
Pagi itu Kenzo dan Pelangi berangkat ke puncak untuk datang ke acara reuni yang diadakan oleh teman-teman Kenzo. Kenzo kini sedang duduk disamping Pelangi yang sedang memegang kemudi. Sebenarnya Kenzo tidak sakit, hanya saja dia sedikit merasa pusing dengan pekerjaan kantor yang sangat padat akhir-akhir ini. Kenzo sebenarnya ingin berkeluh kesah dengan pekerjaannya pada Pelangi namun ia urungkan. Mengingat Pelangi yang sejak awal tidak mau berkecimpung di dunia bisnis.
“Kamu sudah minum obat belum?” tanya Pelangi sambil melirik Kenzo.
“Belum. Nanti juga akan hilang pusingnya.” Jawab Kenzo.
Pelangi menepikan mobilnya dan berhenti di salah satu warung di pinggir jalan dan tempatnya sangat sejuk karena sudah memasuki area pegunungan. Dia ingat kalau tadi sengaja tidak memasak jadi lebih baik sarapan di jalan saja. Dan sekarang waktunya mengisi perutnya.
“Ngapain berhenti disini?” tanya Kenzo bingung.
“Aku mau sarapan dulu lapar. Emang kamu nggak lapar?” tanyanya balik.
“Iya lapar sih. Tapi kenapa cari tempat seperti ini? yang lain kan bisa yang lebih nyaman dan bersih tempatnya.” Tolak Kenzo.
“Tenang saja kamu nggak akan mati jika makan disini. Lagipula kamu juga harus sarapan dan minum obat.” Ucap Pelangi ketus.
Kenzo mau tidak mau akhirnya ikut turun. Kemudian dia juga memesan makanan yang sama dengan pesanan istrinya. Meski Kenzo kurang yakin dengan tempat itu, setidaknya dia sedikit senang dengan perhatian kecil yang diberikan oleh Pelangi.
“Kamu nggak usah GR dulu. Aku mau kamu minum obat biar bisa gantiin aku nyetir.” Ucap Pelangi tiba-tiba.
Seketika Kenzo kecewa dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Pelangi. Tapi tidak masalah baginya. Lagipula benar apa yang dilatakan oleh istrinya. Tidak enak jug ajika meminta Pelangi yang nyetir terus.
Kenzo yang tadinya seperti ogah-ogahan dengan makanan yang dijual di warung itu, nyatanya sekarang dia yang lebih dulu menghabiskan makanannya dibandingkan Pelangi. Sedangkan Pelangi yang melihat Kenzo makan seperti orang kelaparan, menarik sudut bibirnya ke atas.
“Kamu lapar apa kesetanan?” tanya Pelangi.
“Dua-duanya.” Jawab Kenzo datar sambil meneguk teh hangatnya.
Selesai makan, Pelangi mengambil obat yang sudah ia siapkan di dalam tasnya kemudian diberikan pada Kenzo.
__ADS_1
“Nggak usah. Aku sudah baikan. Nanti aku ngantuk kalau nyetir.” Tolak Kenzo.
“Sudahlah minum aja. Ini obat nggak bikin ngantuk.” Paksa Pelangi dan akhirnya Kenzo menerima obat itu.
Mereka berdua kini kembali melanjutkan perjalanannya. Kenzo sekarang yang mengambil alih kemudinya. Karena pusing di kepalanya juga sudah hilang.
Mobil mereka sudah memasuki kawasan puncak dengan jalanan yang sudah berkelok-kelok dan memperlihatkan pemandangan pegunungan yang sangat sejuk. Pelangi membuka kaca jendela mobil seketika hawa sejuk masuk ke dalam rongga paru-parunya. Kemudian Kenzo mematikan AC mobil.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah tiba di lokasi. Yaitu di villa yang sangat besar dan bagus. Disana sudah ada beberapa teman Kenzo yang sudah datang. Kemudian mereka berdua turun. Tak lama kemudian Joseph juga tiba bersama sang istri.
Joseph melongo tak percaya saat melihat sahabatnya sudah tiba. Tapi bukan itu yang membuatnya terkejut. Melainkan seseorang yang diajak Kenzo yang tak lain adalah Pelangi.
