
“Ken, kenapa kamu bawa aku kesini?” tanya Pelangi terkejut.
Setelah adegan pemanasan di dalam mobil tadi, Pelangi sungguh merasa sangat malu. Hatinya masih marah pada Kenzo tapi tubuhnya menerima semua kenyamanan yang diberikan oleh Kenzo, termasuk adegan ciuman tadi.
Pelangi terus membuang mukanya ke arah luar. Dia tidak terlalu memperhatikan jalanan kemana Kenzo akan membawanya pergi. Namun saat mobil Kenzo sudah berhenti di basement apartemen, Pelangi sangat terkejut sekaligus marah. Bukankah tempat itu adalah tempat dimana Kenzo pernah menorehkan luka pada hatinya. Bukankah dirinya sudah menolak untuk tidak tinggal di apartemen itu lagi. Dan tanpa menjawab, Kenzo dengan cepat membuka pintu mobil dan lagi-lagi menggendong Pelangi menuju apartemen.
Pelangi terus memberontak untuk diturunkan. Bahkan dia berteriak dengan suara kencang. Karena kondisi basement sangat sepi. Namun Kenzo sama sekali tak menggubrisnya.
Pelangi beru tersadar kalau ternyata Kenzo membawanya masuk ke dalam unit apartemennya. Bukan apartemen milik Kenzo. setelah berhasil membuka pintu dan menutupnya kembali, Kenzo segera masuk ke dalam kamar kemudian merebahkan Pelangi di atas ranjang.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Pelangi dan mulai beringsut.
“Kita suami istri bukan? Apa aku salah jika merindukan istriku?” tanya Kenzo dengan suara parau.
Pelangi terkejut mendengar pertanyaan suaminya. Apa maksud itu semua. Apa lagi suara Kenzo yang berubah parau. Suara yang dulu sering dia dengar di saat Kenzo sedang terbakar gaiirah. Pelangi susah payah menelan salivanya. Apakah siang ini dia akan kembali melakukan hubungan itu dengan Kenzo. memang tidak ada salahnya dan tidak berdosa juga. tapi, dia masih kesal dengan sikap Kenzo.
“Bukankah dia juga tidak mau jauh dariku? Dia juga merindukanku?” tanya Kenzo sambil mengusap perut Pelangi lalu menciuminya.
Seketika Pelangi merasa ada gelenyar aneh. Darahnya berdesir, tubuhnya memanas, dan kulit tubuhnya meremang. Susah payah dia berusaha menolak, namun justru rasa nyaman semakin melekat pada dirinya.
Ciuman Kenzo yang semula hanya pada perut buncit Pelangi, kini perlahan naik ke atas tepat pada dua bongkahan kenyal yang menurutnya semakin besar dan seksii. Kenzo mengecup dua bongkahan itu bergantian. Kemudian naik lagi dan berhenti tepat pada leher jenjang Pelangi.
Sapuan hangat nafas Kenzo membuat Pelangi semakin tak karuan. Ada rasa geli namun enak. Hingga dia menjadi bingung harus berbuat apa.
Pandangan mata Kenzo sudah sayu. Dia sudah lama menahannya dan tidak tahan lagi untuk segera melakukannya. Kemudian dia mengecup sekilas bibir Pelangi dan menganggukkan kepalanya samar seolah minta persetujuan untuk melakukannya lebih dari ini.
Seperti terhipnotis, Pelangi menganggukkan kepalanya setuju. Dan tidak menunggu waktu lama lagi, Kenzo segera melakukan semua keinginannya. Menuntaskan hasrattnya yang telah lama ia tahan. Dia melakukannya dengan kasih. Pelangi pun menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah tidak memakai sehelai benangpun. Kenzo dapat melihat tubuh polos istrinya dengan perut yang sudah membuncit. Dan hal itu semakin membuat Kenzo terangssang. Namun wajah Pelangi menampakkan gurat ketakutan saat Kenzo akan melakukan penyatuan.
“Aku akan melakukannya dengan pelan. Jangan takut!" Ucap Kenzo menghilangkan kekhawatiran yang dirasakan oleh istrinya.
Setelah Pelangi mengangguk. Kenzo segera melakukan penyatuannya dengan lembut penuh kasih sayang. Pelangi juga tampak menikmati permainan yang disuguhkan oleh suaminya. Keduanya kini sedang terbuai satu sama lain dalam indahnya surga dunia yang lama tidak mereka rasakan.
