
Andrei menggendong Dhika memasuki ruangan ICU, dengan mengenakan pakaian steril lengkap kedua nya menghampiri Pak Sutisna dan Bu Lina yang tengah terbaring koma dengan berbagai alat penunjang kehidupan menghiasi tubuh mereka.
Dhika mengeratkan pelukan kepada Andrei saat semakin mendekati bangkar Kakek dan Nenek nya.
" A'a, maafkan kesalahan Kakek dan Nenek? ". Bisik Andrei mengusap lembut punggung Dhika yang tengah menyembunyikan kepala nya di ceruk leher Andrei.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut balita tersebut, hanya terdengar tangisan kecil dan getaran tubuh yang menandakan balita tersebut sedikit terguncang entah karena melihat pemandangan yang berada di dekat nya atau tengah mengingat perbuatan Kakek dan Nenek dulu.
" A'. A'a tau kan Allah itu Maha Pemaaf? ". Kepala Dhika mengangguk pelan.
" A'a ingin Mama Misya dan Papa Dito bahagia di Syurga Nya Allah? ". Dhika mengangguk pelan.
" Jadi Dhika mau kan memaafkan kesalahan Kakek juga Nenek? ". Lagi lagi Dhika terdiam.
" Ayah tau, kalau Dhika masih marah sama Kakek juga Nenek. Tapi apa Dhika nggak kasian sama Kakek juga Nenek yang nggak bisa pulang kalau Dhika belum memaafkan kesalahan mereka ". Dhika kembali terisak kecil dalam pelukan Andrei.
Andrei menghela nafas pelan. Gelengan kepala Andrei arahkan kepada seorang dokter dan perawat yang berada di dalam ruangan NICU tersebut.
Tampak helaan nafa pelan terlihat dari balik masker yang di kenakan Dokter dan Perawat tersebut.
" Maafkan Kami Dok, Kami harus keluar dulu ". Ucap Andrei pelan yang di angguki oleh Dokter tersebut.
__ADS_1
Langkah Andrei terhenti kala Dhika sedikit menahan tubuh nya seolah meminta Andrei menahan langkah nya.
" Dhika mau maafin Kakek dan Nenek Ayah ". Bisik Dhika pelan.
" Alhamdulillah. Ayah dan Bunda tambah sayang sama A'a ". Andrei mengecup lama pucuk kepala Dhika.
Andrei pun melangkahkan kaki nya dan berdiri di tengah bangkar Pak Sutisna dan Bu Lina.
" A'a maafin Kakek sama Nenek ". Ucap Dhika yang walau pun pelan namun cukup terdengar oleh Dokter yang berada di sisi Pak Sutisna dan Bu Lina
Beberapa detik setelah Dhika berucap EKG keduanya berbunyi nyaring dan menampilkan tanda datar di layar kedua nya.
" Innalillahi Wa Innaillaihi Raji'un ". Gumam Andrei lalu memeluk erat tubuh Dhika, dan segera membawa Dhika keluar ruangan ICU.
Andrei menggelengkan kepala nya saat melihat kepada Riana dan yang lain nya.
" Innalillahi Wa Innaillaihi raji'un ". Gumam Riana. Sementara Papa Bharata dan Mama Shinta tampak menundukkan kepala nya sejenak untuk berdo'a sesuai dengan agama yang di anut mereka berdua.
" Kalian akan menunggu hingga pemakaman atau tidak? ". Tanya Papa Bharata kepada keluarga Andrei.
" Mungkin Andrei saja Pa, kalau Riana ikut kasian Riana, Dhika juga Eiliyah Pa. Istirahat mereka pasti akan terganggu nanti nya Pa ". Papa Bharata menganggukan kepala nya menyetujui usulan Andrei.
__ADS_1
" Kalau begitu biar mereka pulang ke rumah Papa saja, kalian menginap di rumah Kami saja ". Titah Pak Bharata tak bisa di ganggu gugat.
" Papa dan Kamu akan menghadiri pemakaman Pak Sutisna dan Bu Lina ". Ucap Pak Bharata yang di angguki semua nya.
" Bagaimana dengan keluarga mereka?. Bukan nya Dito anak tunggal mereka? ". Tanya Pak Bharata.
" Setahu Andrei ada Kakak dari Bu Lina yang tinggal bersama mereka dengan anak nya ". Ucap Andrei.
Dari kejauhan terdengar suara keributan yang meminta masuk kedalam ruang pemulsaran jenazah.
Andrei mengernyitkan kening kala melihat seorang wanita paruh baya yang cukup di kenal nya ketika Meisya dan Dito masih hidup karena sempat beberapa kali bertemu dengan nya.
" Itu mereka ". Tunjuk Andrei kepada dua orang wanita.
" Ck. Ternyata tak ada beda nya dengan kedua mendiang ". Gumam Mama Shinta saat terdengar suara sayup sayup keributan mengenai barang berharga kedua korban yang ternyata harus di tahan untuk barang bukti.
" Bakal ada drama lagi ini mah Drei ". Ucap Mama Shinta yang di angguki Riana.
" Lebih baik kita tidak usah mengantarkan jenazah ke rumah mereka. Kita langsung ke pemakaman nya saja Drei ". Ucap Pak Bharata yang di angguki oleh Andrei.
" Ya sudah. Lebih baik kita segera pulang. Kasian cantik dan ganteng nya Oma yang kaya nya udah lapar dan pengen bobo lagi ". Ucap Mama Shinta membuat Dhika melompat kecil bahagia.
__ADS_1
Dan akhir nya kedua keluarga beda usia itu pun memutuskan untuk pergi dari Rumah Sakit guna pergi kerumah Keluarga Bharata namun sebelum nya mereka pasti akan mampir ke sebuah restoran cepat saji kesukaan Dhika.