
Kening Andrei mengernyit saat menyimak ucapan pria yang sedang duduk di hadapan nya di dalam ruang kerja bengkel.
Pria yang mengaku bernama Mahesa itu merupakan salah seorang petugas dari salah satu perusahaan Asuransi ternama di negara ini.
Dengan seksama Mahesa menyerahkan beberapa berkas yang sukses membuat Andrei kebingungan.
" Jadi Mas Dito dan Mbak Misya membuat Asuransi yang mana Dhika adalah penerima Asuransi tersebut? ". Tanya Andrei kebingungan dengan jumlah nilai Asuransi yang akan di terima oleh Dhika.
" Betul Pak. Dan karena Dhika masih di bawah umur, maka wali nya lah yang berhak untuk mewakilkan Dhika menerima dana Asuransi tersebut ". Jawab Mahesa membuat Andrei menghela nafas pelan.
" Pantas saja Kedua orang tua Kak Dito memaksa meminta hak asuh Dhika, ternyata ini yang mereka ingin kan ". Gumam Andrei yang di angguki oleh Mahesa.
" Bapak dan Ibu Sutisna lah yang mengajukan klaim asuransi milik Pak Dito dan Bu Misya. Namun ketika Kami telusuri lebih lanjut ternyata Pak Dito dan Bu Misya mempunyai seorang putra, jadi klaim asuransi itu hanya bisa di lakukan oleh anak Pak Dito dan Bu Misya". Andrei menyimak dengan seksama penjelasan Mahesa.
" Karena itulah ketika Pak Sutisna ingin mencairkan dana klaim asuransi tersebut, pihak Kami tidak bisa melakukan nya, karena masih ada Ananda Mahardhika sebagai penerima sah nya ". Ucap Mahesa yang di angguki oleh Andrei.
__ADS_1
" Namun seperti nya Bapak Sutisna beberapa hari yang lalu sempat menemui Saya dan memberikan surat kuasa atas Dhika ". Mahesa menyerahkan selembar surat dengan blangko Pengadilan Negeri kota mereka.
Andrei tampak tersenyum kecil setelah membaca surat yang Mahesa berikan tersebut.
" Surat ini palsu Pak ". Ucap Andrei membuat Mahesa terkejut.
" Bagaimana bisa surat ini palsu Pak ". Ucap Mahesa bingung.
" Sebentar Saya ambil kan surat dari Pengadilan Negeri mengenai hak asuh Dhika yang jatuh ke tangan Saya ". Ucap Andrei lalu mengambil salinan bukti hak asuh Dhika.
" Astaghfirullahalazim ". Mahesa bergumam terkejut sambil melihat dengan seksama surat yang Andrei serahkan.
" Seperti akan Saya proses Pak. Saya takut ke depan nya Pak Sutisna akan melakukan hal lain nya dengan mengatasnamakan hak asuh Dhika untuk kepentingan nya sendiri ". Mahesa mengangguk setuju dengan ucapan Andrei.
" Baiklah kalau begitu. Untuk klaim asuransi Bapak Dito dan Ibu Misya akan Saya ajukan Dhika sebagai penerima tunggal dengan wali Pak Andrei ".
__ADS_1
Andrei menghela nafas pelan seolah tak setuju dengan usul yang Mahesa ajukan.
" Bisakah Saya meminta tolong kepada pihak asuransi untuk langsung menyetorkan ke rekening pendidikan Dhika saja Pak? ". Mahesa mengernyitkan kening nya melihat kepada Andrei.
" Saya tidak mau klaim asuransi Mas Dito dan Mbak Misya, kelak akan menjadi masalah baru dengan keluarga Pak Sutisna. Walau bagaimanapun juga Mas Dito adalah Putra Keluarga Sutisna ". Mahesa mengangguk pelan seolah mengerti penjelasan yang Andrei sampaikan.
" Bagaimana kalau yang klaim asuransi tersebut dibuat dalam bentuk Deposito atau Tabungan Pendidikannya Dhika kelak ". Andrei tampak menimbang usulan Mahesa.
" Seperti nya akan lebih baik kalau di buat dalam bentuk Tabungan Emas saja Pak Mahesa ". Mahesa tersenyum menanggapi ucapan Andrei.
" Seperti nya itu lebih baik Pak ". Ucap Mahesa yang di angguki Andrei.
" Lalu bagaimana dengan Surat Hak Asuh palsu yang di buat Pak Sutisna. Apa Pak Andrei akan memproses nya lebih lanjut? ". Andrei menghela nafas pelan.
" Seperti nya Saya akan melaporkan Surat Hak Asuh palsu tersebut ke pihak yang berwajib Pak ". Lagi lagi anggukan kecil Mahesa berikan sebagi tanggapan ucapan Andrei.
__ADS_1
" Saya takut mereka akan memanfaatkan Surat Palsu tersebut dengan mengatasnamakan Dhika ". Ucap Andrei.
" Saya setuju dengan usulan Pak Andrei ". Ucap Mahesa