
Kenzo mengabaikan tatapan tak bersahabat dari Alex. Dia segera pergi ke kantornya setelah berpamitan pada istrinya. Sedangkan Pelangi melihat wajah aneh Alex yang menatap Kenzo tanpa berkedip.
“Hai Lex!!” ucap Pelangi sambil melambaikan tangannya di depan wajahnya.
“Sejak kapan Lo mulai dekat dengan baji*** itu Bre?” tanya Alex tajam.
“Apaan sih Lo Lex?” tanyanya tak suka.
“
Gue nggak mau kalau nanti Lo akan terluka lagi Bre!” ucap Alex.
Kini Pelangi sudah paham apa yang dimaksud oleh Alex. Pasti sahabatnya itu tidak suka kalau dirinya sudah mulai membuka hatinya untuk Kenzo. Pelangi sangat menghargai sahabatnya yang sangat peduli. Tapi apakah dia salah jika mulai membuka hatinya lagi untuk pria yang tak lain adalah suaminya sendiri.
“Lex, apa gue nggak boleh bahagia?” tanya Pelangi.
Alex yang ditanya seperti itu, kini merasa bersalah. Dia bertindak seolah tidak memperbolehkan sahabatnya bahagia. Alex sebenarnya juga sangat ingin melihat Pelangi bahagia. Namun bukan pada pria seperti Kenzo.
“Sorry, Bre! Bukan maksud gue nggak ngebolehin Lo bahagia. Tapi setidaknya jangan sama baji*** itu.” Ucap Alex.
“Lantas harus dengan siapa gue membuka hati Lex? Tidak semudah itu setelah sekian lama hati ini tertutup karena luka yang ditorehkan Varell dulu.” Jawab Pelangi dan segera pergi meninggalkan Alex.
Alex semakin merasa bersalah. Perbuatannya ini juga sama dengan melukai hati Pelangi. Kemudian dia berlari mengejar Pelangi.
“Bre, tunggu! Gue kemarin lihat laki Lo berduaan sama cewe lain. Apa itu bukan selingkuh namanya, jika saat ini dia sedang dekat dengan Lo.” Ucap Alex.
“Lo lihat? Dan Lo tahu apa yang mereka bicarakan?” tanya Pelangi dan Alex menggeleng.
Akhirnya Pelangi mengatakan pada Alex kalau yang dilihatnya memang benar Kenzo dengan wanita lain yang tak lain adalah kekasihnya. Pelangi mengatakan kalau saat itu Kenzo mengakhiri hubungannya dengan wanita itu. Dan sekarang ingin serius menjalani rumah tangga dengan dirinya.
Setlah mendengarkan penjelasan Pelangi, Alex sedikit merasa lega. Namun tetap saja dia harus tetap waspada. Dia tidak ingin melihat sahabatnya terluka lagi.
“Sorry, Bre. Kalau itu membuat Lo bahagia, gue akan selalu dukung. Tapi jika laki Lo berani macam-macam, gue nggak akan tinggal diam.” Ucap Alex.
“Iya, Lex. Thanks ya. Lo sahabat gue yang paling baik.” Jawab Pelangi.
__ADS_1
Kemudian mereka segera memulai aktivitasnya seperti biasa, karena sebagian karyawan lainnya juga sudah datang. Dan hari ini Pelangi akan memulai harinya dengan semangat baru setelah mendapatkan kepastian dari Kenzo untuk memulai kehidupan rumah tangganya secara normal.
Waktu sudah beranjak semakin siang. Pelangi melakukan pekerjaannya dengan hati yang bahagia. Itu semua karena Kenzo. dalam hati dia sedang memikirkan Kenzo. apa yang sedang dilakukan pria itu di kantor. apa dia juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Tanpa sadar Pelangi senyum-senyum sendiri.
“Bre!” panggil Diva.
“Woy Bre!! Malah ngelamun.” Panggil Diva lagi.
“Ada apa sih Div, berisik banget.” Jawab Pelangi.
“Elo tuh yang sibuk ngelamun, dari tadi dipanggil ga denger.” Ucap Diva kesal.
“Sorry deh. Ada apa?” tanya Pelangi sambil nyengir tanpa dosa.
“Noh, ada mobil mogok baru saja diderek. Cepet tuh perbaiki.” Ucap Diva.
