
Selama kepergian Eva ke luar kota, Kenzo pun juga disibukkan dengan urusan kantor. pria itu sungguh pengertian dengan sang kekasih. Pesan dan teleponnya yang tidak mendapat respon dari Eva, Kenzo selalu mengerti kalau kekasihnya itu memang benar-benar sibuk dan tidak bisa diganggu. Memang seseorang yang dibutakan oleh cinta, akal sehatnya pasti akan tertutup oleh kebodohannya. Coba saja Kenzo bisa berpikir secara logika, dia mendatangi butik Eva dan menanyakan pada keryawannya tentang event yang sedang diikuti oleh kekasihnya itu dimana dengan alasan dia akan menyusulnya. Tapi nyatanya Kenzo tidak melakukan itu semua.
Setelah pekerjaannya selesai, Kenzo segera mengemasi beberapa dokumennya. Namun ada pesan dari Joseph yang mengajaknya nongkrong di salah satu café favorit mereka. Kenzo pun akhirnya membalas pesan itu dan segera datang.
Dalam perjalanan, Kenzo memijit keningnya sambil tangan kanannya masih memegang kemudi. Tiba-tiba saja bayangan wajah Pelangi muncul dalam benaknya. Apa yang sedang dilakukan oleh perempuan itu saat ini.
“Pasti dia sedang memasak. Kenapa aku jadi ingin makan masakannya.” Gumam Kenzo.
Sedikit banyak dia tahu kalau Pelangi akan menggunakan dapur untuk memasak jika keadaan apartemen sedang sepi. Atau tidak ada Eva disana.
Sesampainya di café, Kenzo segera menghampiri seseorang yang sedang duduk kursi yang letaknya paling pojok dan menghadap ke jalan. Joseph terlihat sedang menyesap secangkir cappuccino yang baru saja dia pesan.
“Udah lama lo?” Tanya Kenzo.
“Nggak. Baru saja. Lo pesen dulu gih mau minum apa?” ucap Joseph.
Akhirnya Kenzo memanggil salah satu pelayan untuk membuatkan secangkir espresso untuknya. Sambil menunggu pesanannya datang, dia berbincang-bincang dengan Joseph.
“Ada apa nih tumben lo ngajak ketemuan?” Tanya Kenzo.
“Bukan tumben. Bahkan dulu kita sering kesini usai jam kantor. meski tanpa ada hal penting yang kita bahas.” Jawab Joseph menyindir sang sahabat.
Deg
Kenzo terdiam dan membenarkan ucapan Joseph. Memang dulu dirinya sering bertemu dengan Joseph. Mungkin satu minggu bisa 2 kali atau setidaknya seminggu sekali mereka nongkrong. Namun semenjak dirinya menjalin hubungan dengan Eva, satu bulan saja dia tidak pernah menyempatkan datang untuk nongkrong dengan Joseph.
“Sorry. Lo ngajak nongkorong disini buat bahas itu? Gue jadi malas. Tahu gitu gue pulang aja bisa makan masakan Pelangi.” Jawab Kenzo dan membuat Joseph membelalakkan matanya.
“Eh, maksud gue makan gratis. Nggak ada maksud lain. Lumayan kan hemat pengeluaran daripada makan diluar.” Jawab Kenzo meralat omongannya.
__ADS_1
“Berawal dari perut, lama-lama naik ke hati. Bukan dari mata turun ke hati. Makanya mata dan hati lo buta.” Ucap Joseph dan lagi-lagi tepat sasaran.
Seorang pelayan datang membawakan pesanan Kenzo. kemudian dia membiarkan espresso itu sedikit hangat sebelum menyesapnya.
“Tumben lo bisa datang kesini? Nggak dicariin tuh sama cewek lo?” Tanya Joseph.
“Nggak. Dia lagi ada event di luar kota selama beberapa hari.” Jawab Kenzo.
“Ya, semoga aja event benaran.” Ucap Joseph datar.
“Udah deh Josh, kalau lo hanya memojokkan Eva, lebih baik gue pulang aja.” Ucap Kenzo kesal dan segera beranjak dari duduknya namun masih tertahan.
“Cih, jadi laki baperan.” Ucap Joseph dan mau tak mau membuat Kenzo kembali duduk dan terpaksa harus meladeni pembicaraan Joseph yang baginya tak bermutu.
