
Pelangi masih memasang wajah cemberut dan kesal saat Widya baru saja masuk membawa kotak obat. Bahkan dia menolak Kenzo yang akan mengobati lukanya. Dia justru meminta Widya yang mengobati.
“Apa masih sakit, Bre?” tanya Widya.
“Udah mendingan Mbak.” Jawab Pelangi.
Kenzo yang sedang duduk di kursinya sejak tadi melihat dan mengawasi interaksi antara Pelangi dan sekretarisnya yang terlihat sangat akrab. Padahal setahu dirinya kalau Pelangi tidak pernah menginjakkan kakinya di kantor ini. bagaimana bisa istrinya itu saangat akrab dengan Widya. Mungkin nanti Kenzo akan menanyakannya langsung pada istrinya.
Selesai mengobati luka Pelangi, Widya meminta ijin untuk keluar. Kenzo pun meminta Widya agar menyuruh OB membawakan teh hangat untuk Pelangi.
Sementara itu Pelangi kini duduk di sofa sambil menyelonjorkan kakinya. Dia masih dalam mode ngambek dan malas bicara dengan Kenzo.
Setelah seorang OB datang membawakan teh hangat, Pelangi meminumnya kemudian dia mulai memainkan gedgetnya. Sungguh dia sangat bosan saat ini. selama ini gadget adalah barang yang sangat jarang dia sentuh, kini terpaksa dia harus memainkannya.
“Apa kamu mau makan sesuatu?” tanya Kenzo yang kini sedang mendekati Pelangi duduk.
“Nggak. Sudah lanjutkan sana pekerjaan kamu!” jawab Pelangi.
“Sekali lagi maafkan aku. aku nggak tahu kalau Ev-“
“Sudahlah, Ken. Nggak perlu dibahas lagi. Lanjutkan pekerjaan kamu atau aku akan pergi dari ruangan kamu.” Sergah Pelangi.
Akhirnya dengan berat hati Kenzo kembali duduk di kursi kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Pelangi sekarang memilih merebahkan tubuhnya di sofa. Kenzo yang melihatnya kasihan dan ingin menyuruh Pelangi agar tidur di kamar yang ada di dalam ruangan itu tapi dia takut istrinya semakin ngambek.
Sampai siang hari Kenzo masih sibuk beberapa dokumen di hadapannya. Pelangi memilih keluar ruangan suaminya karena benar-benar sangat bosan. Saking seriusnya, Kenzo tidak melihat kalau istrinya keluar dari ruangannya.
Saat jam makan siang tiba, Kenzo baru menyadari kalau istrinya tidak ada di ruangan itu. Lalu dia keluar, ternyata Pelangi sedang asyik berbincang-bincang dengan sekretarisnya, yaitu Widya.
“Ehm, apa sejak tadi jam kerja kamu hanya bicara tidak penting?” tanya Kenzo tiba-tiba.
“Maaf, Tuan.” Jawab Widya sambil menundukkan kepalanya.
“Ken, jangan marahi Mbak Widya, aku tadi bosan jadi mengajaknya ngbrol.” Jawab pelangi membela Widya.
“Pelangi, ikut aku sekarang. kita makan siang diluar.” Ucap Kenzo tanpa mempedulikan istrinya yang sedang membela Widya.
__ADS_1
Kemudian Pelangi mengikuti Kenzo keluar untuk makan siang di sebuah restaurant yang tidak jauh dari kantornya. Mereka berdua sekarang sedang menunggu makanan datang.
“Kamu kenal akrab dengan widya?” tanya Kenzo.
“Iya.”
“Setahuku kamu sejak dulu tidak pernah menginjakkan kaki kamu ke kantor. bagaimana kamu bisa dekat dan akrab dengan Widya?”
“Suami Mbak Widya kakaknya Varell.” Jawab pelangi tanpa beban.
“Oh, jadi kamu masih mengharap laki-laki itu dengan cara dekat dengan Widya lagi?”
“Apaan sih, Ken. Bukannya tadi kamu tanya. Sekrang sudah aku jawab tapi kamu malah negatif thinking. Lantas aku harus jawab apa?” tanya Pelangi kesal.
Kenzo hanya diam tidak lagi bisa menjawab pertanyaan istrinya. Entah kenapa dia masih sangat ketika mengingat pria yang pernah menjadi mantan kekasih istrinya. Cemburu? Mungkin itu salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Kenzo saat ini.
Akhirnya pelayan restaurant sudah menyajikan makan siang mereka. Kenzo dan pelangi menikmati makan siangnya dalam
diam.
***
“Sialann!! Akan aku balas semua perbuatan kamu. Dasar pelakor!” umpat Eva sambi meringis menahan sakit.
