Pelangi'S Love Story

Pelangi'S Love Story
Eps 32


__ADS_3

“Ayah!!! Mama sudah datang.” Ucapnya senang.


Darah Kenzo mendidih saat mendengar itu semua. Ingin sekali dia keluar dari mobilnya lalu meluapkan amarahnya. Namun dia sekuat tenaga menahan emosi karena disana ada anak kecil yang tidak sepantasnya tahu jika dia nenti melakukan tindak kekerasan pada pria yang sedang bersama Pelangi.


Kenzo masih terus memantau kebersamaan istrinya dengan pria dan juga anak kecil itu. Tak lama kemudian mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Kemudian Kenzo memilih untuk meninggalkan rumah itu dan mencari penginapan terdekat.


Jujur saja dia merasakan tubuhnya sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Besok dia akan kembali lagi untuk menemui istrinya dan meminta penjelasan semua ini.


Sementara itu Pelangi kini sudah berada di dalam rumah Rezvan. Pelangi sengaja datang ke kota M karena ada maksud tertentu. Hari ini tepat 3 tahun kepergian Ayu, istri Rezvan sekaligus Ibu dari Jovita. Pelangi selalu datang tiap hari kematian wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri itu.


Pelangi masih ingat betul kalau Ayu adalah sosok wanita yang baik hati, dan juga penyayang. Terutama pada anak-anak panti. Perkenalan Pelangi dengan Ayu karena mereka sama-sama perempuan yang tidak memiliki orang tua dan juga sering berkunjung ke panti asuhan Muara Kasih.


Pelangi yang saat itu masih duduk di bangku kuliah sedangkan Ayu bekerja di sebuah perusahaan cabang milik Rezvan. Rezvan juga termasuk salah satu donatur di panti asuhan Muara Kasih. Dari situlah Rezvan dan Ayu saling mengenal hingga akhirnya mereka menikah.


Saat Ayu sedang hamil Jovita, dokter memvonis Ayu mengidap kanker otak. Dokter menyarankan agar menggugurkan kandungannya, namun Ayu tetap memilih mempertahankan janinnya. Hingga akhirnya saat melahirkan, nyawanya tidak tertolong lagi. Sebelum melahirkan, Pelangi masih ingat betul pesan Ayu sebelum melahirkan Jovita.


“Bre, tolong jagain anak Kakak ya. Sayangi dia seperti anak kamu sendiri. Aku tidak ingin anak Kakak nanti merasakan seperti apa yang kita rasakan. Yaitu tidak memiliki Ibu. Jika nyawa Kakak harus dipertaruhkan. Kakak mohon agar Jovita tetap menganggap kamu sebagai Ibunya.” Ucap Ayu dengan wajah yang sudah pucat sebelum masuk ruang operasi.


Tanpa sadar Pelangi meneteskan air matanya saat mengingat wanita yang sudah dia anggap kakaknya sendiri itu. Wanita yang sangat baik dan juga tulus menyayanginya. Maka dari itu Pelangi juga sangat menyayangi Jovita.


Pelangi merasakan tubuhnya begitu lelah. Dia memilih untuk istirahat sejenak sebelum makan malam bersama Jovita. Dalam benak Pelangi sempat memikirkan jika dirinya tidak boleh seperti ini terus. Bagaimanapun juga Jovita harus tahu kalau dirinya bukan ibu kandungnya. Bukan Pelangi tidak menyayangi anak itu lagi, namun dia tidak ingin membuka jalan bagi ayah Jovita untuk masuk perlahan mengisi hatinya.


Pelangi menganggap Rezvan juga seperti kakaknya. Namun kini sedikit memberi jarak setelah dia merasa Rezvan memberi sinyal akan mendekatinya.


Waktu bergulir begitu cepat. Pagi ini Pelangi, Rezvan dan juga Jovita tengah bersiap pergi ke makam Ayu. Dan tak lupa Rezvan juga mengajak baby sitter Jovita.


Perjalanan dari rumah Rezvan ke makam hanya memakan waktu selama beberapa menit saja. Pelangi duduk tepat di depan makam Ayu sambil menaburkan bunga. Sejenak Pelangi memanjatkan doa untuk Ayu sambil memejamkan matanya. begitu juga dengan Rezvan yang juga sedang berdoa disamping makam istrinya. Jovita yang masih terlalu kecil belum tahu apa-apa, hanya bisa terus bermain dan berlarian di area sekitar makam dengan didampingi baby sitternya.

__ADS_1


Setelah selesai dari makam, Rezvan segera mengajak Pelangi beserta anaknya pulang. Sebelum pulang, Rezvan sempat mampir dulu ke sebuah restaurant untuk mengajak Pelangi makan. Sebenarnya Pelangi ingin menolaknya, namun dia juga merasa tidak enak. Lagipula ada Jovita, jadi dia tidak hanya berdua saja.