Pelangi melihat memang ada mobil yang baru saja diderek. Kemudian dia segera melakukan tugasnya untuk memperbaiki mobil itu. Pelangi celingukan mencari si pemilik mobil untuk menanyakan kuncinya. Dan terlihat seorang pria sedang sibuk menelepon seseorang. Mungkin pria itu pemilik mobil yang mogok. Setelah menunggu sebentar, Pelangi mendekati pria itu untuk meminta kuncinya.
“Permisi, Bang! Mau minta kunci mobilnya.” Ucap Pelangi.
“Tuan Barra!!”
“Nona Pelangi!!”
Ya, pria itu ternyata adalah Barra. Rekan kerja Kenzo. Pelangi terkejut karena tidak menyangka kalau mobil yang mogok itu adalah milik rekan kerja suaminya. Berbeda dengan Barra. Dia terkejut saat melihat istri rekan kerjanya berpakaian khas bengkel, dengan wajah yang kusam. Sangat berbeda saat bertemu waktu makan malam dulu. Memang Barra tidak tahu kalau pekerjaan Pelangi adalah seperti ini. dia pikir karena Pelangi adalah pewaris tunggal perusahaan besar, pastinya Pelangi juga bekerja di kantor milik mendiang Papanya. Tapi ternyata tidak.
“Anda Nona Pelangi bukan?” Tanya Barra lagi untuk memastikan.
“Iya, Tuan Barra. Anda jangan terkejut. Memang ini pekerjaan saya. Ehm, boleh minta kunci mobilnya?” ucap Pelangi.
“Oh, iya maaf. Ini kunci mobilnya. Saya tinggal dulu, biar nanti diambil sama orang suruhan saya.” Ucap Barra dan diangguki oleh Pelangi.
Setelah itu Barra segera pergi dengan naik taksi yang sudah menunggunya. Dan kebetulan dia ada meeting dengan Kenzo.
Sementara itu Kenzo di kantor sedang menunggu kedatangan kliennya yang tak kunjung datang. Andai saja hati Kenzo saat ini sedang tidak bahagia, pasti dia akan menyuarakan protesnya pada kliennya karena datang terlambat.
__ADS_1
“Maaf, Tuan Kenzo tadi mobil saya mogok di tengah jalan.” Ucap Barra setelah memasuki ruangan meeting.
“Anda sudah terlambat 20 menit Tuan Barra. Dan itu tidaklah sebentar saya menunggu anda.” Jawab Kenzo.
“Sekali lagi saya minta maaf. Saya tadi kesusahan mencari bengkel mobil, dan akhirnya menemukan bengkel dan kebetulan istri anda yang menangani mobil saya.” Ucap Barra dan membuat Kenzo mebelalakkan matanya.
“Apa makud anda?”
“Ehm, itu saya baru tahu kalau istri anda bekerja di bengkel.”
“Sudah lupakan saja. Lebih baik kita mulai saja meetingnya.”
Kenzo bukannya malu karena kliennya mengetahui kalau istrinya bekerja di bengkel. Hanya saja dia tidak nyaman jika ada pria lain yang tampak akrab dengan istrinya, meski dia tahu kalau Barra sudah mempunyai istri.
Selesai meeting, Barra berbicara nonformal dengan Kenzo. karena mereka berdua sudah berteman baik.
“Kenapa kamu nggak meminta istri kamu untuk ikut kerja di kantor, Ken?” tanya Barra.
“Andai saja dia mau, pasti aku juga akan sangat senang bekerja dengannya. Sayangnya dia lebih memilih bekerja di bengkel. Walau itu miliknya sendiri.” Jawab Kenzo.
“Ya sudahlah kalau begitu biarkan saja. Mungkin dia sudah nyaman disana.” Ucap Barra.
***
Waktu sudah sore. Kenzo membereskan pekerjaannya dan segera menjemput istrinya. Rencana Kenzo nanti malam akan mengajak Pelangi makan malam diluar saja. Anggap saja itu adalah kencan pertama mereka.
Mobil Kenzo kini sudah berhenti di depan bengkel. Namun dia masih belum ingin keluar sampai melihat istrinya keluar terlebih dulu. Senyum di bibir Kenzo mengembang saat melihat perempuan pujaan hatinya. Namun tiba-tiba senyum itu pudar saat melihat seorang pria mendekati istrinya. Kenzo tidak habis pikir kalau begitu banyak pria yang mendekati istrinya.
Kenzo masih memantau dari dalam mobil, apa yang akan dilakukan pria itu pada istrinya. Seketika darah Kenzo mendidih saat melihat pria itu berani memegang tangan istrinya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC