Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 77 S2 Pergilah


__ADS_3

Acid menghela pelan nafas nya saat membuka pintu kamar nya. Natasha terlihat tengah merebahkan tubuh nya di atas pembaringan dengan menghadap tembok.


Perlahan lahan Acid melangkah menuju pembaringan dan duduk di sisi yang berhadapan dengan kepala Natasha.


Tangan nya terulur mengusap kepala sang istri yang masih mengenakan hijab nya.


Natasha menggerakkan kepala nya menolak usapan yang Acid berikan. Namun Acid tak bergeming dan tetap mengusap lembut kepala Natasha.


" Maaf ". Bisik Acid namun membuat Natasha menangis.


" Pergilah ". Ucap parau Natasha di sela tangisan nya seraya menyingkirkan tangan Acid yang mengusap lembut kepala nya.


" Sayang ". Acid berucap lirih memanggil Natasha saat tangan Natasha lagi lagi menyingkirkan tangan Acid yang hendak menyentuh nya.


" Saya mohon pergilah ". Acid menggelengkan kepala nya.


Pria muda yang akan menjadi ayah itu justru merebahkan tubuh nya dan memeluk tubuh Natasha dan menyembunyikan kepala nya di punggung belakang Natasha.


" Aku mohon jangan meminta Aku untuk pergi ". Ucap Acid serak menahan tangis nya.


Pelukan nya kepada Natasha semakin erat hingga Acid bisa merasakan detak jantung juga isakan kecil tertahan Natasha.


" Justru secara tidak langsung Kamu lah yang sudah memutuskan untuk pergi. Jadi sebelum Kamu meminta izin untuk pergi, maka Aku lah yang meminta mu untuk pergi ". Ucap Natasha berusaha menyingkirkan pelukan Acid, namun Acid justru semakin mengeratkan pelukan nya.


" Jangan pernah meminta Ku untuk pergi dari sisi Kamu Sayang ". Acid berbisik lirih seraya mengusap lembut perut Natasha.


" Tapi Kamu sendiri yang sudah memutuskan untuk pergi. Bahkan Kamu membuat Aku menjadi orang terakhir yang mengetahui nya. Kamu anggap apa Aku ini ". Natasha melepaskan secara paksa pelukan Acid hingga membuat nya terpaksa langsung bangkit dari posisi nya dan hal itu membuat Natasha merasakan nyeri di perut nya.


" Pergilah. Aku mohon Pergilah ". Natasha mendorong tubuh Acid menjauh seraya menahan nyeri perut nya yang semakin menjadi hingga akhir nya membuat tubuh nya lemas dan tak sadarkan diri


" Sayang ". Pekik Acid meraih tubuh Natasha yang nyaris tersungkur diatas pembaringan nya.


" Ya Allah Sayang. Maaf ". Acid merebahkan tubuh Natasha dan kemudian bergegas keluar kamar guna meminta bantuan Eil.


" Teteh... A'a ". Acid yang panik mengetuk pintu kamar kedua kakak nya itu dengan keras.


" Apa ". Terlihat wajah sembab Eil dan wajah Kusut Dhika saat membuka pintu kamar mereka.

__ADS_1


Rupa nya tak hanya Acid yang nelangsa, ternyata Dhika pun bernasib sama setelah Eil habis habisan mengungkapkan kekecewaan nya terhadap Dhika saat Dhika memutuskan berangkat kuliah ke Kairo.


" Kak Nana pingsan ". Ucap Acid panik.


Eil mendorong tubuh Acid menyingkir dari hadapan nya dengan setengah berlari wanita itu menuju kamar Acid.


" Astaghfirullahalazim. Kak Nana ". Pekik Eil panik lalu menepuk nepuk pelan pipi Natasha guna menyadarkan Natasha dari pingsan nya.


" Kenapa jadi begini Dek ". Ucap Eil menatap tajam Acid yang juga terlihat panik.


" A'a panggilkan Dokter Shinta ". Dhika segera menghubungi Dokter jaga klinik pesantren nya.


" Ada apa ini ". Bunda yang mendengar keributan pun segera keluar dari kamar nya menuju kamar Acid.


" Astaghfirullahalazim. Nana kenapa Dek? ". Ucap Bunda tak kalah panik.


Wanita itu segera mengangkat kepala Natasha dalam pangkuan nya. Dengan perlahan-lahan Bunda memijat kening Natasha.