Rezvan mengajak Pelangi makan ke sebuah restaurant terdekat karena mereka tadi belum sempat sarapan. Rezvan memang sengaja mengajak pergi ke makam lebih pagi karena siang nanti dia ada meeting.


Sesampainya di restaurant, mereka segera keluar dari mobil. Namun sayangnya baby sitter Jovita tidak bisa ikut karena Jovita sedang tertidur. Jadi dia memutuskan untuk tetap di mobil saja menemani Jovita. Akhirnya Pelangi dan Rezvan makan berdua saja.


Pelangi tampak acuh saat Rezvan sedang memilih menu makanan. Dia juga nurut saja dengan apa yang dipilih oleh Rezvan. Dan tidak menunggu lama, makanan pun datang. Mereka berdua segera makan tanpa ada percakapan apapun.


“Bre! Maksih sudah datang.” Ucap Rezvan setelah selesai makan.


“Nggak perlu bilang seperti itu Mas. Aku sudah menganggap Kak Ayu seperti kakak kandungku sendiri.” Jawab Pelangi.


“Nggak hanya itu. Aku juga sangat berterima kasih karena kamu sudah menyayangi Jovita.” Ucap Rezvan lagi.


“Aku melakukan itu semua karena Kak Ayu juga sangat menyayangiku sejak dulu.” Ucap Pelangi.


“Bre, maukah kamu menjadi Ibu dari Jovita yang sesungguhnya? maukah kamu menggantikan posisi Ayu di hatiku?” tanya Rezvan dan membuat Pelangi terkejut.


“Brengsekkk!!! Aubre istriku dan tidak akan pernah jadi milik siapapun kecuali aku.” ucap suara baritone yang tiba-tiba muncul sambil menarik kerah baju Rezvan.


“Ken!!!” pekik Pelangi yang tak kalah terkejut saat melihat kemunculan Kenzo secara tiba-tiba.


“Kamu jangan coba-coba mendekati istriku dengan alasan anak kamu. Perlu kamu tahu bahwa Aubry Fathia Pelangi hanya istriku dan milikku!! Camkan itu.” Ucap Kenzo dan segera menghempaskan tubuh Rezvan hingga terduduk kembali ke kursinya.


Kenzo segera menarik tangan Pelangi dan membawanya pergi dari restaurant. Pelangi masih bingung, bagaiman bisa Kenzo berada disini. Apakah pria itu sejak kemarin mengikutinya. Pelangi masih sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tidak sadar kalau mobil Kenzo membawanya ke hotel dimana Kenzo menginap.


“Ken? Mau apa kamu ngajak aku kesini?” tanya Pelangi saat sudah memasuki loby hotel.

__ADS_1


“Menurut kamu?” tanya Kenzo balik sambil tersenyum samar.


Pelangi bergidik ngeri takut Kenzo akan berbuat sesuatu padanya. Dia berusaha memberontak untuk lepas dari genggaman tangan Kenzo namun tidak bisa.


“Kamu jangan buat aku malu. Nanti dikira aku pria hidung belang yang membooking kamu.” Bisik Kenzo dan Pelangi terdiam.


Sesampainya di kamar hotel, Pelangi segera duduk di sofa untuk mencari aman sebelum Kenzo berbuat yang tidak-tidak padanya.


“Sekarang katakan padaku. siapa pria tadi dan ada hubungan apa kamu dengannya dan juga anak kecil perempuan itu.” Kenzo memberikan serentetan pertanyaan pada Pelangi.


“Kamu mengintaiku?” bukannya menjawab, Pelangi justru memberi pertanyaan pada Kenzo.


“Iya. Kenapa memangnya? Apa kamu memang berniat selingkuh dariku?” tanya Kenzo yang kini sudah mencondongkan wajahnya ke arah Pelangi.


“Selingkuh? Apa nggak kebalik Ken? Lihatlah diri kamu sendiri.” Ucap Pelangi tersenyum sinis.


“Kenapa dengan diriku? Aku nggak selingkuh dari Eva. Justru kamu adalah pelakor. Dan aku justru lebih tertarik dengan pelakor daripada kekasihku sendiri.” Ucap Kenzo.


Pelangi sempat tidak terima dengan ucapan Kenzo yang mengatainya sebagai pelakor. Namun kalau dipikir-pikir memang benar kenyataannya seperti itu. Dirinya datang di saat Kenzo sedang menjalin hubungan dengan kekasihnya.


“Ck, lebih baik tinggalkan saja pelakor itu.” Jawab Pelangi sinis.


“Nggak akan. Aku nggak akan melepaskan kamu, apalagi meninggalkan kamu. Karena aku sudah jatuh cinta padamu.” Ucap Kenzo tegas dan segera menyambar bibir Pelangi yang terbuka saat akan mengucapkan penolakannya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2