Dia sungguh sangat kecewa dengan kejadian tadi pagi. dia melihat Kenzo sudah berubah 180 derajat. Pria yang dulu sangat takut kehilangan dirinya kini tak lagi menganggapnya ada. Dan semua perubahan Kenzo disebabkan oleh Pelangi.
***
Sore hari, tepat saat jam pulang kantor. Kenzo segera mengajak istrinya pulang. Sejak kejadian tadi pagi yang menyebabkan Pelangi sangat kesal, ditambah saat makan siang yang bergantian membuat Kenzo kesal setelah mengetahui fakta kalau Widya sangat akrab dengan istrinya karena Varell adik ipar Widya.
Saat ini keduanya sama-sama diam dalam perjalanan pulang. Pelangi yang memang tidak ingin mengungkit masa lalunya, dia tidak peduli saat Kenzo marah tidak jelas karena masa lalunya dengan Varell. Sedangkan Kenzo kesal karena istrinya tidak berusaha membujuk atau merayunya agar dia tidak marah lagi, hingga membuat pikiran Kenzo semakin tak karuan. Kenzo menganggap istrinya masih memberi harapan untuk sang mantan kekasih. Terbukti dari sikapnya yang masih akrab dengan Widya. Dasar Kenzo yang seperti anak kecil atau Pelangi yang tidak peka.
Sesampainya di apartemen, Pelangi memilih masuk ke kamar terlebih dulu untuk mandi. sedangkan Kenzo memesan makanan via online. Karena dia tidak mau membuat istrinya lelah.
Pelangi keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana pendek dan tanktop. Kemudian dengan handuk yang membungkus rambut basahnya. Kenzo yang sejak tadi duduk di bibir ranjang merasakan jakunnya naik turun saat melihat leher jenjang sang istri. Ingin sekali dirinya memberikan banyak tato di sana.
__ADS_1
Sementara itu Pelangi terlihat cuek saat melihat tatapan aneh suaminya. Bahkan dia tidak peduli dengan pakaiannya yang tanpa sadar membuat Kenzo on fire. Pelangi justru sengaja mengeringkan rambutnya sambil duduk di depan meja rias, otomatis Kenzo bisa melihatnya dengan jelas dan jarak yang cukup dekat.
Kenzo dengan cepat beranjak dari duduknya dan segera mandi. rasanya dia sangat tersiksa jika terus melihat tubuh istrinya yang begitu menggoda menurutnya.
Saat ini Pelangi sedang menyiapkan makan malam yang baru saja diantar oleh kurir. Kemudian dia duduk sambil menunggu Kenzo keluar dari kamar. tidak berapa lama Kenzo keluar dengan tubuh yang terlihat lebih segar.
Kini giliran Pelangi yang terpesona dengan penampilan suaminya. Pria itu mengenakan celana pendek warna hitam dan kaos warna hitam juga. dan jangan lupakan rambutnya yang masih sedikit basah. Entah kenapa malam ini Pelangi melihat aura yang sangat berbeda dari suaminya. Pelangi merutuki dirinya yang diam-diam memuja ketampanan sang suami.
“Gila!! Apakah aku memang benar-benar sudah jatuh cinta sedalam ini?” gumam pelangi sambil memperhatikan Kenzo.
“Makan tuh dilihat nasinya bukan lihat yang lain.” Celetuk Kenzo yang berhasil menyadarkan lamunan Pelangi.
Pelangi hanya berdecak kesal kemudian melanjutkan makannya. Kenzo diam-diam mengulum senyum. Amarahnya sudah menguap saat melihat Pelangi yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
Selesai makan, Pelangi masuk ke dalam kamar. Kenzo pun mengikutinya. Dia melihat istrinya baru saja keluar dari kamar mandi kemudian merebahkan tubuhnya di Kasur.
Kenzo yang sejak tadi menahan rasa sesak dalam celananya, kini sudah tidak tahan lagi. Dia segera mendekati sang istri.
Grep
Kenzo tiba-tiba memeluk tubuh Pelangi dengan sangat erat. Dia mengendus aroma wangi tubuh Pelangi hingga membuat si empu kegelian.
“Ken!! Jangan gini, geli.” Ucap Pelangi.
Cup
“Aku ingin mengulang malam panas itu.” Ucap Kenzo.
“Tapi ini masih sore.” Ucap Pelangi sambil melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 7.30 malam.
“Justru kita akan mempunyai banyak waktu jika memulai lebih awal.” Ucap Kenzo dan segera menyerang Pelangi dengan permainan yang sangat memabukkan.
.
.
__ADS_1
.
*TBC