__ADS_1
Kurang lebih selama satu jam permainan itu berlangsung. Kenzo sangat puas bisa kembali lagi menyentuh istrinya, begitu juga dengan Pelangi. Mungkin awalnya dia menolak, tapi sekeras apapun usahanya, hatinya akan tetap lemah bila di hadapan orang yang dia cintai.
Cup
Kenzo mencium kening Pelangi setelah pelepasannya yang terakhir. Dia melihat wajah istrinya yang begitu lelah terbesit rasa iba dan kasihan.
“Maafkan aku. setelah ini tidurlah!” ucap Kenzo.
“Hmm” jawab Pelangi sambil tersenyum tipis.
Kenzo seketika hatinya berbunga saat melihat senyum manis istrinya. Kemudian dia memeluk tubuh polos itu dengan posesif. Bahkan Kenzo menciumi wajah Pelangi bertubi-tubi.
“Aku sangat menyayangimu, aku sangat mencintaimu Pelangi. Maafkan semua kesalahanku. Aku janji akan selalu menjaga dan melindungi kalian berdua. Kalian adalah Pelangi hidupku.” Ucap Kenzo dengan sungguh-sungguh.
Pelangi dapat melihat sorot mata Kenzo yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum sambil menitikan air mata.
“Please jangan menangis! Aku janji tidak akan membuat air mata kamu keluar lagi.” Ucap Kenzo menghapus air mata Pelangi.
Pelangi sambil mengecup rahang kokoh Kenzo.
Kruk kruk kruk
Hening
Tiba-tiba mereka berdua tertawa lepas setelah mendengar bunyi cacing dari perut Kenzo. pelangi baru tersadar kalau tadi Kenzo menemuinya saat jam makan siang. Jadi sudah dipastikan kalau suaminya sama sekali belum makan siang.
“Mandilah dulu, aku akan pesan makanan.” Ucap Kenzo dan diangguki oleh Pelangi.
Setelah keduanya sama-sama selesai mandi dan pesanan makanan pun sudah datang. Kenzo segera menyantap makan siangnya. Pelangi juga ikut makan siang lagi. Karena selain habis bertempur dan cukup menghabiskan tenaga, semenjak hamil, porsi makan Pelangi juga bertambah.
Kenzo tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap. Bahkan Pelangi juga tidak malu-malu saat makan makanan yang begitu banyak. Dia tidak peduli kalau badannya nanti akan melar.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Pelangi menghentikan kunyahannya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Lucu aja melihat porsi makan kamu sangat banyak.” Jawab Kenzo.
“Apanya juga yang lucu? Ada-ada aja kamu.” Jawab Pelangi kembali melanjutkan makannya.
“Aku suka kamu nggak jaim dengan penampilan kamu jika makan banyak yang biasanya akan membuat tubuh melar.” Ucap Kenzo.
Pelangi hanya melirik tanpa membalas ucapan Kenzo. karena makanan di hadapannya itu benar-benar sangat lezat.
Selseai makan, mereka berdua kini kembali masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Karena waktu masih sore, membuat Kenzo malas untuk pulang ke rumah. Dia masih ingin menikmati kemesraannya bersama Pelangi. Pekerjaan kantor pun sudah diserahkan pada Widya, sekretarisnya.
“Maaf, kamu tadi belum sempat belanja.” Ucap Kenzo sambil menautkan jemarinya dengan jemari Pelangi.
“Nggak apa-apa. Lain kali saja belanjanya.” Jawab Pelangi.
“Kita disini dulu ya, nanti malam saja kita pulang. Aku mau kamu menceritakan semua tentang masa kehamilan kamu semenjak tidak ada aku di sampingmu.” Ucap Kenzo.
“Nggak ada yang perlu diceritakan. Aku menjalani kehamilanku baik-baik saja meski tanpa ada kamu. Kamu jangan terlalu GR dulu. Anak ini sangat pintar meski tidak ada Pap- aawww…”
Pelangi meringis sambil memegangi perutnya. Lagi-lagi dia merutuki kebodohannya yang telah salah bicara.
“Hei kamu jangan mengelak lagi. Tingkah anak ini sudah cukup membuktikan kalau dia sangat pro dengan Papanya.” Ucap Kenzo tesenyum menang.
“Ya ya memang anak ini anak kamu. Heran deh, aku yang mengandung tapi dia nggak nurut bahkan nggak pengertian sama Mamanya.” Jawab Pelangi mencebik.
Kenzo sangat gemas melihat wajah jutek istrinya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1