
Belum ada satu jam Pelangi pergi, Kenzo sudah merasakan rindu yang teramat dalam. Entah dirinya yang berlebihan atau memang sedang benar-benar merindukan sosok perempuan yang selama beberapa bulan ini tinggal bersamanya. Apakah ini yang namanya cinta. Baru terasa jika kita sedang berjauhan.
Waktu sudah beranjak malam, tapi mata Kenzo tak juga terpejam. Bayang-bayang wajah manis Pelangi yang sedang tersenyum tadi masih memenuhi pikirannya. Bisa-bisanya perempuan itu bersikap manis disaat akan pergi jauh. Lantas kenapa kemarin sikapnya datar-datar saja. Hal itu semakin membuat Kenzo gemas.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Pelangi. Saat ini dirinya sedang berada dalam pesawat. Sejak tadi dia juga sulit sekali menutup matanya. bayangan wajah Kenzo juga sedang memenuhi pikrannya. Senyumnya, perhatiannya, dan ciumannya. Tanpa sadar pelangi memegang bibirnya. bibir yang hanya Kenzo, pria pertama yang berani menciumnya.
“Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta denganmu Ken?” tanya batin Pelangi.
***
Keesokan harinya, Kenzo terbangun dengan wajah yang begitu lesu. Semalam tidurnya tiak nyenyak sama sekali. Hampir pukul 3 dini hari, dia baru bisa merasakan kantuk. Dan pagi ini pukul 7, dia sudah terbangun setelah bunyi alarm mengagetkannya. Alhasil membuatnya terpaksa bangun dengan mata yang masih menahan kantuk.
Setelah selesai mandi dan memakai baju kerjanya, Kenzo keluar kamar. seperti biasa, dia langsung menuju meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. namun sayangnya keadaan dapur sangat sepi dan tidak ada makanan yang tersaji disana.
“Sialll!!” umpatnya kala menyadari bahwa saat ini istrinya sedang ke London.
Kenzo akhirnya pergi ke kantor dan akan sarapan disana saja.
***
Beberapa jam setelah melewati perjalanan udara, akhirnya Pelangi sudah tiba di London. Dia segera memesan taksi menuju kediaman Om dan Tantenya. Rumah yang sudah sangat lama tidak pernah ia kunjungi. Mungkin terakhir dia ke rumah Omnya saat hari kelulusan sekolahnya dulu. Hingga sampai saat ini dia baru menginjakkan kakinya lagi di rumah ini.
Sekitar pukul 3 sore waktu setempat, Pelangi sudah berdiri di depan pintu rumah yang gerbangnya tampak terbuka. Dia segera menekan bel rumah itu. Dan tak lama kemudian, muncullah sosok wanita paruh baya yang sangat dia rindukan.
“Sore Tante!!” sapa Pelangi sambil menampakkan senyum manisnya.
Sedangkan wanita yang disapa itu masih bergeming dan tidak menjawab sapaan dari perempuan yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Agatha belum menyadari bahwa perempuan yang sedang berdiri di hadapannya itu adalah Pelangi.
“Haloo Tante!!” ucapnya lagi sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah tantenya.
“Pelangi? Benar kamu Pelangi?” tanya Agatha tak percaya.
“No! I’m rainbow!” jawab Pelangi tersenyum dan langsung memeluk tantenya.
__ADS_1
Agatha sangat terkejut dan masih tidak menyangka kalau saat ini Pelangi ada di London. Dia masih enggan menanyakan maksud kedatangan keponakannya yang tanpa memberitahunya. Yang penting saat ini dia sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan keponakan yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
“Bre!!! Benarkah itu kamu?” tanya seorang laki-laki yang sedang menuruni tangga.
Leo. Satu-satunya keluarga Pelangi yang memanggilnya Aubre seperti teman-temannya. Karena menurut Leo, panggilan Pelangi itu terlalu panjang. Jadi dia memilih yang lebih singkat saja.
“Hai sepupu! Apa kabar kamu?” tanya Pelangi menyambut pelukan hangat Leo.
“Aku baik saja. Sudah berapa abad kita tak bertemu?” tanya Leo dan membuat Pelangi mendengus kesal.
Agatha yang sejak tadi melihat keakraban Pelangi dan Leo juga ikut tersenyum senang. Mereka berdua memang seperti itu jika sudah bertemu. Kemudian mata Agatha menelisik seperti mencari keberadaan seseorang selain anak dan keponakannya.
“Kenzo kemana?” tanya Agatha akhirnya.
