Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 63 Amarah Eil


__ADS_3

" Ck, Kenapa nggak cari wanita lain yang bersedia tidak menunda-nunda punya momongan? ". Pertanyaan Natasha membuat Eiliyah memundurkan kaki nya beberapa langkah.


Apa itu salah satu nya Kamu Sha? ".


Deg.


Hati Eiliyah seketika itu juga terasa sakit, saat mendengar pertanyaan Dhika, apalagi saat Natasha tersenyum dan mengarahkan pandangan nya kearah Dhika.


Acid hendak melepaskan genggam tangan Eiliyah namun di tahan oleh Eiliyah, gelengan kepala Eiliyah membuat Acid menahan langkah juga suara nya.


" Bukan kah sekarang kita sudah sama, tak ada lagi penghalang di antara Kita ? ".


Terdengar suara tawa Dhika dan hal itu membuat hati Eiliyah bertambah sakit.


Eiliyah menarik tangan Acid agar mereka segera beranjak pergi meninggalkan Dhika dan Natasha.


" Kenapa harus bertanya kalau Kamu sudah tau jawaban nya Sha ".


Eiliyah menarik paksa tangan Acid agar mereka segera pergi.


" Jawaban nya masih sama seperti dulu, untuk saat ini dan juga nanti ".


Eiliyah terdiam tak jadi menarik tangan Acid yang seperti nya Acid pun enggan beranjak pergi karena masih ingin mendengar jawaban Dhika.


Kalau Dhika menerima Natasha sudah bisa di pastikan Acid lah yang maju untuk memberikan bogeman mentah kepada kakak ipar yang sayang nya kakak angkat nya juga itu.


" Sejak dari dalam kandungan Bunda, Kamu sudah mengklaim Eiliyah adalah jodoh mu ". Ucap Natasha yang di balas anggukkan Dhika.


" Banyak orang bilang pernikahan Aku dan Ana hanya sebagai bukti balas jasa Aku kepada Ayah dan Bunda, tanpa kalian tidak tau rasa nya jadi Aku ". Dhika tampak merenung sesaat.


Helaan nafas berat terdengar dari sela nafas nya.


" Menjadi anak yang di rebutkan oleh keluarga nya sendiri karena harta, bahkan menghalal kan segala cara untuk bisa merebutnya, dan semua itu bukanlah hal yang mudah untuk di jalani oleh anak yang saat itu masih berusia 5 tahun. Namun Aku bisa menjalani itu semua karena ada nya Ayah dan juga Bunda. Tanpa mereka Aku tak tau akan jadi apa Aku saat ini ".


" Aku senang saat Bunda hamil dan setelah tau Adik ku kelak seorang wanita, dan saat itu pula lah Aku meminta kepada Ayah dan Bunda anak mereka untuk menjadi pendamping Ku kelak. Semua nya nggak segampang yang kalian pikir, Ayah dan Bunda hanya menganggap ucapan ku saat kecil hanya angin lalu. Bahkan Ana sendiri pun hanya menganggap Aku sebagai kakak nya tak lebih ".


" Sakit rasa nya saat mendengar cerita nya tentang pria lain yang di kagumi nya sejak kecil hingga menjelang SMP. Kamu tau hal ternekad yang Aku lakukan hanya untuk mengikat Ana menjadi milik ku Sha? ".


Natasha menggelengkan kepala nya menjawab pertanyaan Dhika.

__ADS_1


" Aku sengaja meminta tolong penduduk kampung tempat Tante ku hanya untuk memergoki Aku dan Ana yang berteduh di saung saat hujan, dan memaksa nya untuk menikahkan kami saat itu juga ". Dhika tertawa miris saat mengenang kenekatan.


Eiliyah meremas dengan kencang tangan Acid yang masih menggengam nya.


" Astaghfirullahalazim Teteh, sakit atuh ". Pekik Acid hingga membuat Dhika dan Natasha pun menengok kebelakang.


Acid melepaskan genggam tangan nya dengan Eiliyah, jemari terasa sakit saat sang kakak meremas nya dengan sangat kuat hingga memerah.


Kedua bola mata Dhika membulat saat melihat Eiliyah yang kini menatap nya dengan tajam. Tak mau ambil resiko Dhika pun bergegas menghampiri Eiliyah dan Acid.


" Dek ". Panggil Dhika. Eiliyah menepis tangan Dhika saat akan menyentuh nya.


" Eil kecewa sama Kak Dhika ". Ucap Eiliyah yang berjalan meninggalkan Dhika dan juga Acid, sementara seulas senyum tampak tersungging di bibir Natasha.


" Dek dengerin dulu penjelasan A'a ". Ucap Dhika sambil mengejar Eiliyah.


" Kakak tega. Kenapa Kakak lakuin itu semua sama Eil. Apa salah Eil, sampai kakak harus mengikat Eil dengan cara seperti itu ". Bentak Eiliyah saat Dhika berhasil meraih tangan nya.


" Bukan begitu Na ". Dhika mengenggam erat jemari Eiliyah yang terus menerus menolak nya.


