungkin hamil anak Kamu hah? ". Lina menyodorkan layar HP nya yang berisi sebuah tampilan video Sutisna dan seorang wanita berusia sekitar 20 tahun sedang melakukan aksi panas di atas kasur dalam kamar yang di yakini sebuah hotel.


" Tega Kamu Pa, Dia keponakan Aku, bagaimana bisa Kamu .. ".


" Cukup. Dia yang menggoda Aku terlebih dahulu ". Bela Sutisna dengan menyingkirkan tangan Lina yang terus menerus memukuli lengan kiri nya.


" Dan Kamu tergoda hingga melakukan nya berkali kali dan membuat nya hamil? ". Bentak Lina yang semakin geram dan semakin gelap mata menjengguti rambut Sutisna yang mulai pudar berganti warna.


" Hentikan Lina. Kamu membuat mengganggu konsentrasi ". Ucap Sutisna menarik paksa tangan Lina dari rambut nya dengan menggunakan tangan kiri buat, sementara tangan kanan nya tampak sibuk mengusai laju mobil yang sudah mulai kehilangan kendali akibat amukan Lina.


" Berengsek Kamu Pa. Tega sekali Kamu mengkhianati Aku dengan keponakan Aku sendiri ". Bentak Lina yang kembali menerjang rambut di kepala Sutisna.


" Sudah Aku bilang, Dia yang menggodaku, bahkan Dia pula lah yang mempunyai ide untuk menuntut uang asuransi Dhika ". Pekik Sutisna yang semakin tidak bisa mengendalikan laju kendaraan nya, karena jenggutan Lina di rambut nya membuat nya hilang konsentrasi.


" Aku nggak sudi, Kamu membagi unag tersebut dengan jal*** itu ". Dengan sekali hentakan Lina mendorong kepala Sutisna ke setir mobil dan


Brug

__ADS_1


__ADS_2