Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 44 Takdir Bukan Karma


__ADS_3

Brug


Mobil yang Sutisna kemudian menghantam pagar pembatas karena melaju di luar kendali akibat Lina yang menjengguti rambut Sutisna


Brak


Mobil itu berguling guling di tengah jalan tol yang hanya di lewati oleh beberapa mobil yang kini terlihat kocar kacir menghindari mobil Sutisna yang berguling-guling.


Prang


Mobil itu berhenti dengan Lina yang terjun bebas keluar dari dalam mobil menghantam kaca depan dan berakhir di sisi jalan dengan kondisi tak sadar kan diri.


Beberapa mobil menghentikan laju mereka guna membantu menghubungi nomor darurat, dan membantu mengevakuasi Lina ke pinggir jalan.


Sementara Sutisna yang masih berada di dalam mobil terlihat mulai sadarkan diri dengan tubuh yang terjepit kemudi mobil.


" Api ". Teriak beberapa pengemudi mobil yang tengah membantu Sutisna untuk keluar dari himpitan mobil.


Terlihat ceceran bahan bakar keluar dengan cepat dari tangki mobil Sutisna hingga membuat api menjalar semakin cepat dan membuat para orang yang hendak menolong Sutisna pun menjadi panik dan bergegas berlari menjauh dari mobil Sutisna yang mulai terbakar bagian belakang mobil nya.


" Tolong ". Teriak Sutisna panik, saat api semakin mendekati nya.


" Astaghfirullahalazim ". Pekik suara seorang pria yang baru saja menghentikan mobil nya.


Diraih nya semprotan pemadam kebakaran yang selalu berada di dalam mobil dan langsung bergegas keluar dari mobil dan kemudian menyemprotkan alat pemadam kebakaran darurat tersebut ke mobil Sutisna hingga berhasil membuat api itu padam.

__ADS_1


" Ya Allah Pak ".


" Ayah ". Panggil sesosok wanita yang keluar dari kabin penumpang belakang mobil pria yang memadamkan api tersebut.


" Bunda diam di situ bersama Dhika. Biar Ayah bantu Pak Sutisna dulu ".


Ya pria itu adalah Andrei yang berada di lokasi kejadian ketika mobil Sutisna berhenti dan melempar tubuh Lina dari dalam mobil.


Andrei yang saat itu akan membawa keluarga kecil nya berkunjung kerumah keluarga Bharata setelah Dhika pulang sekolah.


Riana kembali masuk kedalam mobil dan memeluk tubuh


Dhika dengan erat sementara Eiliyah tampak tertidur pulas di dalam car seat khusus bayi nya.


" Ada apa Bunda? ". Tanya Dhika yang seperti kebingungan melihat dia mobil ambulans serta beberapa mobil polisi sudah tiba di lokasi kecelakaan.


Riana mengusap dengan lembut punggung Dhika hingga balita itu tertidur kembali di car seat nya.


Wajah Andrei tampak panik saat memasuki mobil nya.


" Bunda, tolong hubungi Mama dan Papa kalau kita terlambat datang ke rumah nya. Karena kita harus ke rumah sakit dulu ". Ucap Andrei seraya memasang seat belt nya.


" Yang kecelakaan Pak Sutisna dan Bu Lina ". Ucap Andrei seolah menjawab pertanyaan tak terucap Riana.


" Innalillahi Wa Innaillaihi Raji'un ". Gumam Riana yang langsung menghubungi keluarga Bharata, dan Andrei melajukan kendaraan nya mengikuti dua ambulans yang membawa pasangan paruh baya yang sudah kehilangan kesadaran nya tersebut.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian mereka tiba di Rumah Sakit yang berada tepat di pintu keluar tol. Andrei meminta Riana untuk tetap berada di parkiran karena beberapa saat lagi Mama Shinta dan Papa Bharata akan di tiba di Rumah Sakit untuk menjemput Riana ke rumah mereka.


" Ri ". Panggil Mama Shinta yang lalu memeluk Riana dengan erat saat melihat Riana keluar dari dalam mobil.


" Mama ". Riana membalas pelukan Mama Shinta dengan tak kalah erat.


" Gimana Kakek dan Nenek nya Dhika Ri? ". Tanya Pak Bharata.


" Kata A'a, Pak Sutisna dan Bu Lina kritis Pa ". Jawab Riana.


" Itu nama nya Karma ". Celetuk Mama Shinta dengan nada sedikit kesal.


" Ya Tuhan Mama, jangan sembarangan bicara nya ". Ucap Papa Bharata mengingatkan Mama Shinta.


" Ck Papa ini, itu karma karena mereka serakah dan tamak atas hak nya Dhika ". Ucap Mama Shinta masih kesal.


Riana mengusap lembut punggung tangan Mama Shinta guna meredam emosi Mama Shinta.


" Dalam agama Kami hanya mengenal Takdir bukan Karma Ma, mungkin ini adalah teguran atas khilaf nya Kakek dan Nenek nya Dhika ". Ucap Riana lembut hingga membuat Mama Shinta menghela nafas pelan, dan Papa Bharata tersenyum kecil karena Riana telah berhasil membuat emosi istri nya tersebut sedikit reda.


" Ma Pa ". Sapa Andrei saat melihat keberadaan Papa dan Mama angkat nya. Dengan takzim Andrei mencium punggung tangan Papa Bharata dan mengatup kedua telapak tangan nya kepada Mama Shinta.


" Bagaimana kondisi mereka? ". Andrei menggelengkan kepala nya lemah.


" Mereka masih koma, namun Dokter bilang mereka menyebutkan nama Dhika sebelum mereka koma ". Ucap Andrei.

__ADS_1


Riana, Papa Bharata dan Mama Shinta menghela nafas pelan.


" Kalau begitu, pertemukanlah Dhika dengan mereka ".


__ADS_2