“Hai bro! dah lama?” sapa Joseph.
“Barusan.” Jawab Kenzo sambil membawa tas yang berisi baju-bajunya.
“Kakak ipar, perkenalkan aku Joseph sahabat suami kamu. Dan ini istriku Nova.” Ucap Joseph sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Pelangi.
“Eh Ken, istri lo ni?” tanya salah satu teman Kenzo yang melihat Pelangi.
“Iya, kenalin Pelangi istri gue.” Ucap Kenzo.
“Wah nggak nyangka gue, selera lo bagusan yang sekarang daripada si ja**** yang ono tuh.” Ucap teman Kenzo dan semua yang ada disana terbahak mendeengarnya.
Kenzo yang mendengar kekasihnya dicap sebagai ja**** tidak terima. Dia mengepalkan tangannya kuat dan bersiap akan memberikan bogem mentah pada Marvin. Namun Joseph segera mencegahnya.
“Ya udah kita ke kamar dulu ya, mau taruh tas. Nanti kita kumpul lagi.” Ucap Joseph dan diangguki oleh beberapa temannya yang lain.
kini Joseph dan Kenzo pergi menuju kamar mereka. Kenzo masih tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Marvin tadi.
__ADS_1
“Gila lo ya Ken? Lo sadar nggak dengan apa yang akan lo lakukan tadi? lo sekarang ngajak istri lo, dan lo akan menghajar seseorang yang telah menjelekkan Eva yang statusnya bukan istri lo. Lo nggak mikirin perasaan istri lo?” bisik Joseph namun masih bisa didengar oleh Pelangi.
“Tenang aja Jos, gue sama Ken tidak ada hubungan apa-apa selain teman. Jadi Kenzo tidak perlu jaga perasaan gue, jika tadi dia ingin membela ceweknya.” Ucap Pelangi datar dan segera masuk ke kamarnya.
Kenzo juga merasa bersalah. Namun dia juga kecewa saat mendengar Pelangi yang menganggapnya hanya teman dan tidak ada hubungan apa-apa. Walau kenyataannya itu benar. Setelah itu Kenzo juga masuk ke kamarnya.
“Maaf!” ucap Kenzo saat melihat istrinya sedang berdiri di depan jendela.
“Maaf untuk apa?” tanya Pelangi bingung.
“Lupain aja lah.” Kesal Kenzo karena dia juga bingung mau meminta maaf untuk apa. Yang pasti hatinya terasa nyeri saat teringat ucapan Pelangi “tidak ada hubungan apa-apa selain teman.”
Sementara itu hari ini bengkel sengaja diliburkan meskipun weekend. Pelangi dan Alex sengaja memberikan jatah libur untuk weekend ini. biasanya Alex memberikan libur pada karyawannya dengan system shift atau bergantian. Tapi untuk kali ini tidak. 2 hari bengkel tutup dan semua karyawannya juga diliburkan.
Hal itu sangat membuat Diva senang. Salah satu teman dekat Pelangi sekaligus sepupu Kenzo itu sekarang sedang menikmati waktu libur dua harinya dengan pergi jalan-jalan. Dan sekarang dia sedang duduk di sebuah foodcourt di salah satu mall.
Diva yang kelelahan berbelanja akhirnya istirahat sebentar sambil meneguk segelas orange jus. Diva duduk sendiri sambil memainkan gadgetnya dan sesekali pandangannya melihat sekitarnya yang tampak ramai orang berlalu lalang.
“Wah nggak bener ini. untung saja Bang Kenzo sudah merid sama Aubre.” Gumam Diva terkejut.
Tanpa sengaja pandangan mata Diva melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berjalan mesra menggandeng tangan seorang pria. Diva tahu si wanita itu adalah Eva. Namun dia tidak melihat jelas wajah pria yang sedang bergandengan dengan Eva.
Diva pikir Kenzo sudah tidak ada hubungan lagi dengan Eva. Semenjak sepupunya itu menikah dengan Pelangi. Walau Diva juga tahu kalau diantara mereka berdua tidak atau belum saling mencintai. Tapi setidaknya Diva merasa lega karena sepupunya tidak jatuh pada wanita ****** itu.
.
.
.
__ADS_1
*TBC