Pelakor Halal

Pelakor Halal
Bab 62 S2 Guliran Waktu 2


__ADS_3

Dhika menghela nafas lega sesaat setelah hakim mengabulkan tuntutan nya kepada Andini dan juga keluarga Fatimah yang setelah di selidiki lebih lanjut juga terlibat dalam kasus pencemaran nama baik.


Iri dan dengki karena hanya dalam jangka waktu beberapa tahun pesantren milik Dhika lebih terkenal di bandingkan pesantren milik keluarga Fatimah, padahal pesantren tersebut turun kwalitas nya selepas di kelola oleh Kiyai Ahmad setelah sang Ayah wafat.


Andini sendiri masih tidak menyerah untuk mendapatkan Andrei, bahkan dengan tidak tahu malu nya wanita itu mengungkapkan niatan nya untuk menjadi istri kedua Andrei yang tentu saja hal tersebut membuat keluarga Andrei berang.


Acid bahkan secara lantang menolak niatan Andini, bahkan remaja itu nyaris hilang kendali saat Andini tiba tiba ingin memeluk sang Ayah, hingga membuat remaja itu reflek menarik sang Ayah menjauh dan hal itu membuat Andini terjatuh.


Andini melanggar Pasal 28 ayat (2) UU ITE yang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA, diancam hukuman dalam Pasal 45A ayat (2) UU 19/2016, sehingga membuat pihak pengadilan menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara.


Walau pun pihak keluarga Andini dari sang Papa terus mengiba kepada keluarga Andrei agar hukuman Andini di kurangi.


Namun melihat ulah Andini yang masih terobsesi dengan Andrei membuat keluarga Andrei menolak permintaan keluarga Andini.


Dengan melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE diatur dalam Pasal 45 ayat (3) UU 19/2016 Kiyai Ahmad dan Fatimah di jatuhi hukuman 3 tahun penjara karena secara terang terang mereka mengakui perbuatan nya di landasi oleh iri dan obsesi mengusai pesantren milik Dhika.


Bahkan dengan dalil sunnah Kiyai Ahmad lagi lagi meminta kesediaan Dhika untuk menjadikan Fatimah sebagai istri kedua.


Dan tentu saja hal tersebut lagi lagi langsung di tolak oleh Dhika.


Bahkan Eiliyah hanya diam saat Kiyai Ahmad lagi lagi minta kesediaan nya menerima Fatimah sebagai madu nya.


" Tak ada yang rela berbagi suami Kiyai. Seandainya hal itu terjadi kepada keluarga Kiyai apakah Umi Fatimah akan rela menerima wanita lain sebagai madu nya? ". Sebuah ucapan yang membuat Umi Fatimah tertunduk malu saat Eiliyah menjawab permintaan suami dan juga anak semata wayang nya.


" Hanya wanita wanita yang dipilih Allah, bisa sabar dan ikhlas menerima wanita lain nya sebagai madu. Dan sayang nya Saya belum atau bahkan mungkin tidak akan pernah bisa menjadi seperti itu ". Eiliyah berucap dengan lembut, hingga membuat semua nya pun terdiam.


Dhika menggengam dengan erat jemari Eiliyah, kedua saling berpandangan dan melempar senyuman.


🌹🌹🌹🌹


Waktu bergulir tak terasa sudah setahun pernikahan ulang Dhika dan Eiliyah di laksanakan. Sebuah resepsi sederhana pun telah di gelar bersamaan dengan selamatan kelulusan Eiliyah beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Kegiatan Eiliyah selepas merampungkan kuliah nya tak hanya membantu suami nya mengajar di pesantren. Wanita cantik itu kini tengah memulai usaha membuat pakaian yang di buat oleh para santri juga santriwati yang di jual nya secara online dan offline.


Sebuah ruko kecil sengaja di bangun oleh Dhika di depan Pondok Pesantren mereka berdampingan dengan sebuah mini market yang di kelola oleh nya dengan memperkerjakan para santri dan santriwati untuk menjaga toko tersebut.


Ayah dan Bunda hanya kini hanya mengawasi perkembangan pesantren setelah menyerahkan nya kepada Dhika.


Dan kini setelah pesantren itu di asuh oleh Dhika, semakin banyak orang tua yang menitipkan anak mereka di pesantren tersebut.


Tak hanya untuk anak yatim piatu dan tidak mampu, beberapa orang yang bisa di bilang berkecukupan pun menitipkan anak mereka di pesantren tersebut.


