Pelakor Halal

Pelakor Halal
S2 Kembali nya Dhika


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 19:00 Eiliyah masih belum juga menampakkan batang hidung nya. Biasa nya gadis cantik yang mengenakan baju panjang lengkap dengan niqab itu sudah tiba di rumah sebelum adzan maghrib berkumandang.


Namun hingga adzan isya selesai berkumandang gadis itu masih belum juga terlihat kehadiran di tengah keluarga yang tengah berkumpul menyambut kedatangan Dhika yang tiba di rumah ba'da Ashar tadi.


Bunda tampak sibuk menghubungi Eiliyah dan lagi lagi operator yang menjawab panggilan nya.


Andrei dan Dhika sendiri memutuskan untuk menyambangi kampus Eiliyah, karena menurut Nadin sahabat Eiliyah, Eiliyah masih mengikuti kegiatan senat sehabis maghrib sebelum dia pulang meninggalkan Eiliyah di kampus.


" Apa Eil suka pulang telat Yah? ". Tanya Dhika sambil mengemudi.


" Kalau pulang telah Ara pasti memberi kabar A' ". Jawab Andrei yang kembali mencoba menghubungi nomor Eiliyah


" Ara? ". Gumam Dhika menatap jalan yang mulai gelap.


" Assalamu'alaikum Teteh. Teteh dimana? ". Dhika melambatkan laju kendaraan saat mendengar Ayah nya menyapa di telepon.


" Teteh tunggu Ayah di parkiran aja. Ayah sama A'a sudah mau sampai ".


" Motor nya di tinggal saja, nanti Ayah bilang sama Pak Mamat agar membawa motor Kamu ke rumah nya ".


" Jangan ngeyel Teh. Ini sudah malam. Ayah dan A'a sudah sampai di parkiran ".


Ayah menutup panggilan dan kemudian menghubungi salah seorang penjaga kampus yang dekat dengan rumah nya.


" Itu Ara nya A' ". Kedua bola mata Dhika membulat saat melihat sesosok gadis dengan gamis dan niqab berwarna peach tengah menunggu di parkiran.


Ayah bergegas keluar dari mobil nya saat Dhika menghentikan laju kendaraan tepat di samping Eiliyah.


Terlihat Eiliyah mencium punggung tangan Ayah dengan takzim dan engan melihat kearah dalam mobil. Padahal Dhika sangat berharap gadis itu sudi melihat nya yang kini tengah berada di balik kemudi.


" Baterai HP nya Ara habis Ayah. Maka nya nggak bisa hubungi rumah ". Dhika memejamkan mata nya saat mendengar kembali suara lembut yang sangat di rindukan nya sejak lima tahun yang lalu.

__ADS_1


Eiliyah mendudukan tubuh nya di kursi belakang dan Ayah nya kembali duduk di kursi depan di samping Dhika.


" Assalamu'alaikum Dek ". Eiliyah menghentikan kegiatan nya merapikan duduk nya saat mendengar Dhika menyapa nya.


" Waalaikumsalam ". Balas sapa Eiliyah dingin.


" Teteh sudah makan? ". Tanya Ayah memecahkan kesunyian di dalam mobil.


" Alhamdulillah, sudah Ayah. Tadi bareng sama teman teman ". Ucap Eiliyah yang mengalihkan pandangan nya keluar mobil, karena sejak tadi Dhika diam diam memperhatikan gerak gerik Eiliyah dari kaca spion depan.


" Ehm. Kegiatan kampus nya padat Dek? ". Eiliyah mengangguk pelan menjawab pertanyaan Dhika.


" Ada yang bisa kalian ceritakan kepada Ayah? ". Eiliyah dan Dhika mengalihkan perhatian mereka kepada Ayah nya.


" Sikap kalian berdua aneh ". Ucap Ayah seolah menjawab pertanyaan dari raut wajah mereka.


" Tidak ada / Ada ". Ucap Eiliyah dan Dhika bersamaan.


" Ayah tidak tau kalian sedang ada masalah apa. Hanya Ayah berharap kalian bisa menyelesaikan nya secara baik baik ". Eiliyah kembali mengalihkan pandangan nya keluar mobil seolah engan menatap kedepan.


Ayah hanya melihat dan memperhatikan secara diam-diam interaksi kedua anak nya yang hanya saling diam.


Hingga akhir nya mobil pun tiba di pelataran parkir kediaman mereka yang bersamaan dengan Pesantren.


" Selesai kan urusan kalian. Jangan sampai Bunda menjadi sedih melihat kalian berdua yang saling diam. Apalagi Teteh yang selalu menghindari A'a ". Ucap Andrei sebelum keluar dari mobil meninggalkan kedua anak nya untuk menyelesaikan masalah yang hanya mereka berdua yang tahu.


Dhika mengunci otomatis mobil saat Eiliyah akan membuka pintu mobil.


" Dek ". Panggil Dhika pelan.


Eiliyah hanya terdiam tak menjawab panggilan juga tatapan Dhika yang sengaja memutar tubuh kebelakang guna berhadapan dengan Eiliyah.

__ADS_1


" Maaf ". Eiliyah menepis tangan kanan Dhika yang hendak menyentuh nya.


" Buka pintu nya ". Pinta Eiliyah pelan tertahan.


" Kita hadapi semua nya bersama ". Ucap Dhika.


" Tak ada yang harus di hadapi bersama. Semua nya sudah terjadi dan sudah terlambat ". Ucap Eiliyah dingin.


" Bagaimana bisa terlambat kalau kita belum memulai nya ". Dhika kembali berusaha meraih tangan Eiliyah.


" Jangan sentuh. Kita bukan mahram ". Pekik Eiliyah tertahan, saat Dhika meraih dengan paksa jemari Eiliyah yang tertutup sarung tangan senada dengan gamis dan niqab nya.


" Kamu lupa, kalau Kamu sudah sah secara Siri, walau pun semua nya karena grebekan sejak lima tahun yang lalu ". Ucap Dhika tak terbantah.


" Jangan bilang apa pun sama Ayah juga Bunda. Jangan buat mereka kecewa ". Lirih Eiliyah melepaskan pegangan Dhika.


" Lihat calon A'a sudah menunggu kedatangan A'a ". Eiliyah mengarahkan dengan dagu pandangan nya ke arah Fatah yang tengah berdiri di depan pintu rumah.


" Jadi tolong buka pintu nya, jangan membuat semua nya menjadi masalah baru buat Kita kedepan nya ". Titah Eiliyah yang membuat Dhika dengan terpaksa membuka otomatis mobil.


Eiliyah menghapus air mata yang sedikit menetes sebelum keluar dari mobil. Dengan terburu buru Eiliyah berjalan memasuki pekarangan rumah nya.


" Assalamu'alaikum ". Sapa Eiliyah dari depan pintu.


" Waalaikumsalam Eil. Apa kabar? ". Balas sapa Fatimah.


" Alhamdulillah, baik Teh ". Balas Eiliyah dengan menundukkan kepala nya guna menutupi wajah sembab nya.


" Ara duluan ya Teh ". Eiliyah bergegas masuk kedalam rumah setelah Fatimah menganggukkan kepala nya pelan.


" A'a ". Hati Eiliyah teriris saat terdengar suara lembut Fatimah menyambut Dhika.

__ADS_1


" Ara, mau bersih bersih dulu ya Ayah Bunda ". Ucap Eiliyah setelah mencium punggung tangan Bunda nya.


Setelah mendapat anggukan dari keluarga nya gadis itu bergegas memasuki kamar nya


__ADS_2