Joseph pun tidak melulu bahas Eva. Maksudnya mengajak Kenzo bertemu di café adalah karena dia ingin memberitahukan tentang acara reuni SMA yang akan diadakan akhir bulan nanti. Joseph adalah salah satu panita yang akan menghandle acara tersebut, jadi dia lebih dulu menyampaikannya pada Kenzo.
“Acaranya di vila dan nginap. Yang udah punya pasangan boleh bawa pasangannya. Maksudnya suami istri. Kalau masih status pacaran nggak dibolehin.” Ucap Joseph.
“Ya terserah lo. Kalau lo nggak mau ya lo datang sendiri aja. Kalau gue sih nanti ngajak istri gue pastinya. Bangga dong sudah punya istri, dan bisa pamer pada teman-teman yang masih jomlo” Ucap Joseph berlagak songong.
Kenzo malas menanggapi omongan Joseph. Joseph memang sudah menikah dan belum ada satu tahun. Jadi masih termasuk kategori pengantin baru. Pastinya dia juga tidak mau jauh dari istrinya. Sedangkan dirinya, memang sama-sama pengantin baru. Namun tidak layaknya seperti pasangan pada umumnya.
“Iya lo enak nanti bisa peluk-peluk istri lo.” Jawab kenzo kesal.
“Makanya lo takhlukin dulu dong hati istri lo.” Ucap Joseph dan lagi-lagi Kenzo malas menanggapinya.
Obrolan unfaedah itu akhirnya selesai. mereka ngobrol hanya sampai jam 8 saja setelah itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Joseph juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan istrinya. Maklum masih pengantin baru.
Sesampainya di apartemen, Kenzo masuk ke unit apartemennya. Kedatangannya sudah disambut dengan bau masakan yang sangan membangunkan nafsu makannya. Dia segera masuk ke kamarnya dan mandi dengan cepat, setelah itu bergegas menuju meja makan.
__ADS_1
Sedangkan Pelangi memang sengaja memasak untuk makan malamnya agak malam. Karena sejak tadi sore selepas pulang kerja tidak sengaja dia ketiduran. Alhasil saat terbangun perutnya merasa lapar. Jadi dia membuat nasi goreng saja yang menurutnya simple.
Saat Pelangi sedang sibuk di dapur, dia juga mendengar Kenzo pulang. Namun dia tidak peduli mau pulang jam berapa laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
“Ehm, apa lo masak lebih?” Tanya Kenzo basa-basi.
Pelangi hanya mengangguk kemudian mengambil satu piring lagi dan mengambilkan untuk Kenzo. untung saja dia membuat dengan porsi lebih, jadi tidak harus membagi miliknya untuk Kenzo.
Kenzo duduk di kursi sambil menunggu istrinya menyiapkan makan malamnya. Setelah selesai, mereka berdua menikmati makan malamnya dalam keadaan hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok. Kenzo sangat menikmati masakan Pelangi. Walau hanya nasi goreng dan telur, tapi rasanya sangat nikmat. Sedangkan Pelangi hanya menikmati makanannya tanpa melihat sekalipun pada Kenzo yang sejak tadi sesekali mencuri pandang pada dirinya.
“Kalau sedang tidur dan makan saja kelihatan menggemaskan. Coba saja mode galaknya keluar. Bikin emosi aja. Eh tapi bagaimana ya kalau di atas ranjang. Apakah seganas dengan tingkah lakunya yang bar-bar itu.” Gumam Kenzo dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
Selesai makan, Pelangi segera membersihkan piringnya sendiri. Karena dia melihat Kenzo belum selesai makan. Dan setelah itu Pelangi berniat kembali masuk ke dalam kamarnya, namun Kenzo dengan cepat mencekal lengannya.
“Terima kasih makan malamnya.” Ucap Kenzo dan Pelangi hanya diam saja.
“Ehm, mau nggak lo ngelakuin ini seperti layakanya pasangan suami istri pada umumnya?” Tanya Kenzo tiba-tiba dan membuat Pelangi bingung.
“Maksud gue, lo masakin gue tiap hari. Dan kalau nggak keberatan bawain gue bekal untuk ke kantor.” ucap Kenzo.
Pelangi semakin bingung dengan sikap aneh Kenzo ini. apakah pria itu habis kemasukan setan atau sedang sakit, hingga berbicara ngelantur seperti ini.
“Ya sudah. Ini perintah dan lo ga boleh nolak.” Ucap Kenzo tegas dan segera meminum air putih yang sudah disediakan oleh istrinya. Setelah itu masuk ke kamar meninggalkan Pelangi yang masih terdiam.
.
.
.
__ADS_1
*TBC