" Bukan begitu apa?. Apa Kakak mikir perasaan Eiliyah saat itu?. Menikah muda karena di gerebek dan tanpa di walikan oleh Ayah?. Dan ternyata semua itu adalah akal akal Kakak agar bisa mengikat Eil ? ". Bentak Eiliyah.


Eiliyah menolak Dhika untuk memeluk nya. Tubuh nya meronta bahkan memukuli Dhika saat Dhika berusaha memeluk nya hingga membuat Eiliyah pun histeris.


Acid pun bergegas meraih tubuh Eiliyah dan memeluk tubuh Eiliyah.


" Obsesi. Kakak hanya terobsesi dengan Eil ". Pekik Eiliyah lalu mendorong tubuh Dhika menjauh dari nya.


" Acid ayo kita pulang ". Titah Eiliyah yang di angguki Acid.


Dhika menatap penuh sesal kepada Eiliyah yang memeluk tubuh Acid dengan erat.


" Acid kecewa sama A'a ". Gerutu Acid kepada Dhika sebelum memapah tubuh Eiliyah ke rumah.


Dhika menatap penuh salah Eiliyah dan Acid yang berjalan semakin menjauh.


Tanpa pamit Dhika pun berjalan meninggalkan Natasha yang menatap nanar kepergian Dhika.


" Obsesi. Apa itu juga yang Aku rasakan terhadap Dhika dulu ? ". Tanya Natasha dalam hati, kala menyadari Dia hanya bisa terpaku pada sosok Dhika sebagai pendamping nya kelak sejak SMU dulu.

__ADS_1


Mengorbankan keyakinan nya hanya untuk bisa menggapai cinta Dhika?. Senyum miris tersungging di wajah cantik nya.


Bukan bukan Dhika yang membuat keyakinan nya berubah, namun hati nya lah yang memilih untuk merubah keyakinan nya, walau pun sempat terbesit niatan berubah nya itu untuk menggapai Dhika.


Namun setelah di pikir nya lagi Dia sudah merasa nyaman dengan keyakinan nya saat ini. Dan lebih memilih mengubur dalam dalam rasa nya terhadap Dhika dan akan lebih memilih fokus mempelajari keyakinan baru nya.


Meyakinkan hati akan tiba masa nya jodoh itu datang tanpa harus di cari.


Dan kini sejak memutuskan menjadi seorang Mualaf dan mengetahui Dhika sudah menikah setahun yang lalu, perasaan Natasha kepada Dhika sudah hilang dan menganggap Dhika hanya sebatas sebagai sahabat nya.


Natasha tersenyum kecil mengingat betapa sayang dan perhatian nya Acid terhadap Eiliyah membuat hati nya sedikit tergelitik setelah beberapa tahun merasakan hal yang sama terhadap Dhika.


" Sayang masih terlalu kecil ". Gumam Natasha seraya tersenyum kecil kala otak nya selintas terpesona oleh sikap dan juga wajah Acid yang mewarisi wajah sang Ayah.


" Ck. Come on Natasha, He's to young ". Gumam Natasha sambil berjalan menuju mobil nya sambil tersenyum kecil.


" Kalau nggak pamit nggak enak ya ". Natasha membatalkan niat nya menuju ke mobil nya, langkah nya berputar kearah rumah yang berada tak jauh dari tempat terparkir mobil nya.


" Assalamu'alaikum ". Salam Natasha dari depan pintu.


" Waalaikumsalam ". Jawab salam seorang pria.


Senyum kecil Natasha langsung terbit kala melihat sang penjawab salam yang juga bersiap menyambut kedatangan nya.


Beda hal nya dengan Natasha yang menampilkan senyuman, sang penjawab salam itu tampak memasang wajah garang yang entah mengapa terlihat imut dan menggemaskan bagi Natasha.


" Siapa Dek?. Lho Nak Nana, mari silahkan masuk ". Natasha mengangguk pelan dan beranjak memasuki rumah menanggapi ucapan sang pemilik rumah.


" Ada tamu tuh di suruh masuk Dek ". Bunda menepuk pelan baju Acid yang masih menatap garang Natasha.


" Nggak usah pasang muka garang gitu Dek. Jadi pingin Kakak gigit tau ". Bisik Natasha saat berhadapan dengan Acid, dan dengan iseng nya, Natasha mengacak acak rambut Acid yang saat ini sudah mengenakan seragam putih abu abu nya.


" Bukan mahram ". Sentak Acid kesal menepis tangan Natasha.


" Mau dong di jadiin Mahram nya ". Goda Natasha hingga membuatmu Acid memundurkan tubuh nya dan berjalan meninggalkan Natasha mengulum senyuman melihat Acid yang kesal.


" Ngimpi ". Gerutu Acid saat berjalan meninggalkan Natasha yang tengah tertawa kecil karena berhasil menggoda Acid.


" Boleh lah ngimpi dulu siapa tau nanti jadi kenyataan ". Acid berdecak kesal karena lagi lagi Natasha mengacak acak rambut nya sebelum berlari kecil mengikuti langkah Bunda Acid.

__ADS_1


__ADS_2