
Andrei mamacu dengan sedang laju kendaraan saat akan tiba di kediaman Riana.
Pria itu segera memarkirkan kendaraan nya di pinggir rumah Riana, karena kebetulan rumah Riana berada di dalam gang yang seukuran 1 buah mobil sedan kecil.
Senyuman tipis menghiasi wajah nya saat terdengar percakapan antara Riana dan Dhika dari dalam rumah.
Tampak nya keponakan kesayangan nya itu baru saja selesai mandi, sehingga sedikit tercium aroma minyak telon dari dalam rumah yang memang pintu nya sengaja Riana buka.
Berhubung Riana tinggal di kawasan padat penduduk yang banyak pula anak kecil nya, jadi setiap sore hilir mudik para penjual dari bakso, donat, roti, cilok dan lain nya selalu bergantian melewati depan rumah nya.
Setiap hari menu jajanan Dhika selalu berganti ganti. Tapi yang selalu menjadi favorit bocah kecil adalah roti goreng yang berisi kacang hijau, tak jarang dia porsi roti goreng bisa habis dalam sekejap di lahap bocah kecil tersebut.
" Oti oyeng. Oti oyeng ada acang ijo, totat, tobeli, bubeli, ayo begi ayo beli ati enyak ". Riana tertawa mendengar Dhika lagi lagi memperagakan penjual roti dalam menjajakan dagangan nya.
" Nda, ati Ika eli cegini ya ". Dhika menyodorkan kesepuluh jari nya kepada Riana, dan Riana pun berpura-pura terkejut.
" Banyak amat sayang ". Ucap Riana sambil memakaikan minyak rambut anak ke kepala Dhika.
Tanpa di suruh lagi, Dhika mendudukkan tubuh kecil nya kepangkuan Riana agar Riana mudah menyisirkan rambut lebat Dhika yang agak kecoklatan.
" Au Ika awa uyang Nda. Tan ecok Ika ndak di umah Unda ". Ucap Dhika sambil mengerucutkan bibir nya.
" Ya udah kalau begitu, besok setelah Bunda selesai kuliah, Bunda jemput di tempat Om Drei aja ya ". Ucap Riana sambil mengusap lembut pucuk kepala Dhika.
Dhika membalikkan tubuh nya lalu memeluk Riana dengan erat.
" Alo Ika inep cini oyeh nda Unda? ". Riana tampak berpikir dengan keras saat Dhika mengajukan permintaan nya.
__ADS_1
" Kasian Om Drei dong kalau Dhika nginap di sini. Nanti Om Drei bobo sama siapa? ". Ucap Riana.
Dhika melerai pelukan nya lalu melihat kepada Riana, sambil tersenyum kecil.
" Om Dei na ya bobo cini ama Unda uga Ika ".
Uhuk.. Uhuk..
Riana yang terkejut mendengar ucapan Dhika sampai terbatuk batuk, pun nya dengan Andrei yang sejak tiba lebih memilih duduk di bangku teras rumah Riana sambil menyimak pembicaraan Dhika dan Riana.
" Ada Om Dei epan Nda ". Dhika segera turun dari pangkuan Riana dan berlari menuju teras. Sementara Riana tampak menghela nafas pelan.
Ucapan Dhika tadi membuat nya menjadi sungkan untuk bertemu dengan Andrei.
" Om Dei ". Andrei merentangkan kedua tangan nya menyambut sang kemenakan yang berlari kecil menghampiri nya.
" Kok ndak alamikum ci Om ". Protes Dhika saat berada dalam pelukan Om semata wayang nya.
" Antes Ika nda engel ". Ujar Dhika yang lalu mengalihkan perhatian nya kala terdengar sayup sayup suara penjual roti kesukaan.
" Mau kemana? ". Cegah Andrei saat Dhika akan berlari menuju suara sang penjual roti. Andrei memegang lengan Dhika hingga bocah kecil itu tidak bisa bergerak.
" Au e Om Amal, Ika au beyi oti acang ijo ". Ucap Dhika merengek.
" Sama Om beli nya ". Dhika meloncat kegirangan lalu kembali meminta di gendong oleh Andrei menuju tempat penjual roti yang tengah berhenti untuk melayani pembeli yang berada 3 rumah dari rumah Riana.
" Eh Dhika, sama siapa?. Bunda nya mana? ". Tanya Ibu pemilik rumah kepada Dhika, karena merasa asing dengan keberadaan Andrei yang baru pertama kali di lihat nya di lingkungan mereka.
__ADS_1
" Ama Om Dei Mama. Tuh Unda ". Ucap Dhika lalu menujuk kearah Riana yang tengah berjalan menghampiri Dhika.
" Pakai sendal dulu ". Dhika tersenyum kecil, ketika Riana tanpa risih memakaikan sandal Dhika yang masih di gendong Andrei.
" Aci Unda ".
" Eh ". Riana mengangkat kepala nya melihat kepada Dhika yang sedang tersenyum setelah mengecup pipi kiri Riana.
" Sama sama Sayang ". Riana mengusap lembut pucuk kepala Dhika.
" Mang Jamal biasa ya ". Ucap Riana kepada si penjual roti.
" Riko kemana Ma? ". Tanya Riana kepada Ibu yang tadi menegur Dhika.
" Biasa lagi main di lapangan. Padahal udah mandi Bunda, tapi malah main ke lapangan lagi ". Ucap Mama Riko yang biasa Riana panggil Mama.
" Nama nya anak anak Ma ". Mama Riko menganggukan kepala.
" Siapa Bunda? ". Mama Riko menyenggol pelan lengan kiri Riana sambil mengarahkan pandangan nya kepada Andrei yang kini sedang menemani Dhika berjalan menuju lapangan yang berada tidak jauh dari tempat mereka tadi.
" Oh itu Om nya Dhika Ma ". Mama Riko tampak tersenyum kecil.
" Cocok lho sama Bunda. Kaya nya juga ganteng lho Bun. Lihat saja, biarpun wajah nya tertutup kumis juga jengot, aura kegantengan nya keliatan Bun ". Riana tersenyum kecil menanggapi ucapan Mama Riko.
" Udah ada yang punya Ma ". Ucap Riana.
" Selama janur kuning belum melengkung mah, masih bisa di salip atuh Bun ". Riana tertawa kecil mendengar godaan Mama Riko.
__ADS_1
" Jadi pelakor dong saya Mah ". Mama Riko dan penjual roti itu tertawa mendengar celoteh Riana.
" Nggak apa apa Bunda. Asal di jadikan pelakor halal ". Tawa mereka bertiga pun pecah saat Mang Ujang si penjual roti berucap.