
“Kenapa Kenzo tidak lagi mengurus perusahaan milik Tuan Richard?” gumam Barra dala hati.
Satu bulan terakhir ini setiap kali ada meeting dengan perusahaan yang dikelola kenzo, Barra tidak pernah bertemu langsung dengan Kenzo. hanya sekretarisnya saja. Widya pun hanya mengatakan kalau atasannya sedang sibuk, jadi menyerahkan semuanya padanya.
“Sepertinya ada yang tidak beres. Dan apa ini sebabnya Tuan Richard dulu mengamankan sebagian saham perusahaannya padaku?” tanya batin Barra yang begitu penasaran.
Tak lama kemudian, Barra menerima pesan dari istrinya kalau hari ini jadwalnya periksa kandungan. Seperti janjinya tadi padi, Carissa akan berangkat sendiri dan pulangnya Barra akan menjemputnya. Dan sebentar lagi Barra akan ke rumah sakit untuk menjemput istrinya.
Di rumah sakit.
“Terima kasih, dokter Nova. Kalau gitu saya pamit dulu.” Ucap Carissa.
“Panggil Nova saja, bukankah kita sudah bersahabat?” tanya Nova tersenyum.
“Baiklah, Nova. Ya sudah aku permisi dulu.” Ucap Carissa.
Setelah itu Carissa keluar dari ruangan Nova. Namun dia belum melihat tanda-tanda suaminya sudah datang menjemputnya. Akhirnya Carissa menunggu Barra di kursi tunggu pasien yang akan periksa kandungan.
“Berapa usia kandungan Nona? Sepertinya sudah mau melahirkan?” tanya seseorang.
“Oh, ini masih 6 bulan Nona. Saya hamil kembar, jadi terlihat sudah seperti mau melahirkan. Kalau Nona sudah berapa bulan?” tanya Carissa.
“Oo pantes saja terlihat besar. Usia kandungan saya 3 bulan.” Jawab wanita itu.
“Anda periksa sendiri? Kemana suami anda?” tanya Carissa.
Namun belum sempat wanita itu menjawab, Barra sudah datang menjemputnya. Terpaksa obrolan mereka terputus karena Barra langsung mengajaknya pulang. Dan tidak lama kemudian nama wanita itu dipanggil untuk segera masuk ruangan pemeriksaan.
***
Hari ini Kenzo datang ke kantor Papanya. Beberapa saat yang lalu, Mamanya menghubunginya agar datang ke kantor Papanya.
Hubungan Kenzo dan Papanya sedikit merenggang setelah apa yang terjadi dengan rumah tangganya. Namun Kenzo menyadari kalau semua itu adalah kesalahannya. Dan dia juga tidak tahu harus berbuat apalagi, mengingat titah sang Papa yang meminta segera menceraikan Pelangi.
“Ada apa Papa memanggil Kenzo?” tanya Kenzo yang saat ini sudah duduk di sofa ruang kerja Damian.
__ADS_1
Disana juga ada Rosalina. Kenzo tidak tahu pasti ada apa. Dan kenapa Mamanya juga ada disana.
“Papa mau kamu cepat mengatasi masalah kamu dan Pelangi.” Ucap Damian tegas.
“Tapi Pa, Kenzo tidak ingin menceraikan Pelangi.” Jawab Kenzo.
“Papa tidak mau menanggung malu yang kamu perbuat. Cepat nikahi wanita itu sebelum perutnya semakin besar dan diketahui banyak orang termasuk rekan kerja Papa.” Ucap Damian.
“Kamu tenang saja, biar Mama yang urus perceraian kalian.” Ucap Rosalina tiba-tiba.
“Jangan! Biar aku saja yang mengurusnya. Aku akan menyerahkan semuanya pada pengacara. Dan biar cepat selesai, kamu ataupun Pelangi tidak perlu hadir dalam persidangan. Kalian hanya menunggu hasilnya saja.” ucap Damian.
Rosalina terkejut sekaligus senang saat mendengar suaminya yang akan mengurus surat perceraian Kenzo dan Pelangi. Jadi dia tidak perlu susah-susah menyewa pengacara untuk mengurusnya.
“Tapi, Pa-“
“Sudah, jangan membantah lagi. Papa sangat kecewa sama kamu. Papa sangat bersalah pada Robert karena gagal menjaga amanatnya.” Ucap Damian sendu sambil mengingat mendiang sahabatnya.