“Kenzo nggak ikut Tan.” Jawab Pelangi yang kini sudah duduk di sofa ruang tengah.
“Apa? Kamu datang sendiri dan suamimu mebiarkan itu semua? Lantas ada apa kamu datang sendirian ke London?" tanya Agatha penuh selidik.
“Om kemana? Apa masih sibuk bekerja?” lanjutnya.
“Nggak. Ada di taman belakang. Ayo kita kesana. Pasti Om kamu juga sangat terkejut dengan kedatangan keponakannya yang bandel ini.” ucap Agatha dan segera mengajak Pelangi menuju taman belakang.
Pelangi melihat Omnya yang sedang duduk termenung di kursi taman. Tatapan pria paruh baya itu tampak kosong. Dan entah kenapa Pelangi merasa seperti ada yang sedang dipikirkan oleh Omnya itu.
“Pa, lihat siapa yang datang?” ucap Agatha membuyarkan lamunan Richard.
“Pelangi? Sejak kapan kamu datang Nak?” tanya Richard terkejut dengan mata berkaca-kaca.
Pelangi tak langsung menjawab pertanyaan Richard. Dia segera berhambur ke pelukan pria paruh baya yang sudah dia anggap Papanya itu. Pelangi terisak di dalam pelukan Richard.
Entah apa yang membuatnya seperti ini. apakah memang selama ini dirinya begitu merindukan Omnya, atau ada hal lain yang membuat dirinya jarang mengeluarkan air mata, kini harus tumpah di pelukan Omnya.
“Hei!! Sejak kapan Pelangi menurunkan hujan?” tanya Richard saat menyadari kalau Pelangi sedang menangis.
__ADS_1
Pelangi hanya memukul pelan dada Omnya dan masih belum ingin menyelesaikan isakannya. Mungkin beban hidupnya selama inilah yang membuat Pelangi seperti ini.
Agatha yang menyaksikan keharuan antara Om dan keponakannya itu juga ikut meneteskan air matanya.
Setelah beberapa saat bercengkrama, akhirnya Pelangi memutuskan untuk istirahat sejenak, sebelum nanti akan makan malam bersama. Richard yang mengetahui kedatangan Pelangi seorang diri hanya diam saja. Dia tahu, mungkin kedatangan Pelangi ada maksud tertentu selain karena merindukan dirinya dan istrinya.
Malam harinya, mereka makan malam bersama. Agatha sudah memasak banyak untuk menyambut keponakannya yang baru datang. Leo juga ikut makan bersama. Biasanya laki-laki itu tidak ada di rumah sat jam segini. Mungkin karena kedatangan sepupunyalah yang membuatnya betah di rumah.
Setelah makan malam selesai, Pelangi meminta waktu pada Omnya untuk berbicara empat mata. Agatha dan Leo akhirnya memberikan waktu untuk mereka.
“Ada apa Nak?” tanya Richard yang kini sudah berada di ruang kerjanya.
“Apa maksud dulu Om memisahkan Pelangi dengan Varell?” tanya Pelangi tanpa basa-basi.
“Oh, jadi dia sudah mengatakannya padamu?” tanya Richard seolah sudah paham.
“Nggak penting, dia sudah bilang atau tidak. Yang terpenting saat ini Pelangi ingin minta penjelasan dari Om. Apa karena perjodohan ini Om tega memisahkan aku dengan Varell?” tanya Pelangi tenang.
Richard hanya menghembuskan nafasnya pelan. Dia meminta maaf pada Pelangi karena telah memisahkan hubungannya dengan Varell. Richard mengatakan kalau dia memang sengaja melakukan itu semua karena dia tau tabiat kedua orang tua Varell yang tidak benar-benar menyayangi Pelangi. Dan ada maksud lain yang tak lain karena harta. Memang saat itu Richard mengancam Varell akan mengambil semua saham di perusahaan milik orang tua Varell. Dia tidak ingin jika nantinya Pelangi benar-benar hidup dalam keluarga yang gila harta.
“Tapi kenapa Om tidak bilang langsung pada Pelangi? Apa Om tahu kalau aku dan Varell saling mencintai?” tanya Pelangi.
“Apa sampai saat ini kamu masih mencintainya? Apa Kenzo tidak berhasil membuatmu jatuh cinta?” tanya Richard dan membuat Pelangi terdiam.
.
.
.
*TBC
Eh hr ini othor up 3 eps lho... jgn lupa dong jejaknya. like, komen, vote, dan giftnya. janganlah pelit²!!😂😂✌️✌️✌️
__ADS_1