Tak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin membuat pesantren tersebut banyak di minati.


Belum lagi dengan sistem pengajaran yang diterapkan membuat pesantren tersebut berkembang dengan pesat.


Ayah menatap tak percaya dengan pencapaian yang sudah di dapat nya hingga saat ini.


Jalan hidup tak ada yang mudah, di butuhkan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani nya.


Jangan pernah menyerah dan teruslah berusaha itulah yang selalu di ajarkan nya tak hanya kepada anak anak nya namun juga kepada anak anak asuh nya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Eiliyah tampak termenung di dalam ruang kerja nya. Pikiran melayang ke beberapa saat yang lalu, saat seorang wanita seusia Dhika tiba tiba datang berkunjung ke pesantren mereka.


Sempat terkejut saat wanita itu memperkenalkan diri sebagai teman dekat Dhika saat Sekolah dulu, bahkan Dhika pun yang memperkenalkan diri nya kepada Eiliyah.


" Teteh kenapa? ". Eiliyah mengerjapkan mata nya dan wajah nya tampak terkejut saat melihat Acid sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan nya.


" Nggak ada apa apa Dek ". Eiliyah menjawab nya dengan kembali fokus pada pekerjaan.


" Di cariin A'a tuh ". Eiliyah menghentikan kegiatan nya lalu melihat kearah Acid dengan heran.

__ADS_1


" Oh ". Acid berdecak kecewa saat Eiliyah memilih kembali sibuk dengan pekerjaan nya.


Entah mengapa Dia enggan mendampingi Dhika menemani wanita yang di perkenalkan nya tadi.


Natasha Nugroho. Setahu Eiliyah sang Bunda dulu pernah menyinggung nama tersebut ketika Eiliyah SD dahulu.


Bahkan Ayah sempat menanyakan keseriusan Dhika tentang hubungan nya dengan Natasha dulu, dan Dhika hanya menjawab sebatas teman, lagi pula mereka berbeda agama, sehingga Ayah dan Bunda pun tak lagi melanjutkan pertanyaan mereka.


Dan kini dengan alasan ingin lebih mengenal agama Islam dan baru saja menjadi seorang mualaf, wanita itu berkunjung ke pesantren Dhika.


" Malah bengong lagi. Udah buruan temuin A'a ". Acid menarik paksa tangan Eiliyah keluar dari ruang kerja nya.


Membawa dengan paksa Eiliyah keluar dari toko nya guna menemui Dhika yang tampak tengah berbincang berdua dengan Natasha di area perkebunan pesantren.


" Sudah hampir menikah tahun tapi belum juga punya momongan Ka? ". Acid menghentikan langkah nya saat Eiliyah menahan langkah mereka untuk mendekati Dhika dan Natasha yang tengah berada di depan mereka.


kedua tampak serius melihat ke depan hingga tidak menyadari kalau Eiliyah dan Acid sudah berada beberapa langkah di depan mereka.


" Masih belum. Do'a kan supaya bisa di segerakan ". Jawab Dhika hingga terlihat dari belakang kalau Natasha menyunggingkan senyuman kecil.


" Bagaimana mau di segerakan kalau pernah menunda? ". Dhika tersenyum kecil menanggapi ucapan Natasha, sementara Eiliyah tampak mengenggam erat jemari Acid hingga Acid mengalihkannya pandangan kearah Eiliyah.


" Mau bagaimana lagi Eiliyah yang memintanya untuk menunda ". Eiliyah menundukkan kepala nya dalam dalam. Bahkan Eiliyah tak menggubris hentakan tangan Acid yang tengah di gengam nya.


" Ck, Kenapa nggak cari wanita lain yang bersedia tidak menunda-nunda punya momongan? ". Pertanyaan Natasha membuat Eiliyah memundurkan kaki nya beberapa langkah.


Apa itu salah satu nya Kamu Sha? ".


Deg.


Hati Eiliyah seketika itu juga terasa sakit, saat mendengar pertanyaan Dhika, apalagi saat Natasha tersenyum dan mengarahkan pandangan nya kearah Dhika.

__ADS_1


Acid hendak melepaskan genggam tangan Eiliyah namun di tahan oleh Eiliyah, gelengan kepala Eiliyah membuat Acid menahan langkah juga suara nya.


" Bukan kah sekarang kita sudah sama, tak ada lagi penghalang di antara Kita ? ".


__ADS_2