***
Pelangi melihat ponselnya banyak sekali notif pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Sselain dari Kenzo, panggilan itu juga dari Omnya. Pelangi sengaja tidak memberitahukan masalahnya pada Richard. Dia tidak ingin membuat orang yang telah merawatnya sejak kecil itu ikut merasakan apa yang dia rasakan saat ini. jadi dia memilih menyelesaikannya sendiri.
“Maafkan Pelangi, Om!” gumam Pelangi saat melihat ponselnya berdering lagi.
Sementara itu Ruchard saat ini hanya bisa menghela nafas panjang saat panggilannya sejak kemarin diabaikan oleh Pelangi. Sebenarnya Richard sudah tahu masalah yang sedang dihadapi oleh Pelangi. Tapi dia tidak tahu kalau Pelangi sedang berbadan dua.
Richard menghubungi Pelangi karena dia sangat mengkhawatirkan keadaannya. Dia ingin meminta agar Pelangi datang ke London saja. Namun sampai saat ini tak kunjung mendapatkan balasan darinya.
“Sudahlah, Pa. Mama sangat yakin kalau Pelangin itu perempuan yang kuat. Dia pasti bisa menghadapi masalahnya sendiri.” Ucap Agatha menenangkan suaminya.
“Tapi bagaimanapun juga aku sangat mengkhawatirkan keadaannya Ma.” Jawab Richard.
“Apa perlu kita pulang ke Indonesia dan menjemputnya? Biar dia tinggal disini saja bersama kita.” Tanya Agatha.
Richard masih terdiam tidak menjawab ajakan istrinya untuk menjemput Pelangi. Dia teringat dengan pesan Damian agar tidak menjemput Pelangi ke London selama proses penceraiannya belum selesai. Richard kembali merasakan sakit hatinya saat mendengar kenyataan pahit bahwa Pelangi akan benar-benar bercerai dengan Kenzo.
__ADS_1
“Pa! Papa kenapa?” teriak Agatha saat melihat suaminya tiba-tiba memegang dadanya dengan nafas tersengal.
Agatha berteriak memanggil Leo untuk segera membawa suaminya ke rumah sakit. Dia sangat terkejut melihat keadaan suaminya yang tiba-tiba lemah seperti itu hanya memikirkan Pelangi.
Setelah Richard mendapat pertolongan, Agatha meraih ponselnya dan menghubungi Pelangi. Namun tetap sama, Pelangi tidak mengangkat panggilannya. Kemudian dia mengirim pesan pada Pelangi.
***
Sore harinya setelah mandi, Pelangi seperti biasa bersantai di teras rumah Alex. Dia membawa ponselnya berniat untuk memutar lagu untuk menghilangkan suntuknya. Namun tanpa sengaja dia melihat pesan dari tantenya. Karena penasaran, Pelangi membuka pesan itu.
Pelangi terkejut saat mendengar kabar dari tantenya yang mengatakan kalau Richard sedang dirawat di rumah sakit. Pelangi bingung harus berbuat apa. Bagaimana kalau dia pergi ke London dan Omnya tahu kalau dirinya sedang dalam proses cerai dengan Kenzo. bukankah itu akan semakin memperparah keadaan Omnya.
“Hei Bre!! Ternyata Lo disini? Gue cari nggak pernah kelihatan. Kenapa Lo bisa disini?” ucap Diva yang tiba-tiba datang.
“Eh, Div? oh itu, gue gue nunggu Alex. Sejak tadi dia nggak pulang-pulang. Aku udah capek nunggunya.” Ucap Pelangi berbohong.
Diva meneliti pakaian Pelangi. Pakaiannya santai dan tidak terlihat sedang menunggu Alex. Bahkan dia tidak memakai sandal atau sepatu. Diva semakin penasaran dengan Pelangi. Karena jujur saja dia tidak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi anatara kakak sepupunya dengan Pelangi.
“Oh, gitu. Eh Lo ko’ gemukan ya Bre?” tanya Diva tiba-tiba.
Pelangi bingung mau jawab apa. Dia berpikir keras bagaimana agar Diva tidak mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
“Masa sih, Div? biasa aja tuh, makan gue juga seperti biasa- huueek”
Tiba-tiba Pelangi menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangannya saat perutnya bergejolak dan siap untuk memuntahkan isinya. Dia ingin masuk ke rumah Alex tapi takut Diva semakin curiga.
“Bre, Lo sedang ham-“
“Ada apa Div Lo kesini?”
.
.
.
__ADS_1
*TBC