" Teteh tolong ambilkan Minyak Kayu Putih atau apa saja yang berbau aromatik ". Eil segera beranjak menuju kamar nya guna mengambil minyak kayu putih milik si kembar.


" Kenapa Nana bisa pingsan begini Rasyid ". Acid tersentak kaget dengan ucapan Bunda apalagi Bunda memanggilnya tidak dengan panggilan kesayangan nya. Dan Acid pun meyakini jika Bunda nya kini tengah marah kepada nya.


" Assalamu'alaikum ". Belum juga Acid menjawab Shinta pun tiba.


" Waalaikumsalam ". Balas salam yang berada di dalam kamar.


" Shinta tolong Kamu periksa Nana. Bunda takut Dia kenapa kenapa. Soal nya Nana sedang hamil ". Ucap Bunda tak beranjak dari posisi nya.


" Nana kenapa? ". Ayah tiba dengan wajah panik setelah tadi bertemu dengan Shinta dan mengabarkan kalau Natasha pingsan.


" Gimana Shinta? ". Tanya Bunda dan Ayah bersamaan.


" Seperti nya Kak Nana shock Ayah Bunda ". Jawaban Shinta membuat keluarga Acid menatap Acid dengan tajam.


" Untuk sementara ini tolong di jaga emosi Kak Nana, karena takut berpengaruh pada kehamilan juga mental Kak Nana ke depan nya ". Penjelasan Shinta membuat Acid semakin terpuruk dan menyesali mengambil keputusan tanpa membicarakan nya terlebih dahulu dengan sang istri.


Bunda dan Eil menatap tajam kearah Acid sementara Ayah dan Dhika hanya bisa menepuk masing masing punggung Acid.

__ADS_1


Setelah Shinta meninggalkan kamar Acid, terlihat kedua kelopak mata Natasha mulai mengerjap.


" Bunda ". Ucap Natasha pelan saat melihat Bunda masih setia memangku kepala nya di kedua paha Bunda.


" Alhamdulillah ". Gumam semua nya senang melihat Natasha sudah sadarkan diri dari pingsan nya.


" Apa yang Kamu rasakan Nak? ". Tanya Bunda lembut.


" Nggak ada Bunda, hanya saja perut Nana sedikit nyeri ". Jawab Natasha membuat semua nya khawatir, terutama Acid.


Pria paling muda itu segera menghampiri Natasha duduk di simpuh di bawah pembaringan dekat sang Bunda duduk.


Natasha menipis tangan Acid saat hendak menyentuh Natasha. Bunda dan Eil menggelengkan kepala kepada Acid saat Acid tetap bersikukuh ingin menyentuh Natasha.


Natasha membuang pandang nya enggan melihat Acid, dan hal itu membuat hati Acid teriris.


" Kalian selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin ". Ucapan Ayah mengalihkan perhatian mereka dari Natasha.


" Ayo Bunda ". Bunda mengangguk menjawab ucapan Ayah, dengan Bunda meletakkan kepala Natasha ke bantal dan kemudian mengusap lembut pucuk kepala Natasha.


" Bunda tinggal ya ". Natasha mengangguk pelan.


" Eil tinggal ya Kak ". Natasha lagi lagi mengangguk menjawab ucapan Eil.


Kedua pasangan halal itu pun berjalan berdampingan meninggalkan kamar menyisakan sepasang kekasih halal itu untuk menyelesaikan permasalahan mereka.


" Sayang ". Panggil Acid yang hanya di balas Natasha dengan helaan nafas kecewa.


" Maaf ". Acid memaksa menggenggam telapak tangan Natasha hingga membuat Natasha akhir nya hanya bisa pasrah dengan tindakan Acid.


" Bukan maksud Aku tak membicarakan hal ini sama Kamu, tapi Aku sendiri bingung ingin mulai membicarakan nya sama Kamu dari mana, apalagi saat ini Kamu tengah hamil dan Aku nggak tega kalau harus meninggalkan Kamu ". Ucap Acid seraya mengusap lembut punggung tangan Natasha.


" Pergilah ". Hati Acid semakin teriris mendengar ucapan Natasha yang masih enggan menatap nya.


Bahkan Natasha membalikkan tubuh nya membelakangi Acid walau pun Acid masih mengenggam tangan nya.


Acid menundukkan kepala nya dalam dalam, hingga sesaat kemudian tangis yang ditahan nya itu pun pecah melihat Natasha yang tak menanggapi nya.

__ADS_1


__ADS_2